Kamis, 26 September 2013

Dasar Pendidikan Agama Islam

Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Indonesia untuk sekolah umum mempunyai dasar- dasar yang cukup kuat. Dasar tersebut dapat ditinjau dari segi yaitu: yuridis, Hukum, Religius, dan Sosial psychologis.
1. Dasar Yuridis.
Yaitu: dasar-dasar pelaksanaan pendidikan agama Islam yang bersumber dari peraturan perundang-undangan yang secara langsung ataupun secara tidak langsung dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan pendidikan agama di sekolah-sekolah atau pun di lembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia.
2. Dasar ideal,
Yaitu: dasar yang bersumber dari falsafah Negara Pancasila, dimana sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini mengandung pengertian bahwa seluruh bangsa Indonesia harus percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, atau tegasnya harus beragama. Di dalam ketetapan MPR Nomor II/MPR/1978 tentang P.4 (Eka Prasetia Pancakarsa) disebutkan bahwa:
Dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan oleh karenanya manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dam kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Dasar Religius
Yaitu : dasar pelaksanaan pendidikan agama di SMA yang bersumber dari ajaran agama, dalam hal ini ajaran agama Islam. Dimana dasar utama Pendidikan Agama Islam adalah Al-qur’an yang menjadi pedoman utama hidup manusia dan tidak diragukan lagi akan kebenarannya, dan dasar yang kedua adalah Al- Hadist/ Sunnah Rasulullah SAW.
Dalam ayat Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah didapati petunjuk tentang pelaksanaan pendidikan agama Islam antara lain:
1) Dalam surat At Tahrim ayat 6 berbunyi
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
2) Dalam surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
Terjemahnya:
Dan hendaknya di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menerus kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar: merekalah orang-orang yang beruntung.
Di dalam Hadist Rasulullah SAW. didapati juga petunjuk tentang pelaksanaan tersebut, antara lain di sebutkan dalam kisah
رَحْمَةُ اللهِ عَلىَ خَلَفَا ِفىْ قِـيْلَ : وَمَنْ خُلَفَاؤُكَ ، قَالَ : الَّذِيْنَ يُحْيُوْنَ سُنَّـنِى وَيُعَلِّى نَـهَا عِبَادَ اللهِ
Artinya :
Rahmat Allah bagi seluruh pengganti-pengganti Ku Beliau SAW. Di tanya: siapakah pengganti-pengganti Tuan itu? Beliau SAW. Bersabda: mereka itu ialah orang-orang yang menghidupkan SunnahKu dan mengajarkan kepada hamba Allah (HR. Ibnu Adlbbarr).
Dari dasar-dasar yang termaktub di dalam Al-quran dan Al-Hadist dapat diartikan bahwa agama Islam mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan Pendidikan Agama Islam bagi dirinya ataupun bagi orang lain agar agama Islam tersebut dapat tetap eksis di atas bumi ini. Dan perintah pelaksanaan Pendidikan Agama Islam tersebut merupakan perintah dari Allah SWT.
4. Dasar social
Dalam kehidupan sehari-hari membutuhkan kepada bimbingan dan petunjuk yang benar, yang bernilai mutlak untuk kebahagiaan hidup di dunia dan di alam sesudah mati. Suatu yang mutlak pula, yaitu Allah SWT. Tuhan seru sekalian alam. Untuk itulah yang bersifat pengasih dan penyayang memberikan suatu anugrah kepada manusia yang beragama.
Salah satu masalah yang dihadapi oleh dunia pendidikan agama Islam saat ini, adalah bagaimana teknik penyampaian materi pelajaran agama tersebut kepada peserta didik sehingga memperoleh hasil semaksimal mungkin.
Apabila kita perhatikan dalam proses perkembangan Pendidikan Agama Islam, salah satu kendala yang paling menonjol dalam pelaksanaan pendidikan agama ialah masalah metodologi. Metode merupakan bagian yang sangat penting dan tidak terpisahkan dari semua komponen pendidikan lainnya, seperti tujuan, materi, evaluasi, situasi dan lain-lain. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan Pendidikan Agama diperlukan suatu pengetahuan tentang metodologi Pendidikan Agama, dengan tujuan agar setiap pendidik agama dapat memperoleh pengertian dan kemampuan sebagai pendidik yang professional
Penggunaan metode yang tepat akan membuat proses pendidikan akan berjalan dengan baik dan menyenangkan, Metode yang baik adalah metode yang dapat memahami anak baik dari segi psikologis maupun paedogogis atau pun aspek lainnya yang terus di olah dan di kembangkan.
Agar proses pendidikan dapat berjalan dengan menyenangkan setiap pendidik harus dapat menciptakan suatu kondiisi yang memudahkan pencapaian tujuan dari pendidikan tersebut, melalui motifasi ataupun menarik minat peserta didik. Karena yang harus mencapai tujuan itu siswa, maka ia harus berminat untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk menarik minat itulah seorang guru harus menguasai dan menerapkan metodologi pembelajaran yang sesuai.
Metodologi merupakan upaya sistematis untuk mencapai tujuan, oleh karena itu diperlukan pengetahuan tentang tujuan itu sendiri. Tujuan harus dirumuskan dengan sejelas-jelasnya sebelum seseorang menentukan dan memilih metode pembelajaran yang akan dipergunakan. Karena kekaburan dalam tujuan yang akan dicapai, menyebabkan kesulitan dalam memilih dan menentukan metode yang tepat.
Setiap mata pelajaran memiliki kekhususan-kekhususan tersendiri dalam bahan atau materi pelajaran, baik sifat maupun tujuan, sehingga metode yang digunakan pun berlainan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.
Misalnya dari segi tujuan dan sifat pelajaran tauhid yang membicarakan tentang masalah keimanan, tentu lebih bersifat filosofis, dari pada pelajaran fiqih, seperti tentang shalat umpamanya yang bersifat praktis dan menekankan pada aspek keterampilan. Oleh karena itu,cara penyajiannya atau metode yang dipakai harus berbeda.
Selain dari kekhususan sifat dan tujuan materi pelajaran yang dapat membedakan dalam penggunaan metode, juga faktor tingkat usia, tingkat kemampuan berpikir, jenis lembaga pendidikan, perbedaan pribadiserta kemampuan guru , dan sarana atau fasilitas yang berbeda baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Hal ini semua sangat mempengaruhi guru dalam memilih metode yang tepat dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.