Kamis, 02 April 2015

PENDIDIKAN DI INDONESIA, ANTARA PEMBEBASAN DAN KAPITALIS MATERIALIS


PENDIDIKAN DI INDONESIA, ANTARA PEMBEBASAN DAN KAPITALIS MATERIALIS

Akreditasi Pendidikan Nonformal Tidak untuk Mematikan

SKB PUSAT PENDIDIKAN NON FORMAL

Mutu pendidikan di Kabupaten Enrekang bukan hanya bertumpu pada pendidikan formal saja, tapi pendidikan non formal menjadi salah satu program penting untuk mendukung terciptanya kualitas mutu pendidikan di Bumi Massenrempulu.Untuk merealisasikannya, maka Dinas Pendidikan Nasional ditunjuk sebagai ujung tombak pelaksanaan. Untuk lebih memudahkan pengerjaannya, Dinas Diknas kemudian bekerjasama dengan kantor sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Pendidikan formal ditangani langsung Dinas Diknas, sementara pendidikan non formal dipercayakan kepada kantor SKB.
Selama ini, keberadaan Kantor SKB memang belum dipahami. Padahal, SKB memiliki funhsi untuk membina peningkatan kualitas pendidikan non formal di setiap kabupaten/kota. Kantor SKB sendiri masih dibawa naungan Dinas Diknas. Khusus di kabupaten Enrekang, kantor SKB telah memberikan kontribusi besar dalam menunjang pendidikan non formal. Berbagai pelatihan dilaksanakan kepada masyarakat yang putus sekolah atau sama sekali belum bersekolah.

Pelatihan-pelatihan itu kemudian disusun dalam suatu program, antara lain pendidikan kesetaraan bagi Pendidikan dasar (Dikdas) 9 tahun, penurunan angka buta aksara, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) serta kursus dan pelatihan. Program-program itu semuanya telah dianggarkan melalui Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) dan Direktorat PTK-PNF.

Alhasil, program ini sudah banyak mencetak SDM-SDM yang berkualitas.
Sebagai pusat pendidikan non formal, tentunya kantor SKB telah dilengkapi fasilitas-fasilitas, seperti jaringan internet. Pengadaan internet di kantor SKB telah membantu pelaksanaan pendidikan non formal. “Saat ini, segala perkembangan tentang pendidikan luar sekolah sudah bisa diakses melalui internet,” jelas Kepala SKB, Drs. Abd. Jalil.
Seputar Kantor SKB Kabupaten Enrekang:1. Pusat pendidikan non formal di Bumi Massenrempulu
2. SKB adalah solusi untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) di Kabupaten Enrekang
3. SKB dapat berperan alternatif utama untuk mengembangkan keterampilan yang dimiliki
4. Misi SKB Kabupaten Enrekang untuk meningkatkan tenaga teknis dan tenaga kependidikan luar
sekolah, meningkatkan pelayanan informasi kegiatan pendidikan luar sekolah dan
mengembangkan media belajar
5. SKB Kabupaten Enrekang berada pada tingkatan terdekat dengan masyarakat sejak persiapan,
pelaksanaan, evaluasi dan memberikan pengawasan kemajuan secara ketat
6. Kantor SKB kabupaten Enrekang mengutamakan pemerataan dan perluasan akses yang
dikembangkan, melalui respon dari kebutuhan mendesak warga masyarakat, sehingga program
kerjanya mengarah pada kebutuhan warga, termasuk menggunakan pendekatan partisipatif,
tanpa melepaskan tanggung jawab
7. Kantor SKB kabupaten Enrekang telah dilengkapi jaringan internet. Kemajuan teknologi cukup
membawa dampak bagi keberhasilan pendidikan non formal. Sistem informasi berbasis
teknologi komputer perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) berdampak
positif, terutama memudahkan untuk mengakses dan menyebarluaskan informasi

Program Pendidikan Gratis Belum Menyentuh Pendidikan Luar Sekolah

Pendidikan Luar Sekolah


sistem evaluasi non formal terhadap pengajar di Jepang

Sistem Evaluasi adalah sistem yang menjadi mutlak dalam proses belajar mengajar. Guru mengevaluasi kemampuan siswa adalah hal yang sudah biasa, tetapi siswa yang menilai pengajaran guru barangkali masih langka di negara kita.
Selama menjadi pengajar part time di sebuah lembaga bahasa yang cukup bonafid dengan cabang yang hampir ada di seluruh dunia, saya sudah 3 kali mendapatkan evaluasi. Saya memulai karir di sana dengan kritikan cara mengajar, disiplin waktu, dll yang kadang-kadang membuat saya ingin berhenti saja. Atasan saya kadang-kadang menempatkan saya di ruang bervideo dan mengamati cara mengajar. Tindakan ini semula menyakitkan tapi lama-lama saya bisa menerimanya dengan lapang dada, kritikannya cukup membangun. Siswa biasanya mengisi lembaran evaluasi yang tidak ditunjukkan kepada pengajar. Hasil total evaluasi dalam bentuk persentase hanya disampaikan kepada atasan secara langsung kepada pengajar. Berdasarkan hasil evaluasi yang diberikan oleh siswa dan atasan, maka jumlah jam dan kepercayaan untuk mengampu kelas akan ditentukan.

Saya juga mengajar di sebuah lembaga bahasa kecil dengan manajer yang sudah seperti bapak sendiri. Semula hanya satu siswa yang saya pegang yang kemudian bertambah menjadi dua, dan selanjutnya semakin bertambah. Saya senang mengajar mereka, dan saya lebih-lebih menjadi senang ketika mereka bersemangat dan senang belajar bahasa Indonesia. Banyak yang menjadi murid saya dalam jangka waktu yang lama. Kadang-kadang saya khawatir mereka menjadi bosan, tapi kelihatannya tidak,sebab mereka minta diajar setiap minggu. Penilaian di lembaga ini tidak berlangsung secara resmi, tetapi manajer biasanya menanyakan secara basa-basi kepada siswa dalam obrolan biasa tentang kelas yang diberikan oleh seorang pengajar.Dari situ biasanya manajer secara obrolan biasa juga menyampaikan kepada pengajar hasil penilaian siswa, misalnya : kelas anda menarik, atau karena banyak percakapan, murid-murid sangat senang. Tetapi kadang-kadang pula langsung memuji dan ujung-ujungnya biasanya mempercayakan setiap ada murid baru.

Di semua universitas di Jepang telah diberlakukan sistem evaluasi terhadap dosen yang dilakukan oleh mahasiswa. Sistem evaluasi ini sangat bermanfaat untuk memperbaiki pengajaran, tetapi kadang-kadang mahasiswa mengisinya dengan malas atau sangat dipengaruhi oleh senang tidaknya dia dengan pelajaran bersangkutan.

Ada 4 poin utama yang dinilai yaitu :
  1. Partisipasi/Kehadiran/Keaktifan siswa dalam kuliah bersangkutan (ada 3 poin yang ditanyakan)
  2. Tentang perkuliahan secara umum (ada 4 poin)
  3. Tentang pengelolaan kelas, misalnya ketepatan waktu, keseriusan guru menegur siswa yang terlambat atau melakukan kejahilan di kelas, dll (ada 7 poin)
  4. Penilaian secara umum (4 poin).
Dan ada kolom khusus untuk memberikan tanggapan bebas kepada dosen pengajar.

Hasil evaluasi seperti ini sangat bermanfaat bagi para pengajar. Saya biasanya memberikan lembaran khusus kepada mahasiswa untuk menulis apa saja tentang kelas yang saya pegang, sebab saya pikir akan lebih mudah mengetahui keinginan siswa dalam bentuk uraian daripada sekedar angka yang berupa persentasi.

Tetapi selain bentuk formal seperti itu, pernyataan langsung mahasiswa misalnya “kuliah Ibu menarik dan membuat saya ingin mengambilnya lagi semester depan” adalah juga bentuk evaluasi yang jujur.
sumber:http://bloggeripb.co.cc/?cat=740


PENDIDIKAN NONFORMAL MASIH DIPOSISIKAN SEBAGAI PERAN "PEMBANTU"

Peranan Pendidikan Nonformal Memberdayakan Ekolem

Pendidikan Nonformal Gratis untuk Anak Putus Sekolah

JAKARTA, SENIN - Tingginya angka putus sekolah, banyaknya anak jalanan dan anak terlantar di Indonesia membuat banyak pihak prihatin, tak terkecuali Yayasan Pendidikan Indonesia-Amerika (Indonesian-American Education Foundation) di Jakarta atau di singkat Jakarta IAEF. Jakarta IAEF akan membangun gedung dan memberikan pendidikan nonformal gratis buat anak-anak tersebut.
Demikian diungkapkan Ketua Jakarta IAEF Daniel Dhakidae, Ketua Pembina Jakarta IAEF Azyumardi Azra, anggota Pembina IAEF Jakarta Aristides Katoppo, dan President Dallas IAEF Henny Hughes, kepada pers Senin (27/10) di Jakarta. "Idenya membangun suatu yayasan untuk kepentingan pendidikan, terutama untuk anak-anak putus sekolah, anak jalanan dan anak terlantar. Mereka akan ditampung, dididik dan dilatih hingga mampu berdiri sendiri menopang kehidupannya, tanpa mengeluarkan biaya," kata Daniel Dhakidae.
Bagi mereka sudah lulus dan menguasai keterampilan sesuai bidang yang diminatinya, maka mereka akan disalurkan bekerja di luar negeri dengan jejaring yang dibangun, misalnya di Timur Tengah, Malaysia, termasuk Amerika sendiri. Sejumlah duta besar sudah dikontak dan mendukung program ini. Namun, Jakarta IAEF bukanlah lembaga pengerah jasa tenaga kerja yang mendapatkan fee.
Azyumardi Azra mengatakan, yayasan pendidikan ini dibuat sebagai jembatan budaya kedua negara, Indonesia-Amerika. "Yayasan Pendidikan Indonesia Amerika ini lebih dari soal pendidikan, tapi juga pertukaran budaya, sehingga dengan ini mereka bisa mengetahui dan menghayati, dan saling menghargai kebudayaan masing-masing," katanya.
Karena itu, untuk mendukung ini, Aristides Katoppo berharap banyak pihak, apakah pribadi atau perusahaan yang peduli pendidikan anak-anak bangsa yang terlupakan ini, untuk membantu mewujudkan pembangunan gedung Learning Center, tempat mereka membekali diri dengan berbagai keterampilan untuk berkarya.
"Tanggal 11 Desember 2008, akan digelar malam dana bertajuk We are the Forgotten Children of Indonesia di Balai Sarbini. Diharapkan masyarakat mau menyumbang, bersimpati, dan memberikan solidaritas dan kebersamaan," ujarnya.
Henny Hughes menambahkan, gagasan ini berdasarkan investigasi dua tahun lalu. Untuk membawa anak-anak itu kembali belajar, motivasinya harus dari diri mereka sendiri. Keinginan belajar dari mereka itu harus kuat.
Membawa mereka kembali belajar bukanlah hal yang mudah, akan tetapi bukan pula sesuatu yang mustahil karena pengaruh kehidupan liar di luar rumah telah merubah pola pikir mereka. "Untuk itu dibutuhkan metode khusus, praktis dengan bahasa yang sederhana dan berbagai variasi sistem penyampaian, misalnya melibatkan audio-visual agar lebih mudah dipahami, sehingga membuat belajar sebagai bagian dari aktivitas yang menyenangkan dan menjadi suatu kebutuhan," jelasnya.
Menurut Henny, pendidikan nonformal di Learning Center bisa menampung 400 anak. Walaupun yang menjadi target sementara adalah mereka yang putus sekolah dan yang memasuki usia dewasa atau 17 tahun ke atas, akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu maka Learning Center juga akan dapat menampung berbagai tingkatan, termasuk anak-anak setingkat SD hingga universitas. Bahkan, akan menjangkau setiap warga yang ingin meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya.
Learning Center yang didesain oleh Fakultas Teknik Jurusan Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti, untuk tahap awal selain memiliki fasilitas belajar-mengajar dan training juga memiliki sejumlah fasilitas olahraga. Bangunan tiga lantai seluas lebih kurang 2.000 meter persegi di atas tanah seluas 3.000 meter persegi itu, rencananya akan dilaksanakan pada awal tahun 2009 dan diharapkan akan dapat dioperasikan pada pertengahan tahun 2010.
sumber:http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/27/21480613/pendidikan.nonformal.gratis.untuk.anak.putus.sekolah..