Kamis, 26 September 2013

Pola Dasar Pendidikan Agama Islam

Pola Dasar Pendidikan Agama Islam
            Pendidikan Agama Islam yang dilaksanakan dalam suatu sistem memberikan kemungkinan berprosesnya bagian-bagian menuju ke arah tujuan yang ditetapkan sesuai dengan ajaran Islam. Jalannya proses itu bersifat konsisten dan konstan (tetap) bila dilandasi pola dasar pendidikan yang mampu menjamin terwujudnya tujuan Pendidikan Agama Islam.
            Dengan demikian, suatu sistem Pendidikan Agama Islam harus berkembang dari pola yang membentuknya menjadi pendidikan yang bercorak dan berwatak Islam. Sifat konsisten dan konstan dari proses pendidikan tersebut tidak akan keluar dari pola dasarnya sehingga hasilnya juga sama dengan pola dasar tersebut.
            Meletakkan pola dasar Pendidikan Agama Islam berarti harus meletakkan nili-nilai dasar agama yang memberikan ruang lingkup berkembangnya proses pendidikan Islam dalam rangka mencapai tujuan. Bukannya nilai-nilai dasar yang dibentuk itu mempunyai kecendrungan untuk menghambat atau menghalangi proses tersebut.
            Untuk tujuan itu harus memahami falsafah Pendidikan Agama Islam, karena ia menjadi dasar dan sekaligus mengarahkan tujuan. Oleh karena menyangkut permasalahan falsafah maka dalam pola dasar Pendidikan Agama Islam itu mengandung pandangan Islam tentang prinsip-prinsip kehidupan alam raya, prinsip-prinsip kehidupan manusia sebagai pribadi dan sebagai makhluk sosial.
            Ada tiga prinsip yang akan melibatkan pembaharuan secara mendalam menurut istilah teknis filosofis sebagai berikut :
1. Ontologi               : Yang membahas asal-usul kejadian alam nyata dan di balik alam nyata.
2. Epistemologi        : Yang membahas tentang kemungkinan manusia mengetahui gejala alam.
3. Axiologi               : Yang membahas tentang sistem nilai-nilai dan teori nilai atau yang disebut dengan etika.
            Dari ketiga unsur di atas dapat disimpulkan sekaligus menjadi pola dasar Pendidikan Agama Islam :
1.      Islam memandang bahwa segala penomena alam ini adalah hasil ciptaan Allah dan tunduk pada hukum-hukum yang mekanismenya sebagai sunnatullah. Oleh karena itu manusia harus dididik agar mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai dari hukum Allah itu. Dia harus mampu mengorientasikan hidupnya kepada kekuatan atau kekuasaan yang berada dalam kehidupan nyata melalui tingkah laku. Atas dasar ini, manusia wajib mendasari kehidupannya dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Menciptakan. Keimaan ini diperteguh dalam hati dan dinyatakan dalam lisan difungsionalkan dengan perbuatan.
2.      Islam memandang manusia sebagai makhluk yang paling mulia karena memiliki harkat dan martabat yang terbentuk dari kemampuan-kemampuan kejiwaannya. Akal budinya menjadi tenaga penggerak yang membedakan dari makhluk lainnya.
            Manusia menurut pandangan Islam diletakkan pada posisi khalifah di muka bumi ini. Sebagai khalifah manusia diberi kelengkapan hidup rohaniyah dan jasmaniyah yang memungkinkan dirinya melaksanakan tugas kekhalifahannya yaitu menguasai, mengeksploitasi dan mengolah serta memanfaatkan hasil-hasilnya bagi kepentingan hidup ubudiyahnya.
            Allah sendiri pernah menunjukkan bahwa harkat dan martabat manusia sedikit lebih tinggi dari pada malaikat, karena dengan kemampuan yang diberikan oleh Tuhan, ia mampu belajar dan memahami nama-nama benda yang menjadi sumber utama dari perkembangan ilmu pengetahuannya lebih lanjut.
            Manusia yang dapat mewarisi bumi ini hanyalah yang berwatak shaleh (yang berjiwa membangun) saja. Oleh karena itu dalam pola dasar harus dinyatakan tentang nilai-nilai apa sajakah yang dapat membentuk manusia menjadi saleh sehingga mampu menjadi khalifah di muka bumi ini.
3.      Prinsip selanjutnya adalah pandangan bahwa manusia bukan saja makhluk pribadi, melainkan juga makhluk sosial, yang harus hidup sebagai anggota masyarakat sesamanya. Manusia harus mampu menjalin hubungan dengan manusia lainnya dalam suatu ikatan kewargaan yang satu, karena umat manusia adalah umat yang satu yang dipersatukan dengan Ukhuwwah Islamiyah.
            Waktu sosial yang dibentuk oleh Allah dalam pribadi manusia adalah apa yang disebut dalam psikologi sosial dengan homososius yang memiliki instink Aregarious (insting suka berkumpul).
            Sepanjang sejarah sejak awal dalam pemikiran Islam terlihat dua pola yang saling mengembangkan diri, dan mempunyai pengaruh besar dalam pengembangan pola pendidikan umat Islam. Dari pola pemikiran yang bersifat tradisional, yang selalu mensadarkan diri pada wahyu, yang kemudian berkembang menjadi pola pemikiran sufistik dan mengembangkan pola pendidikan sufi. Pola pendidikan ini sangat memperhatikan aspek-aspek bathiniah dan akhlak atau budi pekerti manusia. Sedangkan dari pola pemikiran, menimbulkan pola pendidikan empiris rasional. Pola pendidikan bentuk kedua ini sangat memperhatikan pendidikan intelektual dan penguasaan material.
            Pada masa jayanya pendidikan Agama Islam, kedua pola pendidikan tersebut menghiasi dunia Islam, sebagai pola yang berpadu dan saling melengkapi. Setelah pola pemikiran rasioanl diambil alih pengembangannya oleh dunia barat, (eropa) dan dunia Islampun meninggalkan pola pemikiran tersebut, maka dalam dunia Islam tinggal pola pemikiran sufistik, yang sifatnya memang sangat memperhatikan kehidupan bathin.
            Sehingga mengabaikan perkembangan dunia material. Pola pendidikan yang dikembangkan pun tidak lagi meghasilkan perkembangan budaya Islam yang bersifat material. Dari aspek inilah dikatakan pendidikan dalam kebudayaan Islam mengalami kemunduran, atau setidak-tidaknya dapat dikatakan pendidikan Islam mengalami kemandegan.
            M. Syarif mengungkapkan gejala kemunduran pendidikan dan kebudayaan Islam tersebut sebagai berikut. Telah kita saksikan bahwa pikiran Islam telah melaksanakan kemajuan yang hebat dalam jangka waktu yang terletak di antara abad ke VIII dan abad ke XIII M, kemudian kita memperhatikan hasil-hasil yang diberikan kaum muslimin kepada eropa sebagai satu pembekalan yang matang untuk menjadi dasar pokok dalam mengadakan pembangkitan eropa (Renaissanse).
            Di antara sebab-sebab lemahnya pikiran Islam tersebut antara lain dilukiskan sebagai berikut :[12]
1.      Telah berlebihan filsafat Islam (yang bercorak sufistik) yang dimasukkan oleh Al-Ghazali dalam alam Islami di timur, dan berlebihan pula Ibnu Rusdy dalam memasukkan filsafat Islamnya (yang bercorak rasionalistis) ke dunia Islam di barat. Al-Ghazali dengan filsafat Islamnya menuju ke arah bidang rohaniah hingga menghilang ia ke dalam mega alam tasauf, sedangkan Ibnu Rusdy dengan filsafatnya menuju ke arah yang bertentangan dengan Al-Ghazali, maka Ibnu Rusdy dengan Filsafatnya menuju kejurang materialisme.
2.      Umat Islam terutama pada pemerintahan (khalifah Sultan Amir) melalaikan ilmu pengetahuan dan kebudayaan dan tidak memberi kesempatan untuk berkembang. Kalau pada mulanya pejabat pemerintahan sangat memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dengan memberikan penghargaan yang tinggi kepada para ahli ilmu pengetahuan maka pada masa menurun dan melemahnya kehidupan umat Islam ini para ahli ilmu pengetahuan maka pada masa menurun dan melemahnya kehidupan umat muslimin para ahli ilmu pengetahuan umumnya terlibat dalam urusan-urusan pemerintahan sehingga melupakan perkembangan ilmu pengetahuan.
3.      Terjadinya pemberontakan-pemberontakan yang dibarengi dengan serangan dari luar sehingga menimbulkan kehancuran yang mengakibatkan berhentinya kegiatan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di dunia Islam. Semerntara itu obor pikiran Islam berpindah tangan ke tangan kaum Masehi, yang mereka ini telah mengikuti jejak ajaran Islam.
Aspek-aspek didikan dalam Islam meliputi :
1. Pendidikan Jasmani
            Pendidikan Jasmani meliputi pendidikan fisik, meliputi perawatan tubuh, kesehatan, gizi, olah raga. Istikharah, kebutuhan fisik, termasuk pemenuhan rezeki, sandang, pangan, papan.
2. Pendidikan Akal
            Pendidikan Akal meliputi pencerdasan akal, melatih berpikir benar dan lurus, mengambil kesimpulan yang benar, problem solving, dan berikutnya adalah berpikir ilmiah dan selanjutnya menjadi ilmuan.
3. Pendidikan Qalbu
            Pendidikan Qalbu diarahkan kepada pensucian hati dari segala macam penyakit hati, seperti takabur, ujub, ria, dengki, dendam, pemarah dan lain sebagainya, dan selanjutnya mengisinya dengan sifat-sifat terpuji, seperti benar, jujur, rendah hati, dan lain sebagainya. Bidang inilah yang selama ini dikenal dengan nama pendidikan akhlak, bidang ini juga apabila dikembangkan mencakup pendidikan kesehatan mental.
4. Pendidikan Naluri
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, naluri artinya adalah dorongan hati atau nafsu yang dibawa sejak lahir. Inti naluri adalah bawaan atau dorongan yang sudah menyatu dalam diri manusia sejak semua jadi manusia tersebut. Di antara naluri manusia yang mungkin perlu dikembangkan adalah :
a. Naluri beragama
            Naluri beragama merupakan keyakinan terhadap adanya Allah SWT merupakan naluri manusia. Banyak contoh dalam pengalaman manusia membuktikan bahwa suara bathin manusia meyakini adanya Tuhan Maha Pencipta. Hal ini di jelaskan pada surat al-a’raf ayat 173 yang artinya :
Artinya :
”Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.
b. Naluri perasaan keindahan
            Rasa indah telah tumbuh dalam diri manusia itu sejak dilahirkan. Misalnya seorang bayi akan berhenti menangis dan tertidur pulas, ketika ibunya mendengarkan bait-bait lagu. Perasaan indah itu ada pada setiap orang, karena itulah penddikan kesenian merupakan perwujudan dari rasa indah tersebut.
c. Naluri hidup bermasyarakat
            Naluri bermasyarakat ada dalam diri manusia, sehingga ahli sosiologi mendefenisikan manusia itu adalah makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup menyendiri. Manusia membutuhkan mausia lain. Agar pergaulan sesama antar manusia itu berjalan dengan baik dibutuhkan pendidikan kemasyarakatan.