Kamis, 26 September 2013

Konsep Pendidikan Islam


A. Pendahuluan
Pendidikan adalah humanisasi, yaitu upaya memanusiakan manusia atau upaya membantu manusia agar mampu mewujudkan diri sesuai dengan martabat kemanusiannya. Karena itu pendidikan berarti upaya membantu manusia untuk menjadi apa, mereka dapat apa? Dan menyadarkan manusia bahwa kedudukan mereka sangat mulia di bandingkan dengan makhluk Alloh yang lainnya. Maka pendidik perlu memahami hakikat manusia.
Terkadang permasalahan tentang pendidikan bermula dari ketidak pahaman akan pengertian dan korelasi antara hakikat manusia dengan pendidikan baik dalam keadaan aktualitasnya, posibilitasnya, dan idealitasnya. Oleh karna dampaknya sangat terasa dalam pendidikan sehingga sering muncul pertanyaan, mengapa manusia perlu di didik dan mendidik diri? Mengapa manusia mungkin atau dapat di didik? Serta apa makna pendidikan dalam kaitannya dengan martabat dan hak asasi manusia? Yang semua ini akan menjadi asumsi pendidikan dalam rangka praktik pendidikan.
Manusia di tuntut memiliki kesiapan dan kemampuan daya adaptasi terhadap nilai-nilai baru, kreatifitas untuk melakukan upaya inovasi dan daya saing untuk tetap eksis di tengah arus global yang terjadi. Kemampuan dasar di atas dipersiapkan dan dibentuk dalam proses pendidikan. Dengan sendirinya ketika kita berbicara konsep pendidikan tidak bisa dilepaskan dari penggambaran tentang sosok ideal manusia (insan kamil)2 sebagai muara cita-cita pendidikan.
B. Hakikat Manusia
Hakikat tugas dan tujuan manusia tiada lain adalah menjadi manusia. Jadi pada intinya bagaimana manusia berproses membangun atau “mengadakan” dirinya mendekati manusia ideal (Insan Kamil). Inilah yang dalam filsafat disebut self-realization (realisasi-diri). Realisasi diri erat hubungannya dengan pandangan tentang hakikat manusia yang kita pelajari dari sumber agama atau filsafat.
Manusia adalah subjek yang memiliki kesadaran (consciousnes) dan penyadaran diri (self-awarness). Karena itu, manusia adalah subjek yang menyadari keberadaanya, ia mampu membedakan dirinya dengan sesuatu yang berada di luar dirinya (objek); selain itu manusia bukan saja mampu berfikir tentang diri dan alam sekitarnya, tetapi sekaligus sadar tentang pemikirannya, hendaknya kita maklumi bahwa “manusia menjadi manusia yang sebenarnya jika dapat merealisasikan hakikatnya secara total”3
Dari sisi religi manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang Alloh ciptakan di atas makhluk-makhluk-Nya yang lain. Manusia dibedakan dengan makhluk lain karna ditiupkannya ruh Tuhan yang menjadi salah satu unsur kedirian manusia. Dengan ruh ini manusia bisa menggunakan instrument-instrument jasad (organ) dan hayatnya untuk menangkap dan memahami kebenaran4.
Fitrah manusia adalah tunduk dan patuh terhadap Alloh SWT5 dan fitrah manusia juga dilengkapi dengan kecenderungan fujur dan taqwa6 dengan nilai dasar dan potensi dasar manusia akan membentuk jati dirinya untuk bekal menghadapi kehidupan dalam rangka mengemban amanah sebagai khalifah Alloh.
Kemampuan manusia untuk memahami hukum-hukum kebenaran yang terkandung dalam seluruh ciptaan-Nya, itu semua yang akan memunculkan kesadaran akan hakikat diri dan kehidupan dalam menjalankan tugas khalifah yaitu melalui akal yang terdiri dari pikir dan qolbu. Sesungguhnya itu semua adalah realisasi penghambaan kita sebagai Abdullah, karna manusia diciptakan semata-mata hanya untuk beribadah kepada Alloh SWT7. Sehingga upaya memakmurkan kehidupan adalah aktifitas ibadah manusia dalam rangka merealisasikan islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
C. Falsafah Pendidikan Islam
Dalam khasanah Al-Quran, penciptaan manusia mempunyai misi yang amat luhur sebagai hamba-Nya untuk mengemban amanah yang begitu berat yaitu menjadi khalifah Alloh dengan mewujudkan suatu tatanan masyarakat dan kehidupan yang di ridhoi Alloh. Manusia yang akan mengemban amanah tersebut harus memiliki kesiapan mental serta kapasitas zikir, pikir dan amal utuh dan berkualitas8.
Berbicara tentang Pendidikan Islam tentunya tidak lepas dari bagaimana pencapaian pendidikan untuk memajukan Islam dan mencapai cita-cita masyarakat Islam secara umumnya yaitu “Rahmatan lil ‘alamin”. Berbagai asumsi pendidikan telah dipilih dan di adopsi oleh seseorang, sekelompok orang, atau lembaga pendidikan akan berfungsi memberikan dasar rujukan konseptual dalam rangka pendidikan yang dilaksanakannya. Secara umum, dapat dikatakan bahwa falsafah pendidikan adalah memberikan dasar pijakan atau titik tolak bagi seseorang, sekelompok orang atau lembaga dalam rangka praktik pendidikan.
Landasan filosofis pendidikan merupakan seperangkat asumsi pendidikan yang didedukasi dari asumsi-asumsi filsafat umum (metafisika, epistomologi, dan aksiologi) di karena landasan pendidikan islam adalah Al-Quran maka uraian landasan filosofis pendidikan akan di mulai dengan asumsi-asumsi metafisika, epistomologi, dan aksiologi Al-Quran.
Metafisika (Hakikat realitas). Sebagaimana kita yakini, realitas atau alam semesta tidaklah ada dengan sendirinya, melainkan sebagai ciptaan sang Kholiq9.
Epistomologi (Hakikat pengetahuan). Segala pengetahuan hakikatnya bersumber dari Alloh. Alloh telah menurunkan pengetahuannya melalui Utusan-Nya (Wahyu) maupun apa-apa yang ada di alam semesta termasuk hukum-hukumnya10.
Aksiologi (Hakikat Nilai). Sumber segala nilai hakikatnya adalah Alloh SWT. Adapun hakikat nilai individual (subjektiv) dan nilai sosial (objektive) tidak boleh bertetangan dengan nilai Alloh (agama)11.
1. Pengertian Pendidikan
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pendidikan itu adalah memanusiakan manusia (humanisasi). Manusia dapat menjadi manusia hanya melalui pendidikan. Implikasinya, dalam rangka mencari pengertian atau mendefinisikan tentang pendidikan sewajarnya bertolak dari suatu pandangan tentang manusia dan diarahkan kepada wujud manusia ideal (Insan Kamil) berdasarkan tentang pandangan manusia yang dijadikan asumsinya.
Selanjutnya, mengingat bahwa manusia menjadi manusia yang sebenarnya jika ia merealisasikan hakikatnya secara total maka pengertian pendidikan sebagai upaya membantu manusia agar ia mampu hidup sesuai dengan martabat kemanusiannya itu mesti kita hubungkan dengan makna berbagai aspek hakikat manusia. Kalau kita rangkumkan bahwa manusia adalah makhluk Alloh SWT; manusia adalah kesatuan badani-rohani yang hidup dalam ruang dan waktu, sadar akan diri dan lingkungannya, mempunyai berbagai kebutuhan, insting, nafsu serta tujuan hidup; manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat fujur dan taqwa, manusia mempunyai ruh yang berfungsi menangkap dan memahami kebenaran, berbuat baik, adapun dalam eksistensinya manusia memiliki aspek individualitas, sosialitas, cultural,moralitas, dan religius.
Kalau kita cermati sosok manusia yang diatas adalah manusia yang perlu arahan, dalam hal ini berarti manusia lahir dengan potensi, ia lahir belum terspesialisasi seperti hewan dan bahkan perkembangan serta pertumbuhan manusia masih terbuka dalam artian masih bisa di arahkan atau di didik supaya menjadi sosok manusia ideal (Insan Kamil). Melalui proses pendidikanlah yang semua itu bisa dilahirkan.
Pendidikan islam berarti upaya sadar untuk mempersiapkan manusia melalui proses yang sistematis, dengan membangkitkan kesadaran diri manusia yang sesuai dengan tuntunan Islam. Proses pendidikan yang sistematis yang terjadi dalam pendidikan dimulai dari tahapan-tahapan pengenalan indra manusia, lalu penyimpulan secara logis sebagai suatu konsepsi. Sehingga dengan ruh instrument jasad (anggota badan)dapat diperintahkan yang akhirnya akan membentuk sikap / pola prilaku (Insan Kamil).
2. Tujuan Pendidikan
Jika pendidikan adalah upaya sadar melalui proses yang sistematis, sudah jelas bahwa tujuan pendidikan menumbuhkan kesadaran manusia / mengembalikan manusia kepada makna / hakikat manusia sesungguhnya. Artinya proses pencapaian tersebut dilakukan dengan pembentukan sikap, penambahan wawasan dan pengetahuan serta pemberian bekal keterampilan.
Jika di lihat dalam UUD 1945 tentang pendidikan bagaimana manusia / peserta didik diarahkan kepada kesadaran terhadap Iman dan Taqwa. Dengan demikian tujuan akhir pendidikan adalah semata-mata hanya mencari ridho Alloh SWT.
3. Konsep Pendidikan Islam
Paradigma tentang konsep pendidikan Islam memang sudah berkembang luas sejak dulu. Dalam pendidikan Islam pastinya kita sudah mengenal tiga konsep dasar pendidikan Islam, yaitu; Ta’dib, Tarbiyah, dan Ta’lim. Namun dari ketiga konsep dasar tersebut memiliki titik tekan yang berbeda.
Berangkat dari tujuan dan paparan data di atas, perlunya kita merumuskan konsep untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Artinya bukan kita membuat konsep baru atau memilih dari tiga konsep dasar pendidikan Islam, tapi kita menyusun konsep tersebut sehingga menjadi satu pijakan dalam melaksanakan proses pendidikan. Dengan demikian kita perlu memahami ketiga konsep dasar pendidikan Islam agar kita bisa menentukan arah/alur proses pendidikan untuk menghantarkan manusia kepada hakikat manusia yaitu mengemban amanah dan mewujudkan suatu tatanan masyarakat dan kehidupan yang di ridhoi Alloh SWT.
Ketiga konsep dasar mempunyai peran masing-masing dalam proses pendidikan Islam.
1. Ta’dib
Ta’dib adalah berasal dari kata benda dan mempunyai kata kerja adaba yang berarti mendidik. Bentuk kata ini belum tertuju dan memerlukan tujuan (objek) yang dalam pendidikan objek tersebut ialah manusia. Sedangkan dalam bahasa Indonesia kata adab diartikan sebagai sopan santun, budi pekerti dan tatak rama.
Namun peradaban diartikan sebagai hasil seluruh budi daya manusia, baik secara personal maupun komunal (kelompok). Jadi ta’dib dapat diartikan sebagai proses untuk membentuk sebuah peradaban.
Peradaban Islami adalah terbentuknya tatanan masyarakat yang menanamkan dan merealisasikan nilai-nilai Islam di muka bumi ini, dan menjalankan tugas dan fungsi manusia sesuai dengan hakikat manusia.
2. Tarbiyyah
Tabiyyah berasal dari kata Rabba, yang dalam Al-Quran diartikan sebagai mencipta, memelihara, memenuhi kebutuhan dan menyempurnakan. Artinya cakupan tarbiyyah ini sangat luas, tidak hanya manusia yang menjadi objek tapi bisa jadi alam semesta juga menjadi objek dari tarbiyyah.
Allohu rabbil’alamin adalah pernyataan bahwa Alloh telah melakukan tarbiyyah bagi seluruh alam semesta ini termasuk manusia.
3. Ta’lim
Ta’lim berasal dari kata ‘allama artinya proses pengajaran dengan menggunakan seluruh indra yang dimiliki manusia selanjutnya direkam oleh akal (nalar). Proses Alloh mengajarkan Adam menggunakan ‘allama (QS. 2:31). Dengan demikian ta’lim memiliki cakupan yang lebih spesifik yang hanya menitik tekankan terhadap proses penalaran saja.
Dengan demikian setelah kita memahami ketiga konsep dasar tersebut kita dapat merumuskan sistematika proses pendidikan.
D. Penutup
Alhamdulillah dengan izin Alloh SWT saya bisa menyelesaikan tulisan ini. Pertama saya ucapkan terimakasih kepada keluarga saya yang telah memberikan kepercayaan dan kecintaan penuh terhadap saya sehingga itu menjadi motivasi saya untuk menyelesaikan tulisan ini. Kedua saya ucapkan kepada teman-teman saya yang selalu memberikan dukungannya baik secara moril maupun materil untuk saya bisa menyelesaikan tulisan ini. Ketiga saya ucapkan kepada orang yang telah membawa saya kepada organisasi yang sangat banyak memberikan inspirasi untuk saya melakukan banyak perubahan. Saya bukanlah manusia sempurna yang bisa melakukan segala sesuatu dengan sendiri.
Harapan saya dengan adanya tulisan ini semoga bisa memberikan gambaran walaupun sedikit tentang pendidikan Islam yang selama ini sering kita jalankan namun kita tidak memahami hal tersebut. Juga bisa membantu para guru-guru atau pendidik dalam mendidik peserta didik.
Terakhir kalinya saya bukan manusia sempurna yang tidak luput dari kesalahan. Untuk itu saya sangat mengharapkan kritikan dan saran dari para pembaca guna membangun dan menyadarkan saya untuk memperbaiki kesalahan.
Billahi fii sabilil haq….