Sabtu, 12 April 2014

Pengertian, Sejarah, Ruang Lingkup, dan Metode Psikologi Islam

A. Pengertian Psikologi islam adalah : Corak psikologi berdasarkan citra manusia menurut ajaran islam untuk mempelajari pola keunikan dan pola perilaku manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar, dan alam kerohaniahan dengan tujuan mengembangkan kesehatan mental dan meningkatkan kualitas keberagamaan.
B. Sejarah lahirnya psikologi islam di indonesia
Di tengah isyu Islamisasi sains, Psikologi Islam menjadi bagian yang tak terpisahkan. Sebagai disiplin ilmu yang relatif muda, Psikologi Islam diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pembentukan pribadi manusia ideal (insan kamil). Karena kita sadari, Psikologi Barat (modern) ternyata tidak bisa memberikan jawaban secara lebih utuh terhadap problem-problem manusia yang begitu unik. Bagi Psikologi Barat, manusia hanya diletakkan dalam tinjauan yang bersifat egosentris, sedangkan manusia itu sendiri memiliki rangkaian kemanusiannya yang lebih lengkap, yaitu jasad (tubuh), ruh, nafs (jiwa) dan qalb (hati). Jika manusia hanya ditinjau dari satu sisi saja, maka sosok manusia tidak akan pernah terpotret secara utuh.
Oleh karena itu, kehadiran Psikologi Islam sebagai mazhab kelima menjadi keniscayaan. Terlepas masih pro-kontra penamaan Psikologi Islam maupun Psikologi Islami dan sebagainya, Psikologi Islam menjadi lahan ”ijtihad intelektual” yang tidak pernah habis. Bahwa Psikologi Islam dituduh sebagai tidak memiliki bangunan ilmiah, itu urusan yang menuduh. Bisa karena mereka memiliki tendensi tertentu atau mungkin belum mengkaji Islam secara lebih mendalam. Namun, yang jelas, Psikologi Islam mendasarkan kerangka teori dan bangunan penelitian didasarkan pada nilai-nilai Alquran, Hadits dan warisan (turats) intelektual Islam masa lalu.
Sejarah lahirnya psikologi islam diawali pada tahun 1976 yang berasal dari kesimpulan Prof. Kadir Yahya yang menyatakan bahwa psikologi itu suatu pedoman, tetapi tasawuf adalah ruhnya. Kemudian pada tahun 1979 Fuad Nashori mempresentasikan tentang “psikologi agamawi” yang mengintegrasikan konsep manusia dan psikologi tasawuf islam. Dan pada tahun 1992 beliau menulis di jurnal Ulumul Qur’an yang mengungkapkan tentang Islamisasi sains dan psikologi sebagai fokus telaah. Pada tahun 1994 diadakan simposium nasional psikologi islam di UMS dan telah menghasilkan rumusan tentang adanya Ilmu Psikologi Islam.
Konsep sains dan Agama
1.Similarisasi = menyamakan
ex. jiwa (science)
ruh (agama)
2.Paralelisasi = menganggap sejajar konsep sains dengan agama
3.Komplementasi = Saling mengisi danmemperkuat satu sama lain dan msih tetap mempertahankan prinsip masing-masing.
4.Komparasi = membandingkan
5.Induktifikasi = asumsi dasar dari teori ilmiah yang didukung penemuan empirik dilanjutkan teoritis abstrak ke arah pemikiran metafisis kemudian dihubungkan dengan prinsip agama.
6.Verifikasi = mengungkapkan hasil penelitian yang menunjang dan membuktikan kebenaran ayat-ayat al-qur’an.
C. Perbedaan Psikologi Barat dengan Psikologi Islam
1. jika Psikologi Barat merupakan produk pemikiran dan penelitian
empiric, Psikologi Islam , sumber utamanya adalah wahyu Kitab Suci Al
Qur’an, yakni apa kata kitab suci tentang jiwa, dengan asumsi bahwa
Alloh SWT sebagai pencipta manusia yang paling mengetahui anatomi
kejiwaan manusia. Selanjutnya penelitian empiric membantu menafsirkan
kitab suci.
2. Jika tujuan Psikologi Barat hanya tiga; menguraikan, meramalkan
dan mengendalikan tingkah laku, maka Psikologi Islam menambah dua
poin; yaitu membangun perilaku yang baik dan mendorong orang hingga
merasa dekat dengan Alloh SWT.
3. Jika konseling dalam Psikologi Barat hanya di sekitar masalah
sehat dan tidak sehat secara psikologis, konseling Psikologi Islam
menembus hingga bagaimana orang merasa hidupnya bermakna, benar dan
merasa dekat dengan Alloh SWT
D. Perilaku perspektip Psikologi Islam
Manusia adalah makhluk yang berfikir, merasa dan berkehendak, dan
kehendaknya dipandu oleh apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan.
Jiwa manusia bekerja secara sistemik, dan ditopang oleh lima
subsistem.
· Jiwa (disebut nafs) merupakan sisi dalam manusia, ia bagaikan
ruangan yang sangat luas dan didalamnya terdapat bagian-bagian
sebagai subsistemnya, terdiri dari `aql (mind), qalb (hati), bashirah
(hati nurani), syahwat (motiv) dan hawa (hawa nafsu). Tingkat
keluasan jiwa manusia berbeda-beda dipengaruhi oleh factor hereditas
dan proses interaksi psikologis sepanjang hidupnya.
1. Aqal adalah problem solving capacity, tugasnya berfikir. Akal
tidak bisa memutuskan kebenaran tapi ia bisa menemukan kebenaran.
Kebenaran intelektual sifatnya relatip
2. Qalb(hati), . merupakn alat untuk memahami realita,. Sesuatu yang
tidak rationil masih bisa difahami oleh qalb . Dalam system nafsani
qalb merupakan pusat pengendali sistem , yang memimpin kerja jiwa
manusia. Di dalam qalb ada berbagai kekuatan dan penyakit; seperti
iman, cinta dengki, keberanian, kemarahan, kesombongan, kedamaian,
kekufuran dan sebagainya. Qalb memiliki otoritas memutuskan sesuatu
tindakan, oleh karena itu segala sesuatu yang disadari oleh qalb
berimplikasi kepada pahala dan dosa. Apa yang sudah dilupakan oleh
qalb masuk kedalam memory nafs (alam bawah sadar), dan apa yang sudah
dilupakan terkadang muncul dalam mimpi. Sesuai dengan namanya qalb,
ia sering tidak konsisten.
3. Bashirah, adalah pandangan mata batin sebagai lawan dari pandangan
mata kepala. Berbeda dengan qalb yang tidak konsisten, bashirah
selalu konsisten kepada kebenaran dan kejujuran. Ia tidak bisa diajak
kompromi untuk menyimpang dari kebenaran. Bashirah disebut juga
sebagai nuraniy, dari kata nur, .Bashirah adalah cahaya ketuhanan
yang ada dalam hati, nurun yaqdzifuhullah fi al qalb. Interospeksi,
tangis kesadaran, relegiusitas, god spot,bersumber dari sini.
4. Syahwat adalah motiv kepada tingkahlaku. Semua manusia memiliki
syahwat terhadap lawan jenis, bangga terhadap anak2, menyukai benda
berharga, kendaraan bagus, ternak dan kebun. Syahwat adalah sesuatu
yang manusiawi dan netral.
5. Hawa adalah dorongan kepada obyek yang rendah dan tercela.
Perilaku kejahatan, marah, frustrasi, sombong, perbuatan tidak
bertanggung jawab, korupsi, sewenang-wenang dan sebagainya bersumber
dari hawa. Karakteristik hawa adalah ingin segera menikmati apa yang
diinginkan tanpa mempedulikan nilai-nilai moralitas.
· Orang yang ke lima subsistemnya normal, maka perilakunya
proporsional.
· Orang yang lebih mengikuti akalnya, perilakunya sangat rationil
tapi hidupnya cenderung kering,
· orang yang lebih menggunakan hatinya, hidupnya tenang meski
terkadang tidak rationil
· orang yang lebih menggunakan bashirahnya pilihannya dijamin tepat,
perilakunya dijamin benar secara vertical maupun horizontal
· Orang yang lebih mengikuti syahwatnya cenderung konsumtip dan
hedonis dalam hidupnya.
· Orang yang lebih mengikuti hawa nafsunya cenderung destruktip bagi
dirinya dan orang lain.
E. Problematika Psikologi Islam
Perlu disadari, bahwa perjuangan Psikologi Islam di Indonesia ternyata tidak semudah yang dicita-citakan. Sejumlah problematika baik pada tataran teoritik, aplikatif maupun kelembagaannya menunggu di hadapan kita. Beberapa problematika yang bisa penulis kemukakan adalah sebagai berikut:
Pertama, adanya problem metodologis yang sampai saat ini belum sepenuhnya disepakati. Hal ini perlu disikapi karena salah satu persyaratan membangun ilmu pengetahuan adalah akurasi metodologis. Secara aksiologis, semua pihak sepakat akan artinya Psikologi Islam dalam menuntaskan permasalahan umat, karena Psikologi Barat kontemporer selama ini ternyata tidak sepenuhnya mampu menjawabnya. Namun secara epistimologis, dikotomi pola pikir masih tampak disana-sini. Sarjana berbasis studi Islam misalnya, masih banyak berkutat pada pendekatan normatif, sedangkan sarjana berbasis Psikologi Barat ketika mengintegrasikan dengan Islam banyak yang berkutat pada pemahaman Psikologi Baratnya.
Kedua, integrasi psikologi dengan Islam masih bertaraf teoritik dan belum pada tataran aplikatif. Hal itu terlihat pada bidang-bidang penelitian dan diagnosis masalah-masalah psikologis. Dalam kasus penelitian yang dilakukan oleh beberapa sarjana muslim, pada tingkat kerangka teori, mereka mencoba mengintegrasikan antara teori-teori psikologi Barat dengan Islam. Namun, ketika membuat instrumen penelitiannya, mereka hanya men-download dari hasil penelitian sebelumnya yang dianggap permanen, sehingga antara kerangka teorinya tidak memiliki koneksitas dengan intrumen penelitian lainnya.
Ketiga, masalah diagnosis persoalan psikologis. Sampai saat ini, Psikologi Islam belum memiliki alat tes dalam mengukur kriteria-kriteria tertentu. Jika Psikologi Islam dipandang sebagai ilmu praktis, maka kedudukan alat tes menjadi tolak ukur keberadaannya. Ironisnya, saat ini para psikolog masih berkutat pada penggunaan alat-alat tes yang diadaptasi dari teori-teori Barat tanpa mempertanyakan validitas teorinya. Kita harus berupaya mengkonstruksi alat tes sendiri yang benar-benar Islami.
Keempat, dalam training psikologis yang dilakukan oleh praktisi muslim, kalau boleh dijustifikasi sebagai produk Psikologi Islam, sesungguhnya telah menunjukkan prestasi yang spektakuler. Sebut saja Ary Ginanjar Agustian dengan ESQ (Emosional Spiritual Quetiont) nya. Training ini bertujuan untuk pengembangan diri dalam membangun mentalitas ummat, bukan pada pendekatan simptomatis yang menterapi gangguan kejiwaan. Sebagai entrepreneur, Ary telah menunjukkan keunggulan training yang diturunkan dari nilai-nilai Islam. Lembaganya memiliki jaringan, yang tidak saja pada kalangan akademisi, tetapi juga pada kalangan eksekutif. Dalam kasus yang hampir serupa, terapi-terapi ruqyah telah menjadi psikoterapi alternatif bagi umat Islam. Tujuan terapi ini adalah untuk menghilangkan gangguan kejiwaan pada umat karena gangguan sihir, makhluk halus atau lainnya. Namun, jika hal ini ditransformasikan di lingkungan akademis, maka tidak terelakkan klaim bahwa kampus menjadi praktek perdukunan. Padahal pada kenyataannya, terapi ruqyah ternyata memberikan solusi bagi umat yang tidak mampu dilakukan oleh para psikolog.
Kelima, kerancuan kurikulum Psikologi Islam di perguruan tinggi. Penyajian kurikulum Psikologi Islam yang ditawarkan oleh Perguruan Tinggi Agama Islam(PTAI) masih bersifat sparatis. Artinya, psikologi Islam masih dipahami sebagai matakuliah yang memiliki bobot SKS seperti mata kuliah yang lain. Idealnya, seluruh mata kuliah kepsikologian seharusnya mengintegrasi pada wawasan keislaman, sehingga tidak terjadi pengulangan dan tumpang tindih pada pokok-pokok bahasannya. Untuk pokok bahasan kepribadian misalnya, tidak perlu memasarkan dua mata kuliah seperti psikologi kepribadian Barat dengan psikologi kepribadian Islam, tetapi cukup dalam satu mata kuliah, psikologi kepribadian yang keduanya termuat di dalamnya.
Masalah-masalah tersebut perlu dipecahkan segera, karena transformasi teori Psikologi Islam sesungguhnya bermula dari kerangka kurikulum yang dibangun dalam suatu lembaga perguruan tinggi. Usaha-usaha untuk mendirikan fakultas atau program studi psikologi Islam harus tetap dilanjutkan, sekalipun sering mendapatkan kendala politis.
Kendatipun masih banyak berbagai kelemahan dan kekurangan, sebagai disiplin ilmu yang relatif muda, tapi telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Untuk itu, prospek Psikologi Islam ke depan menjadi tanggung jawab kita bersama seperti ilmuan psikologi, praktisi, peneliti, institusi dan peminat psikologi Islam untuk menciptakan gerakan massif memperjuangkan tegaknya Psikologi Islam sebagai disiplin ilmu yang kokoh, baik di Indonesia maupun dunia internasional. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan bagi hambaNya dari setiap niat yang tulus dan mulia
F. Tugas dan fungsi psikologi islam
Tugas : mengarahkan manusia ke arah ketaatan kepada Allah SWT
Fungsi : mengembangkan kesehatan mental
meningkatkam keimanan, ketaqwaan kepada Allah SWT
“Manusia yang sejahtera adalah manusia yang terbebas dari gangguan jiwa, hatinya tenang dan bahagia.”A. Pengertian
Psikologi islam adalah : Corak psikologi berdasarkan citra manusia menurut ajaran islam untuk mempelajari pola keunikan dan pola perilaku manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar, dan alam kerohaniahan dengan tujuan mengembangkan kesehatan mental dan meningkatkan kualitas keberagamaan.
B. Sejarah lahirnya psikologi islam di indonesia
Di tengah isyu Islamisasi sains, Psikologi Islam menjadi bagian yang tak terpisahkan. Sebagai disiplin ilmu yang relatif muda, Psikologi Islam diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pembentukan pribadi manusia ideal (insan kamil). Karena kita sadari, Psikologi Barat (modern) ternyata tidak bisa memberikan jawaban secara lebih utuh terhadap problem-problem manusia yang begitu unik. Bagi Psikologi Barat, manusia hanya diletakkan dalam tinjauan yang bersifat egosentris, sedangkan manusia itu sendiri memiliki rangkaian kemanusiannya yang lebih lengkap, yaitu jasad (tubuh), ruh, nafs (jiwa) dan qalb (hati). Jika manusia hanya ditinjau dari satu sisi saja, maka sosok manusia tidak akan pernah terpotret secara utuh.
Oleh karena itu, kehadiran Psikologi Islam sebagai mazhab kelima menjadi keniscayaan. Terlepas masih pro-kontra penamaan Psikologi Islam maupun Psikologi Islami dan sebagainya, Psikologi Islam menjadi lahan ”ijtihad intelektual” yang tidak pernah habis. Bahwa Psikologi Islam dituduh sebagai tidak memiliki bangunan ilmiah, itu urusan yang menuduh. Bisa karena mereka memiliki tendensi tertentu atau mungkin belum mengkaji Islam secara lebih mendalam. Namun, yang jelas, Psikologi Islam mendasarkan kerangka teori dan bangunan penelitian didasarkan pada nilai-nilai Alquran, Hadits dan warisan (turats) intelektual Islam masa lalu.
Sejarah lahirnya psikologi islam diawali pada tahun 1976 yang berasal dari kesimpulan Prof. Kadir Yahya yang menyatakan bahwa psikologi itu suatu pedoman, tetapi tasawuf adalah ruhnya. Kemudian pada tahun 1979 Fuad Nashori mempresentasikan tentang “psikologi agamawi” yang mengintegrasikan konsep manusia dan psikologi tasawuf islam. Dan pada tahun 1992 beliau menulis di jurnal Ulumul Qur’an yang mengungkapkan tentang Islamisasi sains dan psikologi sebagai fokus telaah. Pada tahun 1994 diadakan simposium nasional psikologi islam di UMS dan telah menghasilkan rumusan tentang adanya Ilmu Psikologi Islam.
Konsep sains dan Agama
1.Similarisasi = menyamakan
ex. jiwa (science)
ruh (agama)
2.Paralelisasi = menganggap sejajar konsep sains dengan agama
3.Komplementasi = Saling mengisi danmemperkuat satu sama lain dan msih tetap mempertahankan prinsip masing-masing.
4.Komparasi = membandingkan
5.Induktifikasi = asumsi dasar dari teori ilmiah yang didukung penemuan empirik dilanjutkan teoritis abstrak ke arah pemikiran metafisis kemudian dihubungkan dengan prinsip agama.
6.Verifikasi = mengungkapkan hasil penelitian yang menunjang dan membuktikan kebenaran ayat-ayat al-qur’an.
C. Perbedaan Psikologi Barat dengan Psikologi Islam
1. jika Psikologi Barat merupakan produk pemikiran dan penelitian
empiric, Psikologi Islam , sumber utamanya adalah wahyu Kitab Suci Al
Qur’an, yakni apa kata kitab suci tentang jiwa, dengan asumsi bahwa
Alloh SWT sebagai pencipta manusia yang paling mengetahui anatomi
kejiwaan manusia. Selanjutnya penelitian empiric membantu menafsirkan
kitab suci.
2. Jika tujuan Psikologi Barat hanya tiga; menguraikan, meramalkan
dan mengendalikan tingkah laku, maka Psikologi Islam menambah dua
poin; yaitu membangun perilaku yang baik dan mendorong orang hingga
merasa dekat dengan Alloh SWT.
3. Jika konseling dalam Psikologi Barat hanya di sekitar masalah
sehat dan tidak sehat secara psikologis, konseling Psikologi Islam
menembus hingga bagaimana orang merasa hidupnya bermakna, benar dan
merasa dekat dengan Alloh SWT
D. Perilaku perspektip Psikologi Islam
Manusia adalah makhluk yang berfikir, merasa dan berkehendak, dan
kehendaknya dipandu oleh apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan.
Jiwa manusia bekerja secara sistemik, dan ditopang oleh lima
subsistem.
· Jiwa (disebut nafs) merupakan sisi dalam manusia, ia bagaikan
ruangan yang sangat luas dan didalamnya terdapat bagian-bagian
sebagai subsistemnya, terdiri dari `aql (mind), qalb (hati), bashirah
(hati nurani), syahwat (motiv) dan hawa (hawa nafsu). Tingkat
keluasan jiwa manusia berbeda-beda dipengaruhi oleh factor hereditas
dan proses interaksi psikologis sepanjang hidupnya.
1. Aqal adalah problem solving capacity, tugasnya berfikir. Akal
tidak bisa memutuskan kebenaran tapi ia bisa menemukan kebenaran.
Kebenaran intelektual sifatnya relatip
2. Qalb(hati), . merupakn alat untuk memahami realita,. Sesuatu yang
tidak rationil masih bisa difahami oleh qalb . Dalam system nafsani
qalb merupakan pusat pengendali sistem , yang memimpin kerja jiwa
manusia. Di dalam qalb ada berbagai kekuatan dan penyakit; seperti
iman, cinta dengki, keberanian, kemarahan, kesombongan, kedamaian,
kekufuran dan sebagainya. Qalb memiliki otoritas memutuskan sesuatu
tindakan, oleh karena itu segala sesuatu yang disadari oleh qalb
berimplikasi kepada pahala dan dosa. Apa yang sudah dilupakan oleh
qalb masuk kedalam memory nafs (alam bawah sadar), dan apa yang sudah
dilupakan terkadang muncul dalam mimpi. Sesuai dengan namanya qalb,
ia sering tidak konsisten.
3. Bashirah, adalah pandangan mata batin sebagai lawan dari pandangan
mata kepala. Berbeda dengan qalb yang tidak konsisten, bashirah
selalu konsisten kepada kebenaran dan kejujuran. Ia tidak bisa diajak
kompromi untuk menyimpang dari kebenaran. Bashirah disebut juga
sebagai nuraniy, dari kata nur, .Bashirah adalah cahaya ketuhanan
yang ada dalam hati, nurun yaqdzifuhullah fi al qalb. Interospeksi,
tangis kesadaran, relegiusitas, god spot,bersumber dari sini.
4. Syahwat adalah motiv kepada tingkahlaku. Semua manusia memiliki
syahwat terhadap lawan jenis, bangga terhadap anak2, menyukai benda
berharga, kendaraan bagus, ternak dan kebun. Syahwat adalah sesuatu
yang manusiawi dan netral.
5. Hawa adalah dorongan kepada obyek yang rendah dan tercela.
Perilaku kejahatan, marah, frustrasi, sombong, perbuatan tidak
bertanggung jawab, korupsi, sewenang-wenang dan sebagainya bersumber
dari hawa. Karakteristik hawa adalah ingin segera menikmati apa yang
diinginkan tanpa mempedulikan nilai-nilai moralitas.
· Orang yang ke lima subsistemnya normal, maka perilakunya
proporsional.
· Orang yang lebih mengikuti akalnya, perilakunya sangat rationil
tapi hidupnya cenderung kering,
· orang yang lebih menggunakan hatinya, hidupnya tenang meski
terkadang tidak rationil
· orang yang lebih menggunakan bashirahnya pilihannya dijamin tepat,
perilakunya dijamin benar secara vertical maupun horizontal
· Orang yang lebih mengikuti syahwatnya cenderung konsumtip dan
hedonis dalam hidupnya.
· Orang yang lebih mengikuti hawa nafsunya cenderung destruktip bagi
dirinya dan orang lain.
E. Problematika Psikologi Islam
Perlu disadari, bahwa perjuangan Psikologi Islam di Indonesia ternyata tidak semudah yang dicita-citakan. Sejumlah problematika baik pada tataran teoritik, aplikatif maupun kelembagaannya menunggu di hadapan kita. Beberapa problematika yang bisa penulis kemukakan adalah sebagai berikut:
Pertama, adanya problem metodologis yang sampai saat ini belum sepenuhnya disepakati. Hal ini perlu disikapi karena salah satu persyaratan membangun ilmu pengetahuan adalah akurasi metodologis. Secara aksiologis, semua pihak sepakat akan artinya Psikologi Islam dalam menuntaskan permasalahan umat, karena Psikologi Barat kontemporer selama ini ternyata tidak sepenuhnya mampu menjawabnya. Namun secara epistimologis, dikotomi pola pikir masih tampak disana-sini. Sarjana berbasis studi Islam misalnya, masih banyak berkutat pada pendekatan normatif, sedangkan sarjana berbasis Psikologi Barat ketika mengintegrasikan dengan Islam banyak yang berkutat pada pemahaman Psikologi Baratnya.
Kedua, integrasi psikologi dengan Islam masih bertaraf teoritik dan belum pada tataran aplikatif. Hal itu terlihat pada bidang-bidang penelitian dan diagnosis masalah-masalah psikologis. Dalam kasus penelitian yang dilakukan oleh beberapa sarjana muslim, pada tingkat kerangka teori, mereka mencoba mengintegrasikan antara teori-teori psikologi Barat dengan Islam. Namun, ketika membuat instrumen penelitiannya, mereka hanya men-download dari hasil penelitian sebelumnya yang dianggap permanen, sehingga antara kerangka teorinya tidak memiliki koneksitas dengan intrumen penelitian lainnya.
Ketiga, masalah diagnosis persoalan psikologis. Sampai saat ini, Psikologi Islam belum memiliki alat tes dalam mengukur kriteria-kriteria tertentu. Jika Psikologi Islam dipandang sebagai ilmu praktis, maka kedudukan alat tes menjadi tolak ukur keberadaannya. Ironisnya, saat ini para psikolog masih berkutat pada penggunaan alat-alat tes yang diadaptasi dari teori-teori Barat tanpa mempertanyakan validitas teorinya. Kita harus berupaya mengkonstruksi alat tes sendiri yang benar-benar Islami.
Keempat, dalam training psikologis yang dilakukan oleh praktisi muslim, kalau boleh dijustifikasi sebagai produk Psikologi Islam, sesungguhnya telah menunjukkan prestasi yang spektakuler. Sebut saja Ary Ginanjar Agustian dengan ESQ (Emosional Spiritual Quetiont) nya. Training ini bertujuan untuk pengembangan diri dalam membangun mentalitas ummat, bukan pada pendekatan simptomatis yang menterapi gangguan kejiwaan. Sebagai entrepreneur, Ary telah menunjukkan keunggulan training yang diturunkan dari nilai-nilai Islam. Lembaganya memiliki jaringan, yang tidak saja pada kalangan akademisi, tetapi juga pada kalangan eksekutif. Dalam kasus yang hampir serupa, terapi-terapi ruqyah telah menjadi psikoterapi alternatif bagi umat Islam. Tujuan terapi ini adalah untuk menghilangkan gangguan kejiwaan pada umat karena gangguan sihir, makhluk halus atau lainnya. Namun, jika hal ini ditransformasikan di lingkungan akademis, maka tidak terelakkan klaim bahwa kampus menjadi praktek perdukunan. Padahal pada kenyataannya, terapi ruqyah ternyata memberikan solusi bagi umat yang tidak mampu dilakukan oleh para psikolog.
Kelima, kerancuan kurikulum Psikologi Islam di perguruan tinggi. Penyajian kurikulum Psikologi Islam yang ditawarkan oleh Perguruan Tinggi Agama Islam(PTAI) masih bersifat sparatis. Artinya, psikologi Islam masih dipahami sebagai matakuliah yang memiliki bobot SKS seperti mata kuliah yang lain. Idealnya, seluruh mata kuliah kepsikologian seharusnya mengintegrasi pada wawasan keislaman, sehingga tidak terjadi pengulangan dan tumpang tindih pada pokok-pokok bahasannya. Untuk pokok bahasan kepribadian misalnya, tidak perlu memasarkan dua mata kuliah seperti psikologi kepribadian Barat dengan psikologi kepribadian Islam, tetapi cukup dalam satu mata kuliah, psikologi kepribadian yang keduanya termuat di dalamnya.
Masalah-masalah tersebut perlu dipecahkan segera, karena transformasi teori Psikologi Islam sesungguhnya bermula dari kerangka kurikulum yang dibangun dalam suatu lembaga perguruan tinggi. Usaha-usaha untuk mendirikan fakultas atau program studi psikologi Islam harus tetap dilanjutkan, sekalipun sering mendapatkan kendala politis.
Kendatipun masih banyak berbagai kelemahan dan kekurangan, sebagai disiplin ilmu yang relatif muda, tapi telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Untuk itu, prospek Psikologi Islam ke depan menjadi tanggung jawab kita bersama seperti ilmuan psikologi, praktisi, peneliti, institusi dan peminat psikologi Islam untuk menciptakan gerakan massif memperjuangkan tegaknya Psikologi Islam sebagai disiplin ilmu yang kokoh, baik di Indonesia maupun dunia internasional. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan bagi hambaNya dari setiap niat yang tulus dan mulia
F. Tugas dan fungsi psikologi islam
Tugas : mengarahkan manusia ke arah ketaatan kepada Allah SWT
Fungsi : mengembangkan kesehatan mental
meningkatkam keimanan, ketaqwaan kepada Allah SWT
“Manusia yang sejahtera adalah manusia yang terbebas dari gangguan jiwa, hatinya tenang dan bahagia.”