Minggu, 31 Maret 2013

ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT, TOKOH DAN IDENYA


by mutawalli
I.             PENDAHULUAN
Filsafat merupakan kegiatan olah fikir yang sangat mendalam terhadap suatu persoalan kecil yang dianggap penting oleh seseorang, yang mungkin dianggap sebagai hal yang tidak penting oleh orang lain dan mungkin tidak dapat memberikan kontribusi secara langsung dalam kehidupan seseorang. Dalam tahap perkembangannya, filsafat sering mencapai pasang surut sesuai masanya. Ada kalanya filsafat mendapatkan tempat yang cukup tinggi di suatu peradaban masyarakat, namun ada kalanya pula filsafat diabaikan, tidak dianggap keberadaannya, bahkan sampai mati sama sekali, dan dapat kembali muncul berkat perjuangan dan pemikiran para filsuf yang berperan sangat besar untuk perkembangan filsafat tersebut. Dalam perkembangannya, ada banyak tokoh yang mengikuti suatu aliran filsafat tertentu serta ide yang dicetuskannya, dan sebagian tokoh dan idenya tersebut akan dipaparkan dalam makalah ini.
II.          ALIRAN FILSAFAT, TOKOH DAN IDENYA
1        Filsafat pada Masa Yunani Kuno.
Pada masa Yunani Kuno, perkembangan filsafat diibaratkan bagai gunung-gunung dan mata air. Filsafat (akal) mendapatkan tempat yang sangat tinggi dan mengalahkan agama. Ada beberapa tokoh filsafat yang muncul pada masa ini, diantaranya adalah Parmenides dan Heraclitos. Parmenides berfilsafat dalam bentuk aphorisme  yaitu kalimat-kalimat pendek yang harus ditafsirkan lebih jauh. Di dalam tulisannya, dia mengajarkan dua ajaran yang disebut jalan kebenaran (the way of truth) dan jalan pendapat (the way of opinion).
Dalam pengajarannya tentang jalan kebenaran mengenai konsep “ada” (being), Parmenides mengajarkan “yang ada itu ada” (what is, is).
“Yang ada” merupakan yang tetap, tidak terbagi, dan sempurna seperti lingkaran. Maka, “yang ada” itu tidak mungkin “yang tidak ada”, karena “yang tidak ada” itu tidak dapat dipikirkan dan dikatakan. Dengan begitu, “yang tidak ada” itu tidak ada.
Ketika “yang tidak ada” itu tidak ada, maka konsekuensinya, “yang menjadi” itu pun tidak ada, karena “yang menjadi” itu terjadi dari “yang ada” ke “yang tidak ada”, kemudian “yang menjadi”. Akan tetapi “yang tidak ada” itu tidak ada, karena tidak dapat dipikirkan. Jelaslah, “yang menjadi”, karena memiliki aspek “tidak ada”, itu tidak ada. Maka perubahan dari “yang ada” menjadi “yang menjadi” itu tidak akan pernah terjadi. Maka perubahan itu tidak ada.
Dalam pengajarannya tentang jalan pendapat, Parmenides mengajarkan konsep doxa (pendapat umum) dan aletheia (kebenaran). Doxa adalah kebiasaan dan pandangan umum yang kita dengar dan dapatkan dengan begitu saja, sedangkan aletheia bersumber pada akal budi semata. Dalam bersikap, dia mengajarkan agar berpikir sendiri dan menemukan kebenaran itu sendiri, serta tidak boleh percaya pada gagasan-gagasan umum yang kebenarannya tidak pasti. Menurutnya, kebenaran hanya dapat diperoleh melalui akal budi semata. Dengan akal budi hendaklah kita menjadi penguji dan hakim segala sesuatu, memperoleh pengetahuan yang murni dan sejati, yang mampu menangkap “yang ada”, yang bersifat tetap, dan tidak berubah di balik pengetahuan indera yang menipu. Parmenides mengajarkan pentingnya berpikir dan mengambil sikap tegas terhadap apa yang diyakini oleh umum. Keyakinan umum tidak selalu benar. Oleh karena itu, kita harus melihat realitas dengan menggunakan akal budi secara langsung.
Berbeda dengan Parmenides, Heraclitos justru menyatakan bahwa segala sesuatu itu terus bergerak dan berubah, dan tidak hanya diam. Dia memandang api bersifat dinamis, yang perlu diberikan umpan berupa bahan bakar agar menghasilkan suatu perubahan yang menakjubkan, yaitu berupa cahaya. Selain api, dia juga tertarik pada pertentangan dan kesatuan, misalnya pada laut. Satu sisi laut dapat menyelamatkan, namun di sisi lain laut juga dapat menghancurkan kehidupan. Pernyataan Heraclitos yang paling terkenal adalah tentang sungai, yaitu “stepping into a river”. Dari ide sungai ini, kemudian muncul slogan yang selalu dikaitkan dengan pemikiran Herakleitos, yaitu panta rhei: segala sesuatu mengalir (“everything flows”). Dengan menggunakan perumpamaan sungai, dia ingin kita memahami bahwa segala sesuatu mengalir seperti air dan mengalami perubahan yang terus menerus (flux).
2        Filsafat Socrates
Pada masa Yunani Kuno, akal mendapatkan tempat yang paling tinggi mengalahkan agama dan segalanya, sehingga manusia pada zaman tersebut hidup tanpa suatu pegangan apapun. Hal ini dapat terbukti dari:
a.       Kekacauan kebenaran, karena tidak ada ukuran umum tentang suatu nilai kebenaran.
b.      Semua teori sains diragukan dan semua akidah dan kaidah agama dicurigai..
c.       Banyak muncul “pembela” kebenaran yang menjadi guru filsafat, filosof dan hakim sehingga kekacauan semakin meluas.
Pada masa yang sangat kacau tersebut, tampillah Socrates sebagai pembela kebenaran yang sebenarnya. Beliau membawa misi menghentikan pemikiran sofis bahwa semua kebenaran bersifat relative, yaitu dengan cara meyakinkan orang Athena terutama para filosof dan sofis bahwa tidak semua kebenaran bersifat relative. ada kebenaran yang umum, yaitu kebenaran yang dapat diterima oleh semua orang, yang disebut “Pengertian Umum”, yang merupakan penemuan terpenting dari Socrates. Setelah orang dapat diyakinkan bahwa ada kebenran yang umum, tidak terlalu sulit untuk mengajak orang kembali ke agamanya. Namun pengajaranSocrates harus dibayar mahal dengan hukuman mati meminum racun, karena putusan pengadilan yang dihakimi oleh orang sofis.
3        Filsafat pada sekitar Tahun 0 Masehi
Sepeninggal Socrates, pemikirannya masih tetap bekerja. Pada tahun 0 Masehi, perkembangan Filsafat juga diibaratkan sebagai gunung-gunung dan mata air. Ada dua tokoh penting pada masa ini, yaitu Plato dan Aristoteles.
Plato, murid sekaligus teman dari Socrates memperkuat pendapat dari gurunya tersebut. Dia mengatakan bahwa memang ada kebenaran umum, yang dinamakan “idea”, dan “idea” itu telah ada sebelum manusia ada, ia ada di dalam “idea”.
Aristoteles juga memperkuat pendapat gurunya tersebut. Dia menulis buku, yang mengupas tentang kepalsuan logika orang-orang sofis. Dia sependapat bahwa pengertian umum yang kebenarannya berlaku umum memang ada, dan dinamakan sebagai “definisi”. Pada masa ini, akal dan hati, rasio dan iman, filsafat dan agama mendapatkan kedudukan yang sama tinggi.
4        Jaman Kegelapan, Dominasi Gereja (Abad 12 s/d 13 Masehi)
Pada masa ini, perkembangan filsafat diibaratkan tertutup atau mati. Tepat di pengujung zaman helenisme menjelang neo-Platonisme, filsafat benar-benar kalah. Selanjutnya pemikiran memasuki jaman kegelapan, dimana agama menang mutlak sedangkan akal kalah total. Hal ini terlihat jelas dari pemikiran Plotinus, Augustinus, dan Anselmus. Menurut Plotinus, Tuhan bukan untuk dipahami, tetapi untuk dirasakan, sehingga tujuan filsafat adalah bersatu dengan Tuhan. Filsafat rasional dan ilmu sains tidak penting. Orang yang masih menghidupkan akal harus dimusuhi, bahkan dibunuh. Bahkan tahun 529, Kaisar Justiniaus mengeluarkan Undang-undang yang melarang ajaran filsafat apapun di Athena. Ciri khas filsafat pada masa ini adalah rumusan terkenal yang dikemukakan oleh Saint Anselmus yaitu Credo ut intelligan, yang artinya iman lebih dulu, setelah itu baru mengerti.
5        Abad 15 (Jaman Pengerahan)
rumusan yang dikemukakan oleh Saint Anselmus yaitu Credo ut intelligan, tidak akan merugikan perkembangan filsafat jika wahyu yang dijadikan acuan adalah wahyu yang tidak berlawanan dengan akal logis. Pada masa pertengahan ini, agama Kristen bisa dikatakan tidak bersumber pada kitab suci, namun lebih bersumber pada penafsiran kitab suci oleh para saint (orang suci). Keyakinan yang begitu besar pada penafsiran tersebut dapat dikatakan sebagai kelemahan filsafat Kristen pada masa ini, karena pada dasarnya kebenaran penafsiran bersifat relative. Selain itu, kekurangjelasan perbatasan antara sains, filsafat dan iman mengakibatkan sering terjadi bentrokan. Copernicus dan Galileo memiliki pemikiran yang berbeda dari para tokoh gereja, sehingga kedua tokoh tersebut dihukum. Sebenarnya, pendapat dua ilmuwan tersebut tidak berlawanan dengan kitab suci, namun berbeda dari pendapat tokoh gereja yang mengatasnamakan kitab suci. Jika berlawanan dengan kitab suci, berarti kitab suci itu yang salah karena bukti-bukti menunjukkan bahwa kedua ilmuwan tersebut benar adanya.
Copernicus adalah orang pertama yang mengemukakan bahwa selain Bumi berputar mengelilingi sumbunya sekali putaran dalam sehari, bumi juga bergerak mengelilingi matahari sekali dalam setahun. Sesuai dengan pendapat Copernicus, maka bumi di samping berputar mengelilingi sumbunya sekali sehari, juga berputar mengelilingi matahari atau yang disebut dengan revolusi. Bumi berevolusi dapat dibuktikan dengan percobaan-percobaan yang dilakukan oleh para ahli, antara lain: adanya aberasi (sesatan cahaya) dan Parallaxis.
Selama berada di Italia, Copernicus sudah berkenalan dengan ide-ide filosof Yunani Aristarchus dari Samos (abad ke-13 SM), yang berpendapat bahwa bumi dan planit-planit lain berputar mengitari matahari. Copernicus jadi yakin atas kebenaran hipotesa "heliocentris". Copernicus memerlukan waktu bertahun-tahun untuk melakukan pengamatan dan perhitungan cermat dalam untuk penyusunan buku besarnya De Revolutionibus Orbium Coelestium (Tentang Revolusi Bulatan Benda-benda Langit), yang melukiskan teorinya secara terperinci dan mengedepankan pembuktian-pembuktiannya.
6        Abad 16 (Awal Jaman Modern)
Pada awal jaman modern ini, perkembangan filsafat diibartkan sebagai sungai-sungai. Ada beberapa tokoh yang memberikan sumbangan sejarah pada masa ini, antara lain Rene Descartes dan David Hume. Descartes bertujuan untuk melepaskan filsafat dari kekangan gereja, yang terlihat dari argument cogito yang mengatakan bahwa “badanku boleh saja diragukan adanya, namun aku yang berfikir tidak dapat diragukan”. Setelah Descartes berhasil, dan ternyata tidak mendapatkan reaksi keras dari gereja, maka kembali bermunculan para filosof. Akal yang telah mendapat kekangan selama  1500 tahun itu, pada masa ini menang lagi. Namun sofisme kembali terulang, dan dinamakan sebagai sofisme modern, dan kembali menyatakan bahwa kebenaran bersifat relative.
Adanya tiga aliran besar yaitu rasionalisme, idealism dan empirisme mampu menjadikan filsafat modern membingungkan orang modern. Rasionalisme dan idealisme mengatakan bahwa roh yang hakikat, sedangkan empirisme mengatakan bahwa benda lah yang hakikat, dan roh tidak ada. Akibatnya, sains sangat dicurigai, terutama pada masa Hume, dan agama juga diragukan. Keadaan ini lebih parah daripada zaman Socrates.
7        Abad 17 s/d 18 (Jaman Modern)
Pada masa ini, filsafat diibaratkan sebagai muara sungai. Masa ini merupakan kelanjutan dari awal jaman modern. Sains masih dicurigai dan agama juga masih diragukan. Keadaan inilah yang dihadapi oleh Immanuel Kant. Cara Kant dalam menyelesaikan masalah ini pada dasarnya sama dengan pada masa Socrates. Ia menyatakan bahwa akal dan hati (iman) memiliki daerah masing-masing yang tidak saling tercampur satu dengan yang lainnya. Jika akal memasuki wilayah hati, maka akan hilang dalam paralogisme. Kant mengatakan bahwa akal dan agama keduanya sama-sama dapat dipegang dan sama-sama diperlukan. Skeptic terhadap sains sangat berbahaya. Begitu pula keraguan pada agama, juga sangat berbahaya.
8        Abad 18 s/d 19 (Jaman Pos Modern) 
Pada masa ini, perkembangan filsafat diibaratkan sebagai pantai-pantai. Tokoh utama pada masa ini adalah Auguste Comte, yang merupakan tokoh aliran positivisme yang paling terkenal. Kaum positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Pendiri filsafat positivis yang sesungguhnya adalah Henry de Saint Simon yang menjadi guru sekaligus teman diskusi Comte. Menurut Simon, untuk memahami sejarah orang harus mencari hubungan sebab akibat, hukum-hukum yang menguasai proses perubahan.
Comte menuangkan gagasan positivisnya dalam bukunya the Course of Positivie Philosoph, yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis yang semuanya itu tewujud dalam tahap akhir perkembangan. Perkembangan ini diletakkan dalam hubungan statika dan dinamika, dimana statika yang dimaksud adalah kaitan organis antara gejala-gejala, sedangkan dinamika adalah urutan gejala-gejala. Bagi Comte, untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positif ini mempunyai 4 ciri, yaitu metode ini diarahkan pada fakta-fakta, diarahkan pada perbaikan terus menerus dari syarat-syarat hidup, berusaha ke arah kepastian, dan berusaha ke arah kecermatan.
Metode positif juga mempunyai sarana-sarana bantu yaitu pengamatan, perbandingan, eksperimen, yang biasa dilakukan dalam ilmu-ilmu alam, serta metode historis khusus berlaku bagi masyarakat yaitu untuk mengungkapkan hukum-hukum yang menguasai perkembangan gagasan. Menurut Comte, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam 3 zaman, yaitu; zaman teologis, zaman metafisis dan zaman ilmiah atau zaman positif.
1)      Pada zaman teologis , manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut.
2)       Zaman metafisis atau tahap transisi. Tahapan ini menurut Comte hanya modifikasi dari tahapan sebelumnya. Penekanannya pada tahap ini, yaitu monoteisme yang dapat menerangkan gejala-gejala alam dengan jawaban-jawaban yang spekulatif, bukan dari analisa empirik.
3)      Zaman positif, adalah tahapan yang terakhir dari pemikiran manusia dan perkembangannya, pada tahap ini gejala alam diterangkan oleh akal budi berdasarkan hukum-hukumnya yang dapat ditinjau, diuji dan dibuktikan atas cara empiris. Penerangan ini menghasilkan pengetahuan yang instrumental.
9        Pos Pos Modern (Power Now) 
Pada masa ini, perkembangan filsafat diibaratkan sebagai laut dangkal. Ada beberapa pandangan yang sangat berpengaruh pada masa ini, antara lain paham Pragmatism, Utilitarian, Capitalis dan Hedonisme.
a.      Pragmatism
Konsep pragmatisme mula-mula dikemukan oleh Charles Sandre Peirce pada tahun 1839. Dalam konsep tersebut ia menyatakan bahwa, sesuatu dikatakan berpengaruh bila memang memuat hasil yang praktis. Pada kesempatan yang lain ia juga menyatakan bahwa, pragmatisme sebenarnya bukan suatu filsafat, bukan metafisika, dan bukan teori kebenaran, melainkan suatu teknik untuk membantu manusia dalam memecahkan masalah. Dari kedua pernyataan itu tampaknya Pierce ingin menegaskan bahwa pragmatisme lebih cenderung pada tataran ilmu praktis untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi manusia. Jika tidak menimbulkan konskuensi yang praktis maka tidak ada makna yang dikandungnya, sehingga muncul semboyan bahwa, “Apa yang tidak mengakibatkan perbedaan tidak mengandung makna”.
Sebagian penganut pragmatisme yang lain mengatakan bahwa, suatu ide atau tanggapan dianggap benar, jika ide atau tanggapan tersebut menghasilkan sesuatu, yakni jalan yang dapat membawa manusia ke arah penyelesaian masalah secara tepat (berhasil). Bahkan, Budi Darma mengatakan bahwa, masa depan itu tidak ada, masa lalu juga tidak ada, yang ada adalah masa sekarang maka berjuanglah untuk saat ini. Inti dari peryataan tersebut adalah, kebenaran pragmatik merupakan kebenaran yang bersifat fungsional, berguna atau praktis. Segala sesuatu dianggap benar jika ada konsekuensi yang bersifat manfaat bagi hidup manusia.
b.      Utilitarian
Utilitarianisme merupakan bagian dari etika filsafat yang berkembang sebagai kritik atas dominasi hukum alam. Teori utilitarianisme di kembangkan oleh Jeremy Bentham dan muridnya, John Stuart Mill. Utilitarianisme disebut sebagai teori kebahagiaan terbesar (the greatest happines theory), karena utilitiarianisme dalam konsepsi Bentham berprinsip “the greatest happiness of the greatest number”, yang menjadi landasan moral utama kaum utilitarianisme. Kemunculan utilitarianisme dilatarbelakangi oleh keinginan besar untuk melepaskan diri dari belenggu doktrin hukum alam. David Hume dan Helvetius, dan Beccaria adalah arsitek utama doktrin Utilitarianisme tersebut. Namun, Jemery Bethamlah yang berhasil merumuskannya dalam sebuah teori formal tentang refomasi social.
Menurut faham utilitarisme, kebahagiaan tercapai jika ia memiliki kesenangan dan bebas dari kesusahan. Suatu perbuatan dapat dinilai baik atau buruk sejauh dapat meningkatkan atau mengurangi kebahagiaan sebanyak mungkin orang. Prinsip kegunaan harus diterapkan secara kuantitatif, karena kualitas kesenangan selalu sama sedangkan aspek kuantitasnya dapat berbeda-beda. Berkat konsep fundamentalnya tersebut, Jeremy Betham diakui sebagai pemimpin kaum Radikal Filosofis yang sangat berpengaruh. nemun teori yang di usung Betham tersebut mempunyai banyak kelemahan, terutama tentang moralitas, sehingga memperoleh celaan dari para pengkritik. Salah paham tersebut kemudian berusaha diluruskan kembali oleh pengikutnya, yaitu Jhon Stuart Mill
c.       Capitalis
Dalam perkembangan filsafat kapitalis, tokoh yang sangat berperan adalah Karl Marx yang menyatakan beberapa hal penting terkait dengan kapitalisme. Pemikiran Kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi yang filsafat sosial dan politiknya didasarkan kepada azas pengembangan hak milik pribadi, dan nasionalisme sekuler. Cirri utamanya adalah mencari keuntungan dengan berbagai cara dan sarana (kecuali yang jelas dilarang negara karena merusak masyarakat), mendewakan hak milik pribadi dengan membuka jalan selebar-lebarnya agar tiap orang meningkatkan kekayaan dan memeliharanya, dan membatasi campur tangan Negara dalam kehidupan ekonomi.
d.      Hedonisme
Salah satu aliran aksiolgis dalam filsafat adalah Hedonisme. Hedonisme erat kaitannya dengan Epicurus, karena dia yang menggagas hedonisme. Fokus pemikirannya adalah, bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai kenyamanan batin, dan kebebasan dari rasa sakit. Seluruh keinginan manusia adalah fitrah, dan layak untuk di puaskan. Intinya, karena manusia akan mati, maka manusia harus senang. Epicurus memiliki pandangan tentang agama dan kesenangan atau kenikmatan, yaitu:
1.      Pendapat Epicurus tentang agama dan Tuhan
“…Atau Tuhan mau menghapuskan keburukan, tetapi tidak mampu. Atau sebenarnya ia mampu, tetapi tidak mau. Atau ia tidak mampu dan tidak mau. Jikalau ia mau, tetapi tidak mampu, ia lemah…. Jikalau ia mampu, tetapi tidak mau, dia jahat…. Tetapi, jikalau Tuhan mampu dan mau menghapuskan kejahatan, … lantas bagaimana kejahatan ada di dunia?”
2.      Pandangan Epicurus tentang kenikmatan:
“Epicurus merekomendasikan kepada kita untuk mengejar kesenangan dan kebahagiaan, namun harus diingat, dia tidak pernah mengajarkan bahwa kita harus menjalani kehidupan dengan mementingkan diri sendiri (selfish) yang berdampak kepada terhalangnya kesenangan dan kebahagiaan untuk orang lain.
10    Kehidupan Praktis (Kontekstual) 
Pada masa ini, perkembangan filsafat diibaratkan sebagai Laut Dalam. Orang telah melakukan telaah secara mendalam tentang segala sesuatu yang menarik di benak atau fikirannya. Manusia berfilsafat sesuai pemikiran masing-masing, dan dapat merepresentasikan suatu hal dengan sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya, sesuai dengan sudut pandangan masing-masing. Berfilsafat dilakukan sesuai konteks tertentu, yang tidak harus merupakan hal besar, namun hal tersebut menjadi pokok perhatian bagi seseorang. jadi, objek berfilsafat antara satu orang dengan orang yang lainnya sangat mungkin berbeda-beda.
III.       KESIMPULAN
Dalam perkembangannya, filsafat seringkali mengalami pasang dan surut pada setiap periode. Masa pasang dan surut dalam tahap perkembangan filsafat tersebut membuktikan bahwa filsafat sebagai kegiatan olah fikir, tidak hanya tiba-tiba ada sebagai hasil pemikiran manusia sekarang, namun itu merupakan hasil perkembangan olah fikir sejak zaman dahulu. Dari hasil pemahaman perkembangan pasang surut filsafat sejak jaman yunani kuno hingga jaman sekarang, dapat ditarik kesimpulan secara umum bahwa keberadaan filsafat (akal) dan hati (agama) harus saling beriringan dan tidak saling mengalahkan.kejayaan filsafat tanpa agama tidak akan membawa kehidupan yang seimbang dalam masyarakat. Hal ini terbukti pada jaman yunani kuno dan awal jaman modern. Demikian pula kemenangan agama tanpa filsafat juga tidak akan membawa kedamaian. Hal ini terbukti pada masa abad ke 12/ 13 Masehi, dimana kekuasaan didominasi kekuatan gereja. Jadi, peran filsafat dan agama secara berimbang sangat diperlukan untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang seimbang dan damai.