Minggu, 31 Maret 2013

Konsep Dasar Psikologi Pendidikan


psikologi-sosialA.      Sejarah, Definisi dan Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan pada prinsipnya merupakan cabang dari psikologi. Psikologi sendiri merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa inggris, yaitu “psychology “, yang berarti roh, jiwa yang hidup, dan “ logos ” yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah ” psychology ” berarti “ ilmu jiwa “.
Berkaitan dengan makna harfiah psikologi perlu dijelaskan apakah sama antara psikologi dengan makna “ ilmu jiwa dengan istilah Ilmu jiwa sendiri. arti kata kedua istilah itu berdasarkan isinya sebenarnya sama, namun secara jelas akan dilihat perbedaannya sehingga tidak salah dalam penggunaannya. Adapun perbedaanya kita lihat yaitu:
  1.  Ilmu jiwa merupakan istilah dalam bahasa Indonesia sehari-hari dan dipahami setiap orang sehingga kita pun menggunakannya dalam arti yang luas karena masyarakat telah memahaminya. Sedangkan istilah psikologi merupakan suatu istilah ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah sehingga kita menggunakannya untuk merujuk kepada pengetahuan ilmu jiwa yang bercorak ilmiah
  2.  Ilmu jiwa digunakan dalam arti yang lebih luas dari pada istilah psikologi. Ilmu jiwa meliputi segala pemikiran, pengetahuan, tanggapan, dan juga segala khayalan dan spekulasi mengenai jiwa itu. Psikologi meliputi ilmu pengetahuan mengenai jiwa yang diperoleh secara sistematis dengan metode-metode ilmiah yang memenuhi syarat-syarat sebagaimana yang disepakati oleh para sarjana psikologi masa kini. Istilah ilmi jiwa merujuk pada ilmu jiwa pada umumnya. Sedangkan istilah psikologi merujuk pada ilmun jiwa yang ilmiah yang menurut norma ilmiah modern.
Untuk membedakannya secara jelas dapat dilihat contoh berikut: Apabila kita memperoleh kesan-kesan umum mengenai kecakapan dan sifat-sifat kepribadian seseorang , kita sebenarnya sudah melakukan kegiatan ilmu jiwa. Akan tetapi, kegiatan tersebut baru  kita sebut kegiatan psikologi apabila cara-cara mengumpulkan keterangan mengenai kecakapan dan dan sifat-sifat kepribadian seseorang dilengkapi dengan metode yang objektif, seperti tes-tes yang distandarisasi dan dengan wawncara serta observasi yang teratur dilakukan dengan sengaja oleh orang yang terlatih (gerungan,2004:1).
Istilah psikologi yang berarti ilmu jiwa sejak dahulu tidak pernah dijumpai kata sepakat. Sejak zaman yunani kuno, para filosof yunani kuno telah beruha mempelajari jiwa, namun pandangan mereka satu sama lain berbeda. Plato misalnya, mengatakan bahwa jiwa adalah ide, hipocrates berpendapat jiwa adalah karakter, sedangkan aristoteles mengartikan jiwa sebagai fungsi pengingat. Kemudian pada abad ke-17, rene Descartes, filosof prancis, berpendapat bahwa jiwa adalah  akal atau kesadaran.george Berkeley, filosof inggris yang hidup di akhir abad  ke-17, menyatakan bahwa jiwa adalah persepsi, sementara itu, jhon locke, filosof inggris lainnya, beranggapan bahwa jiwa adalah “ kumpulan ide yang disatukan melalui asosiasi.” (sarwono dalam desmita,2005:1)
Gagasan psikologi untuk memisahkan diri dari induknya ilmu filsafat pertama kali dikemukan oleh seorang fisiolog (dokter)  Wihelm wundt pada tahun 1987. Dia pula  yang pertama kali mendirikan laboratarium sendiri untuk melakukan ekperimen. Dan berdasarkan eksperimennnya objek studinya bukan lagi hal yang bersifat abstrak seperti filsafat, tetapi juga bukan reflex seperti ilmmu faal melainkan tingkah laku yang bisa dipelajari secara objektif. Sejak zaman Wundt inilah psikologi mulai dipandang sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Objek materialnya adalah gejala-gejala tingkah laku manusia, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, yang dapata diamati dan diukur secara lansung.
Sebagai suatu disipllin ilmu pengetahuan yang otonom, psikologi kemudian mempunyai aliran-aliran dan cabang-cabang, Karena terdapat perbedaan lapangan yang dipelajari. Dari sekian banyak cabang itu yang akan dipelajari adalah psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan merupakan bagian dari psikologi khusus, yang menguraikan dan menyelidiki kegiatan-kegiatan manusia dalam situasi pendidikan, situasi belajar, dan lain-lain.
Woolfolk dalam (rackhmat dkk, 2006:2) menjelaskan bahwa educational psychology is distinct from other branches of psychology because it has the understanding and improvement education as its primary goal.memahami pendidikan yang  dimaksud adalah memahami perilaku semua yang terllibat dalam proses pendidikan serta berbagai hal yang akan mempengaruhi perilakku individu dalam proses pendidikan. Terlingkup didalamnya perilaku peserta didik, guru, kepala sekolah, bangunan, pakaian, nuansa akademik, budaya, keyakinan yang dianut oleh lingkungan sekitar, dan sebagainya.
Psikologi pendidikan merupakan suatu disiplin ilmu yang peduli dengan proses pembelajaran serta penerapan metoda dan teori-teori psikologi dalam proses pendidikan. Woolfol (1995:11) menegaskan educational psychology:the discipline corcerned with teaching and learning processes; applies the method and theories of psychology and has its own as well. Pembelajaran yang dimaksud merupakan proses edukatif yang melibatkan pendidik dan peserta didik sebagai pelaku utamanya. Pendidik berperan berperan sebagai fasilitator terjadinya perkembangan peserta didik dan peserta didik merupaka subjek pembelajaran yang sedang mengembangkan dirinya. Dalam interaksi antara pendidik dan peserta didik terjadi saling mempengaruhi, terutama pengaruh pendidik terhadap perkembangan peserta didik. Dalam kerangka pendidikan ini, pendidik berupaya memilih metode pembelajaran yang tepat, yakni yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Psikologi pendidikan berkembang dan sesuatu yang mesti dipelajari bagi calon pendidik, sangat berkaitan dengan kondisi pendidikan sebelumnya. Selama ini pendidikan tidak memperhatikan kondisi peserta didik, tidak memperhatikan minat dan bakat peserta didik. Guru seolah sebagai penguasa dan menganggap peserta adalah ibarat botol kosong yang akan diisi air, akhirnya yang terjadi adalah pendidikan hanya dalam bentuk transfer knowledge saja. Dengan adanya psikologi pendidikan diharapkan akan lahir pendidikan yang humanistis yang memahmi peserta didik sesuai dengan keberadaanya.
B.      Ruang Lingkup psikologi Pendidikan
Karena psikologi pendidikan merupakan ilmu yang memusatkan perhatiannya pada penemuan dan apllikasi prinsip-prinsip dan tekhnik –tekhnik psikologi ke dalam pendidikan maka ruang lingkup psikologi pendidikan meiputi topik-topik psikologi yang erat hubungannya  dengan pendidikan.
Crow & Crow (Rachmat dkk,2006:3) secara ekspilist mengemukakan psikologi pendidikan sebagai ilmu terapan berusaha untuk menerangkan masalah belajar menurut prinsip-prinsip dan fakta –fakta mengenai tingkah laku manusia yang telah ditentukan secara ilmiah. Sejalan dengan pendapat itu Crow & crow mengemukakan bahwa data yang dicoba didapatkan oleh psikologi pendidikan , antara lain:
  1.  Sejauh mana Faktor-faktor pembawaan dan lingkungan yang berpengaruh terhadap belajar
  2.  Sifat- sifat dari proses belajar
  3.  Hubungan antara tingkat kematangan dengan dengan kesiapan belajar
  4.  Signifikansi pendidikan terhadap perbedaan-perbedaan individual dalam kecepatan dan keterbatasan belajar
  5. Perubahan-perubahan jiwa yang terjadi selama dalam belajar
  6.  Hubungan antara prosedur-prosedur mengajar dengan hasil belajar
  7. Tekhnik-tekhnik yang efektif bagi penilaian kemauan belajar
  8. Pengaruh/akibat relative dari pendidikan formal disbanding dengan pengalaman – pengalaman belajar yang incidental dan informal terhadap suatu individu
  9.  Nilai/mamfaat sikap ilmiah terhadap pendidikan bagi personil sekolah
  10. Akibat /pengaruh psikologis yang ditimbulkan oleh kondisi-kondisi sosiologis terhadap sikap siswa.
Seluruh kegaiatan interaksi pendidikan diciptakan bagi kepentingan siswa, yaitu embantu penngembangan semua potensi dan kecakapan yang dimiliki setingi-tingginya. Sehubungan dengan hal itu maka hal-hala yang berkaitan dengan perkembangan, potensi dan kecakapan, dinamika perilaku serta kegiatan siswa terutama perilaku belajar menjadi kajian utama dalam psikologi pendidikan.
Soemanto (2006:9) dalam pengamatannya tentang buku psikologi pendidikan, menyatakan bahwa ruang lingkup psikologi pendidika adalah:
  • Pengetahuan tentang psikologi pendidikan
  • Pentingnya psikologi pendidikan
  • Hereditas
  • Lingkungan fisiologis
  • Pertumbuhan dan perkembangan
  • Sifat dan hakikat kejiwaan manusia
  • Proses-proses tingkah laku
  • Hakikat dan ruang lingkup belajar
  • Factor-faktor yang mempengaruhi belajar
  • Prinsip-prinsip dan teori-teori belajar
  • Tekhnik-tekhnik pengukuran dan evaluasi
  • Statistic dasar
  •  Kesehatan mental
  • Pendidikan watak
  • Apabila psikologi pendidikan dalam metodologi pengajaran moderen
C.      Mamfaat Psikologi Pendidikan Bagi Pendidik
Para ahli psikologi pendidikan pada umumnya berkeyakinan bahwa dua orang anak (yang kembar sekalipun ) tidak pernah memiliki respons yang sama persis terhadap situasi belajar- mengajar di sekolah. Keduannya sangat mungkin berbeda dalam hal pembawaan, kematangan, jasmani, intelegensi, dan keterampilan motoriknya. Anak-anak itu seperti anak- anak yang lainnya, relative berbeda dalam kepribadian sebagaimana tampak dalam penampilan dan cara berpikir atau memecahkan masalah mereka masing-masing.
Berikut adalah hal-hala penting yang berkaitan dengan psikologi pendidikan (syah,1995).
  1. Psikologi pendidikan adalah pengetahuan yang pendidikan yang didasarkan atas hasil-hasil temuan riset psikologis.
  2. Hasil-hasil temuan riset psikologi pendidikan tersebeetu kemudian dirumuskan sedemikian rupa sehingga  menjadi konsep-konsep, teori-teori, dan metode-metode serta strategi-strategi yang utuh.
  3. Konsep, teori, metode dan strategi tersebut kemudian disistematisasikan sedemikian rupa menjadi” repertoire of resource”, yakni rangkaian sumber yang berisi pendekatan yang dipilih dan diginakan untuk praktik-praktik kependidikan khusus nya dalam proses belajar-mengajar.
Para ahli psikologi melekukan riset tingkah laku manusia berdasarkan metodologi ilmiah. Mereka menarik kesimpulan dan merumuskan teori-teori dan asumsi-asumsi berdasarkan temuan riset ilmiah itu namun harus diakui antara satu teori dengan teori yang lainnya sering muncul pertentangan dan ketidakajegan.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa psikologi pendidikan merupakan alat bantu yang penting bagi para penyelenggara pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan  yang telah ditetapkan. Prinsip-prinsip yang terkandung dalam psikologi pendidikan dapat dijadikan landasan berpikir dan bertindak dalam mengelola proses belejar-mengajar.
Setidak-tidaknya ada 10 macam kegiatan pendidikan yang banyak memerlukan prinnsip-prinsip psikologis, yakni:1) seleksi penerimanaan siswa baru; 2) perencanaan pendidikan; 3) penyusunan kurikulum; 4) penellitian kependidikan; 5) administrasi pendidikan ; 6) pemilihan materi pelajaran; 7) interaksi belajar mengajar; 8) pelayanan bimbingan dan konseling; 10) pengukuran dan evaluasi
Guru yang memiliki kompetensi dalam pespektif psikologi pendidikan adalah mereka yang mampu melaksnakan psofesinya secara bertanggung jawa. Adapun guru yang bertannggung jawab adalah guru-guru yang mampu mengelola proses belajar mengajar sebaik-sebaiknya sesuai dengan psinsip-prinsip psikologis. Berikut adalah beberapa hal yang dapat diambil sebagai mamfat psikologi pendidikan.
a)      Proses perkembangan siswa
Di kalangan para guru dan orang tua siswa terkadang timbul pertanyaan apakah perbedaan usia antara siswa satu dengan yang lainnya membuat perbedaan sunstansial dalam merespon pengajaran. Pertanyaan ini perlu dicari jawabannya melalui pemahaman tentang t ahapan-tahapan perkembangan siswa dan cirri-ciri khas yang mengiringi tahapan perkembangan tersebut.
Tahapan perkembangan yang lebih perlu dipahami sebagai bahan pertimbangan pokok dalam penyelenggaraan proses belajar-mengajar adalah tahapan-tahapan perkembangan yang berhubungan dengan perkembanngan ranah kognitif para siswa. Unsure kogintif dengan segala vvariasinya dan keunikannya merupakan modal dasar para siswa dalam menjalani proses belajar-mengajar.
b)      Cara belajar siswa
Dimanapun proses pendidikan berlansung alas an utama kehadiran guru adalah membantu siswa agar belajar sebaik-sebaiknya.pengetahuan anda yang pokok adalah mengenai proses belajar mengajar tersebut yang meliputi: 1) arti penting belajar, 2) teori-teori belajar, 3) hubungan belajar dengan teori dan pengetahuan; dan 4) fase-fase yang dilalui siswa dalam peristiwa belajar. Disamping itu yang tak kalah penting untuk diketahui adalah pendekatan belajar, kesulitan belajar dan alternative proses mengajar.
c)       Cara menghubungkan antara mengajar dengan belajar
Secara singkat mengajar adalah kegiatan menyampaikan materi pelajaran, melatih keterampilan dan menanamkan nilai moral yang terkandung dalam materi pelajaran tersebut kepada siswa, agar kegiatan mengajar ini diterima oleh para siswa, guru perlu  berusaha membagkitkan gairah dan minat belajar mereka. Dalam hal ini sangat diharapkan paada calon guru untuk memahami model-model mengajar,  metode-metode mengajar dan strategi yang dapat diterapkan dalam saat proses belajar  mengajar berlansung.
d)      Pengambilan kepuutusan untuk pengelolaan PBM
Dalam mengelola sebuah proses belajar mengajar, seoranng guru di tuntut untuk menjadi figure sentral yang kuat dan berwibawa, namun tetap bersahabat (syah,1995). Untuk memenuhihal tersebut anda diituntut mampu menempatkan diri sebagai pengambil keputusan atau pembuat keputusan yang penuh perhitungan untung rugi  berdasarkan kajian psikologis.
Agar pengelolaan PBM mencapai sukses, seorang guru hendaknya memandang dirinya sendirisebagai profesianal. Sehingga perilaku yang ditampilkan guru bersangkutan dapat terarah sesuai dengan karakteristik seorang professional. Berikut dikemukakakkan hambatan-hambatan pengambilan keputusan yang dialami seorang guru dalam proses belajar mengajar (syah,1995)
  1.  Kurangnya kesadaran guru terhadap masalah-masalah belajar yang mungkin sedang dihadapi oleh para siswa
  2. Kesetiaan terhadap gagasan lama  yang sebenarnya sudah diberlakukan lagi
  3. Kurangnya sumber-sumber informasi yang diperlukan
  4. Ketidak cermatan observasi terhadap  situasi belajar mengajar
Selain hal di atas, hambantan mungkin muncul dari perbedaan harapan antara guru dengan siswa . beberapa siswa dalam kelas misalnya, mungkin memiliki cita-cita memenuhi kebutuhan masa  depan nya yang sama sekali berbeda dengan rekan-rekannya atau bahkan menyimpang dari karakteristik sekolah  mereka ikuti.