Minggu, 24 Maret 2013

MAKALAH SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM “Nabi Muhammad saw Menjadi Rasul Sampai Hijrah ke Madinah”



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Sejak manusia berada di permukaan buni ini, hasratnya ingin mengetahui segala hukum dan kodrat alam yang terdapat di sekitarnya, besar sekali. Makin dalam ia meneliti, makin tampak kepadanya kebesaran alamat itu, melebihi yang semula. Kelemahan dirinya makin tampak pula pada keangkuhannya pun makin berkurang.
Demikianlah, Nabi saw yang membawa Islam itu pun sama pula dengan alam ini. Sejak bumi ini menerima cahaya Nabi. Kenabian adalah anugerah Tuhan, tak dapat dicapai dengan usaha. Tetapi ilmu dan kebujaksanaan Allah yang berlaku, diberikan kepada orang yang bersedia menerimanya, yang sanggup memikul segala bebannya. Allah lebih mengetahui di mana risalah-Nya itu akan ditempatkan.
Muhammad saw sudah disiapkan membawa risalah (misi) itu ke seluruh dunia, bagi si putih dan si hitam, bagi si lemah dan si kuat. Ia disipkan membawa risalah agama yang sempurna, dan dengan itu menjadi penutup para nabi dan rasul, yang hanya satu-satunya menjadi sinar petunjuk, sekalipun nanati langit akan terbelah, bintang-bintang akan runruh dan bumi ini pun akan berganti dengan bumi dan alam lain. Kesucian para nabi dalam membawa risalah dan meneruskan amanat wahyu itu adalah masalah yang tak dapat dimasuki oleh kaum cendekiawan. 

B.       Rumusan Masalah
Dari tulisan diatas, penulis akan membahas tentang Nabi Muhammad saw Menjadi Rasul Hingga Hijrah ke Madinah yaitu: Nabi Muhammad Saw. Uzlah, Wahyu Pertama dan Kedua, Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi dan Terang-Terangan, Sebab-Sebab Hijrah, Perintah Hijrah, dan Peristiwa Hijrah.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Nabi Muhammad Saw. Uzlah
Sampai umur 40 tahun, Muhammad giat berdagang. Sungguhpun begitu ia tidak hanya memikirkan kemajuan perdagangannya. Ia sangat prihatin melihat keadaan masyarakat sehari-hari. Muhammad beruzlah[1] mencari ketenangan dan petunjuk Allah di Gua Hira’ dari waktu-waktu sebelumnya.
Pada bulan Ramadhan dipersiapkan bekal yang lebih dari biasanya, sebab beliau akan lebih lama tinggal di sana. Beliau berkhalwat[2] dengan khusuk dan iklas, semata-mata beribadah kepada Allah. Pada malam ke-17 bulan Ramadhan, ketika beliau sedang berkhalwat, datanglah malaikat Jibril membawa wahyu pertama.
Sejak menerima wahyu pertama itulah, Muhammad diangkat menjadi utusan Allah. Sebagai nabi dan rasul, beliau mempunyai tugas untuk membimbing dan mengajak umatnya beriman kepada Allah kejalan yang benar.
Walaupun pada masa itu masyarakat Makkah terkenal dengan kebodohan dan kebejatan moralnya, namun Muhammad tidak terpengaruh oleh keadaan umatnya. Muhammad sering menyepi dan menyendiri dari keramain untuk menenangkan pikiran dan mencari hal-hal yang benar.
Muhammad melakukan uzlah karena keadaan masyarakat yang demikian rusak.
Beliau melakukan uzlah dengan tujuan seperti berikut ini:
1.    Menenangkan fikiran dari keramaian.
2.    Memohon petunjuk dari Allah.
3.    Mencari kebenaran yang hakiki.
Sejak usia 36 tahun sampai menginjak 40 tahun, pikiran Muhammad menjadi bertambah berat karena menyaksikan kehidupan masyarakat yang sangat bertentangan dengan pribadinya. Agar lebih mendapatkan ketenangan hati, muhammad menuju ke sebuah tempat yaitu Jabal Nur[3], sebuah tempat yang letaknya sulit dan berbahaya bila ditempuh manusia.

B.       Wahyu Pertama dan Kedua
Menjelang datangnya wahyu, Muhamad semakin sering pergi ke Gua Hira’ yang tempatnya di Jabal Nur. Seolah ada kekuatan lain yang mendorong semangat Muhammad untuk pergi ke tempat itu.
Pada hari Senin tanggal 17 Ramadhan tahun ke-4 dari kelahiran Muhammad, bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 Masehi datanglah orang yang berpakian serba putih. Orang itu ternyata Malaikat Jibril yang membawa wahyu pertama, tentang kebenaran yang selama ini dicari-cari oleh Muhammad.
Tatkala ia sedang dalam keadaan tidur dalam gua itu, ketika itulah datang malaikat membawa sehelai lembaran seraya berkata kepadanya “iqra” (bacalah) dengan terkejut Muhammad menjawab “saya tak dapat membaca”[4] ia merasa seolah malaikat itu mencekiknya, kemudian melepaskan seraya katanya lagi “iqra” (bacalah) masih dalam ketakutan akan dicekik lagi Muhammad menjawabab: “saya tak dapat membaca.” Ia seolah malaikat itu mencekiknya sekali lagi, kemudian melepaskannya kembali seraya berkata: “iqra” masih dalam ketakutan akan dicekik lagi Muhamaad menjawab: “apa yang saya baca?” seterusnya malaikat itu berkata :
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ
siarkanlah! (atau bacalah!) dengan nama Tuhanmu dan Penjagamu Yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumapal darah beku. Siarkanlah! Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan kepada manusia (menggunakan) pena. Mengajar manusia apa yang tak ia ketahui.” (Qura’an, 95:1-5).
Lalu ia mengucapkan bacaan itu. Malaikat pun pergi, setelah kata-kata itu terpatri dalam kalbunya.[5]
Tetapi ia kemudian terbangun ketakutan, sambil bertanya-tanya kepada dirinya: Gerangan apakah yang dilihatnya?! Ataukah kesurupan yang ditakutinya itu telah menimpanya?! Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi tak melihat apa-apa. Ia diam sebentar, gemetar ketakutan. Khawatir ia akan apa yang terjadi dalam gua itu. Ia lari dari tempat itu. Semuanya membingungkan. Tak dapat ia menafsirkan apa yang telah dilihatnya itu.
Cepat-cepat ia pergi dari celah-celah gunung sambil bertanya-tanya dalam hati: siapa gerangan yang menyuruhnya membaca itu?!. Yang pernah dilihatnya sampai saat itu sementara dia dalam tahanus, hanyalah mimpi hakiki yang memancar dari sela-sela renungannya, memenuhi dadanya, membuat jalan yang di hadapannya jadi terang-benderang, menunjukkan kepadanya, dimana kebenaran itu. Tirai gelap yang selama ini menjerumuskan masyarakat kuraisy kedalam lembah paganisme dan penyembahan berhala, jadi terbuka.
Sinar terang-benderang yang memancar di hadapannya dan kebenaran yang telah menunjukkan jalan kepadanya itu, adalah Yang Tunggal Maha Esa. Tetapi sipakah yang telah memberi peringatan tentang itu, dan bahwa Dia menciptakan manusia, dan bahwa Dia Maha Pemurah, Yang Mengajarkan kepada manusia dengan pena, mengajarkan apa yang belum diketahuinya?.
Ia memesuki pegunungan itu masih dalam ketakutan, masih bertanya-tanya. Tiba-tiba ia mendengar ada suara yang memanggilnya. Dahsyat sekali terasanya. Ia melihat ke permukaan langit. Tiba-tiba yang terlihat adalah malaikat dalam bentuk manusia. Dialah yang memanggilnya. Ia makin ketakutan sehingga tertegun ia ditempatnya. Ia mamalingkan muka dari yang dilihatnya itu. Sebentar ia melangkah maju, sebentar mundur, tetapi rupa malaikat yang indah itu tidak juga lalu dari depannya. Seketika lamanya ia dalam keadaan demikian. Dalam pada itu Khadijah telah mengutus orang mencarinya kedalam gua tetapi tidak menjumpainya.
Setelah rupa malaikat itu menghilang Muhammad pulang sudah berisi wahyu yang disampaikan kepadanya. Jantungnya berdenyut, hatinya berdebar-debar ketakutan. Dijumpainya Khadijah sambil ia berkata: “selimuti aku!” ia segera diselimuti. Tubuhnya menggigil seperti dalam deman. Setelah rasa ketakutan itu berangsur reda dipandangnya istrinya dengan pandangan mata ingin mendapat kekuatan. Dalam keadan beselimut itu dtanglah Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu Allah swt yang kedua. Wahyu allah tersebut berbunyi sebagai berikut.
$pkšr'¯»tƒ ãÏoO£ßJø9$# ÇÊÈ   óOè% öÉRr'sù ÇËÈ   y7­/uur ÷ŽÉi9s3sù ÇÌÈ   y7t/$uÏOur öÎdgsÜsù ÇÍÈ   tô_9$#ur öàf÷d$$sù ÇÎÈ   Ÿwur `ãYôJs? çŽÏYõ3tGó¡n@ ÇÏÈ   šÎh/tÏ9ur ÷ŽÉ9ô¹$$sù ÇÐÈ  
“Hai orang yang berselubung! Bangunlah dan berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu! Dan jagalah kebersihan pakaianmu! Dan tinggalkanlah segala yang keji! Dalam memberi janganlah mengharapkan yang lebih banyak (untuk dirimu)! Tetapi, demi Tuhanmu, sabar dan tabahlah!” (Qur’an, 74: 1-7)
“Khadijah, kenapa aku?” katanya. Kemudian diceritakannya apa yang telah dilihatnya, dan dinyatakannya rasa kekhawatiran akan teperdaya oleh kata hatinya atau akan jadi juru nujum saja.
Seperti juga ketika dalam suasana tahanus dan dalam suasana ketakutannya akan kesurupan, Khadijah yang penuh rasa kasih-sayang adalah tempat ia melimpahkan rasa damai dan tentram ke dalam hati yang besar itu, hati yang sedang dalam kekhawiran dan dalam gelisah. Ia tidak memperlihatkan rasa khawatir atau rasa curiga. Bahkan dilihatnya ia dengan pandangan penuh hormat, seraya berkata:
“O putra pamanku.[6] Bergembiralah, dan tabahkan hatimu. Demi Dia Yang memegang hidup Khadijah,[7] saya berharap kiranya Anda akan menjadi nabi atas umat ini. Allah samasekali tak akan mencemoohkan Anda; sebab Andalah yang mempererat tali kekeluargaan, jujr dalam kata-kata, Anda yang mau memikul beban orang lain dan menghormati tamu dan menolong mereka yang dalam kesulitan atas jalan yang benar.”
Muhammad sudah merasa tenang kembali. Dipandangnya Khadijah denganmata penuh terimakasihdan dan rasa kasih. Sekujur badannya sekarang terasa sangat letih dan perlu tidur. Ia pun tidur, tidur untuk kemudian bangun kembali membawa suatu kehidupan rohani yang kuat, yang luar biasa kuatnya. Suatu kehidupan yang sungguh dahsyat dan memesonakan. Tetapi kehidupan yang penuh pengorbanan, yang tulus dan ikhlas semata untuk Alla, untuk kebenaran dan perikemanusiaan. Itulah Risalah Tuhan yang akan diteruskan dan disampaikan kepada umat manusia dengan cara yang lebih baik, sehingga sempurnalah cahaya Allah, sekalipun oleh orang-orang kafir tidak disukai.
C.      Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi dan Terang-Terangan
Wahyu pertama yang diterima oleh Muhammad, merupakan pengangkatan sebagai nabi dan rasul utusan Allah. Setelah turun wahyu yang kedua Nabi Muhammad saw baru mulai berdakwah. Permulaan seruan Nabi ini dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Orang-orang yang mendapat ajakan pertam dari Nabi dan mau beriman diataranya, sebagai berikut.
1.    Khadijah, isteri Nabi Muhammad saw.
2.    Ali bin Abi Thalib, putera Nabi Muhammad.
3.    Zaid bin Haris, seorang budak dari rakyat jelata.
4.    Abu Bakar, seorang pemimpin atau pembuka Quraisy dan kenalan baik Nabi Muhammad saw.
Kemudian, melalui Abu Bakar masuk islam beberapa orang yaitu:
1.    Usman bin Affan,
2.    Zubair Ibnu Awwam,
3.    Sa’ad Ibnu Abi Waqash,
4.    Abdurrahman bin Auf,
5.    Thalhah bin Ubaidilah
6.    Abu Ubaidah bin Jarrah, dan
7.    Arqam bin Abil Arqam.
Meraka yang disebut di atas terkenal dengan sebutan “Assabiqunal Aw-walun”[8]
Nabi berdakwah secara sembunyi-sembunyi kurang lebih dari tiga tahun. Dakwah itu dilakukannya seorang demi seorang dan dari kerumah. Hal ini dilakukan karena blum ada perintah Allah secara tegas menyiarkan Islam secara terbuka.
Nabi Muhammad saw memulai dakwah secara terang-terangan, mengajak kepada ajaran tauhid, yaitu sesudah beliau menerima wahyu dari Allah. Wahyu tersebut dalam Al Quran surah Al Hijr: 94
÷íyô¹$$sù $yJÎ/ ãtB÷sè? óÚ̍ôãr&ur Ç`tã tûüÏ.ÎŽô³ßJø9$# ÇÒÍÈ  
Artinya: “ Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik”. (Q.S. Al Hijr: 94)
Sejak itu Rasulullah mulai menyeru kepada semua orang dengan terang-terangan. Mereka diajak untuk masuk agama Islam, dan disuruh meninggalkan agama nenek moyangnya, yang menyembah berhala.
Dari setiap seruan Nabi, ada diataranya yang beriman dan banyak pula yang membantahnya. Bahkan mereka memusihi Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya.
Namun, karena pertolongan Allah, akhirnya seorang tokoh pemberani dan sangat menentang ajaran Nabi Muhammad saw masuk Islam. Ia membaca kalimat syahadat di hadapan Nabi Muhammad saw. Tokoh pemberani itu bernama Umar bin Khattab. Kemudian, tokoh yang lain, yaitu Hamzah bin Abdul Mutallib juga masuk Islam.
Para pemimpin Quraisy banyak yang membenci dan menentang Nabi dan pengikutnya. Mereka berusaha menghentikan dakwah beliau yang semakin lama bertambah banyak pengikutnya. Sejak itulah, Nabi dan pengikutnya menghadapi bermacam rintangan, kesulitan, dan hinaan.
Para pemimpin Quraisy menghalangi dakwah Nabi dengan berbagai cara, antara lain sebagai berkut.
1.    Menghina dan mengejek Nabi Muhammad saw.
2.    Menganiaya dan mengejar-ngejar para pengikut Nabi.
3.    Memutuskan hubungan dengan orang Islam. Misalnya, mengadakan boikot perdagangan, pergaulan dan lainnya.
4.    Membujuk Nabi dengan harta, kedudukan, dan wanita.
Walaupun tekanan dan rintangan sering dilakukan, iman Nabi dan pengikutnya tidak goyah. Pada akhirnya orang Quraisy memutuskan untuk membunuh Nabi dengan menganiaya orang-orang Islam. Untuk melindungi para pengikutnya, Nabi memerintahkan sebagian orang Islam hijrah kenegeri lain. Hijrah pertama di negeri Habsyi, kemudian hijrah ke Madinah.
D.   Sebab-Sebab Hijrah
Hijrah adalah peristiwa pindahnya Nabi Muhammad s.a.w, beserta para pengikutnya dari Mekkah menuju tempat lain. Tempat yang dituju adalah tempat yang memungkinkan agama Islam berkembang dengan baik. Pengikut Rasul yang ikut hijrah itu disebut muhajirin. Hijrah Rasul dilakukan berulang secara bertahap disetiap tempat yang dituju.
Hijrah pertama dilakukan ke negeri Habsy (Ethiopia) pada 615 M, atau tahun ke-5 dari kenabian. Rasul menyuruh umatnya hijrah ke Habsy karena negeri itu ada seorang raja yang beragama Nasrani. Raja itu melarang orang menganiaya orang lain. Hijrah yang pertama ini diikuti oleh 15 orang, terdiri atas 10 orang laki-laki dan 5 orang wanita. Kemudian, pada tahap kedua menyusul rombongan dengan jumlah 101 orang, terdiri atas 83 orang laki-laki dan 18 orang wanita.
Hijrah yang kedua menuju kota Madinah pada tanggal 28 Juni 622 M atau 12 Rabiulawal tahun ke-1 Hijrah. Penduduk Madinah (Yatsrib) pada waktu itu telah mendengar dan mengenal tentang Rasul, wahyu, surga, neraka, dan lainnya. Sebab banyak orang Yahudi dan Nasrani yang tinggal di Madinah. Mereka juga mengenalkan agama Allah sebelum datangnya ajaran Islam.
Nabi Muhammad s.a.w, memerintahkan hijrah ke Madinah karena agama Islam dinilai akan lebih baik dan berkembang bila dibandingkan di Kota Mekkah. Sudah menjadi adat kebiasaan bagi penduduk di Jazirah Arab, setiap tahun berziarah ke Kakbah di Mekkah, termasuk penduduk kota Madinah. Lama kelamaan mereka mengenal dan mengerti ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw.
Dengan hijrahnya Nabi ke Madinah maka agama Islam dapat berkembang dengan baik. Orang-orang madinah tidah sekeras suku Quraisy Mekkah dalam menerima ajaran agama Islam.
Penduduk Madinah yang pertama kali masuk Islam ialah dari suku Khazraj dan Aus. Pada tahun 621 M atau tahun ke-12 dari kenabian, mereka datang menghadap Nabi Muhammad saw. Secara rahasia disuatu tempat yang bernama Aqabah[9]. Ditempat itu mereka mengadakan perjajian Aqabah atau bait yang pertama. Perjanjian itu brisi sumpah untuk mematuhi dan menjalankan agama Islam dan tidak akan melanggar apa yang dilarang agama Islam.
Selang beberapa lama diadakan perjanjian Aqabah kedua. Pada waktu itu Nabi didatangi lagi rombongan lebih besar dari sebelumnya, yaitu 75 orang yang ingin dibaiat. Pada perjanjian Aqabah kedua mereka maminta Nabi Muhammad s.a.w agar  segera hijrah ke Madinah. Mereka menjamin apabila Nabi dan para pengukitnya tinggal di Madinah, akan ditanggung keselamatannya dan dibela dengan sekuat tenaga. Penduduk Yatsrib (Madinah) mengharab Nabi segera hijrah dengan beberapa pertimbangan, antara lain sebagai berikut.
1.    Kaum kafir Quraisy tetap mengancam, memusuhi, dan menganiaya Nabi dan para pengikutnya.
2.    Agama islam yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. Telah diterima oleh masyarakat Madinah.
3.    Suku Khazraj, Aus, serta orang yang beriman kepada Nabi telah sepakat menjamin keselamtan  Nabi dan para pengikutnya.
Sebab-sebab itulah yang menyebabkan terjadinya perjanjian Aqabah kedua. Mereka mengetahui penderitaan Nabi dan para pengikutnya yang tidak pernah berhenti dari tekenan dan ancaman kaum kafir Quraisy, Mekkah. Akhirnya, tawaran dari masyarakat Madinah diterima oleh Nabi. Karena kasihan melihat penderitaan kaum muslimin di Mekkah.
 Perjanjian Aqabah kedua ini diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy. Kekejaman mereka terhadap kaum muslimin semakin meningkat. Penyiksaan terhadap pengikut Nabi lebih hebat lagi, misalnya dipukuli, dijemur diterik matahari, dan dibunuh. Akan tetapi, tantangan yang demikian dihadapi kaum muslimin dengan iman yang teguh. Mereka menggap ajaran Nabi Muhammad s.a.w itulah yang paling benar.
Dengan mendapat pertolongan dari Allah s.w.t, pada saat memuncaknya kekejaman kaum kafir Quraisy, maka tokoh penentang danmusuh Islam telah menyatakan diri masuk agama Islam. Mereka itu adalah Hamzah dan Umar bin Khattab. Hal itu membuat kuat agama Islam.
E.   Perintah Hijrah
Rencana Quraisy akan membunuh Muhammad pada malam hari karena dikhawatirkan akan hijrah ke Madinah dan memperkuat diri disana serta segala bencana yang mungkin menimpa perdagangan mereka dengan Syam sebagai akibatnya, beritanya sudah sampai kepada Muhammad. Memang tak ada orang yang menyaksikan, bahwa Muhammad akan menggunakan kesempatan untuk hijrah. Tetapi, karena begitu kuat ia dapat menyimpan rahasia, tiada seorang pun mengetahui, juga Abu Bakar, orang yang pernah menyiapkan dua ekor unta kendaraan tatkala ia meminta izin kepada Nabi akan Hijrah. Muhammad sendiri memang masih tinggal di Makkah ketika ia sudah mengetahui keadaan Quraisy itu dan ketika Muslimin sudah tak ada lagi yang tinggal selain sebagian kecil saja. Dalam ia menantikan perintah Allah yang akan mewahyukan hijrah kepadanya, ketika itu tiba-tiba datang wahyu supaya ia hijrah. Setelah itulah ia pergi kerumah Abu Bakar dan memberitahukan, bahwa Allah telah mengizinkan ia hijrah. Abu Bakar ingin sekali menemaninya dalam perjalanan hijrahnya itu; dan permintaannya itu pun dikabulkan.
Disinilah dimulainya kisah yang paling cemerlang dan indah yang pernah dikenal manusia dalam sejarah pengejaran yang penuh bahaya, demi kebenaran, keyakinan dan iman. Sebelum itu Abu Bakar memang sudah menyiapkan dua ekor unta yang diserahkan pemeliharaannya kepada Abdullah bin Uraiqit sampai nanti tiba waktunya diperlukan. Tatkala kedua orang itu sudah siap-siap akan meninggalkan Makkah, mereka yakin sekali, bahwa Quraisy pasti akan membuntuti mereka. Oleh karena itu Muhammad memutuskan akan menempuh jalan lain dari yang biasa. Juga akan yang berangkat bukan pada waktu yang biasa.
Sebelum Nabi Muhammad saw keluar rumah, kemenakan Nabi, Ali bin Abi talib, disuruh tidur ditempat pembarinagan beliau dengan memakai selimut. Kemudian Nabi pergi kerumah Abu Bakar untuk mengajaknya hijrah ke Madinah. Saat terbangun para pemuda masih yakin bahwa beliau masih tidur. Tetapi, menjelang larut malam, dengan setidak tahuan mereka Muhammad sudah keluar menuju rumah Abu Bakar. Kedua orang itu kemudian keluar dari pintu kecil di belakang, dan terus bertolak ke arah selatan menuju gua Saur.[10] Bahwa tujuan kedua orang itu melalui jalan ke selatan arah ke Yaman samasekali di luar dugaan.
Semenatara Abu Bakar menyuruh anaknya, Abdullah, agar menemuinya dimalam hari untuk memberitahukan reaksi masyarakat disiang hari perihal mereka berdua. Begitu juga ia menyuruh ‘ Amir bin Fuhairah agar menggembalakan kambing dising harinya untuk menghilangkan jejak kaki mereka berdua sedang pada petang harinya supaya menemui mereka berdua di gua tersebut. Sementara Asma’ binyi Abu  Bakar disuruh agar mengantarkan makanan kepada mereka berdua pada petang hari.
Nabi Muhammad s.a.w dan Abu Bakar merasa khawatir kalau-kalau kafir Quraisy berhasil menyakiti mereka berdua, hanya saja perasaan tersebut dapat ditepis dengan kesabaran.
Para pemuda pilihan yang diberi tugas membunuh Nabi itu, sampai juga ditempat persembunyian beliau. Mereka membawa pedang dan tongkat sambil mundar-mandir mencari segenap penjuru. Tidak jauh dari gua Saur itu mereka bertemu sdengan seorang gembala, yang ketika ditanya ia menjawab.
“mungkin saja mereka dalam gua itu, tetapi saya tidak melihat ada orang yang menuju ke sana”
Ketika mendengar jawaban gembala itu Abu Bakar berkeringat dingin. Khawatir mereka akan menyerbu ke dalam gua. Dia menahan napas, tidak bergerak, dan hanya menyerahkan nasibnya kepada Allah. Beberapa orang Quraisy datang menaiki gua itu, tetapi salah seorang itu turun lagi.
“Kenapa tidak menjenguk ke dalam gua ?” tanya kawan-kawannya.
“Ada sarang laba-laba ditempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad lahir,” jawabannya, “dan saya melihat ada dua ekor burung dari hutan di lubang gua itu. Jadi saya tahu tak ada orang di sana.”
Akan tetapi mereka tidak menyangka kalau di dalam gua itu ada orangnya. Setelah 3 hari 3 malam di Gua Sur dan telah merasa aman, keluarlah beliau untuk melanjutkan perjalanannya menuju Madinah. Inilah peristiwa hijrah Nabi yang paling besejarah. Atas usul Umar bin Khattab peristiwa tersebut dijadikan awal tahun hijrah dalam Islam. Peristiwa ini bertepatan dengan tanggal 12 Rabiulawal tahun ke-1 Hijriah atau tanggal 28 Juni 622 Masehi.
F.   Peristiwa Hijrah
Selama ini Nabi dengan segala kesungguhan terus berdakwa bagi tersebarnya Islam. Para keluarganya, baik yang telah masuk Islam maupun yang masih tetap kafir, selalu membela, sekalipun mereka harus berhadapan dengan beragam tantangan  yang sangat keras. Ketika tahun kesepuluh dari ayat pertama turun kepadanya berlalu beliau harus menerima kenyataan walau pahit dirasakan, yakni paman beliau yang selama ini melindungi, Abu Thalib, wafat. Dia wafat dalam keadaan kafir sekalipun ia membenarkan kerasulan beliau dan selalu membelanya. Hal ini ditempuhnya karena takut dipermalukan dan dicaci bila ia meninggalkan jejak dan pusaka nenek monyangnya.
Kemudian sesudah Abu Thalib wafat Khadijah pun wafat pula. Keduanya wafat kurang lebih tiga tahun sebelum beliau hijrah. Dengan demikian, Rasulullah s.a.w. kehilangan dua orang yang selama ini besar sekali pertolongannya. Kini keberadaan beliau di Mekkah menjadi penuh dengan bahaya.
Beliau telah 13 tahun menyiarkan agama Islam di Makkah. Semakin hari bertambah banyak pengikutnya walaupun mendapat tantangan dan hambatan dari kafir Quraisy.
Melihat kenyaatan itu, orang-orang Islam di Madinah meminta kepada Nabi Muhammad dan pengikutnya segera hijrah ke Madinah. Pada mulanya Nabi belum menerima usul tersebeut. Beliau khawatir di Madinah nanti mereka akan mengalami penderitaan yang sama seperti yang dialami di Makkah. Tetapi karena berulang kali desakan dan permintaan itu diajukan kepada beliau, akhirnya beliau memutuskan untuk melakukan hijrah ke Madinah. Hal itu karena adanya jaminan yang termuat dalam perjanjian Aqabah kesatu dan Aqabah kedua. Perjanjian itu berisi jaminan kaum muslimin Madinah untuk menjamin keselamatan  Nabi dan para pengikutnya bila hijrah ke Madinah.
Menjelang beliau hijrah ke Madinah, orang-orang kafir Quraisy telah sepakat dan memutuskan untuk membunuh Nabi Muhammad s.a.w. Untuk itu mereka memilih pemuda-pemuda yang berani dan kuat. Akhirnya, terpilihlah 12 pemuda yang mewakili setiap suku yang ada di Makkah. Para pemuda tersebut harus mengepung rumah Nabi pada malam hari. Pembunuhan itu harus dilakukan pada waktu subuh ketika Nabi menuju ke masjid.
Akan tetapi rencana mereka tidak berhasil karena Allah s.w.t melindungi dan menyelamatkan Nabi Muhammad s.a.w. Pada malam itu, turunlah wahyu Allah agar Nabi hijrah ke Madinah. Perintah itu dilaksanakan pada malam hari itu juga.
Ketika Nabi akan hijrah ke Madinah tidak ada yang diberi tahu, kecuali sahabat Abu Bakar dan beberapa keluarga terdekatnya. Berangkatlah Nabi dan Abu Bakar pada malam hari menuju Madinah. Hijrahnya kaum muslimin itu dilakukan dengan diam-diam dan secara rahasia. Umar bin Khattab yang berani berangkat dengan terang-terangan, bahkan memberitahukan kepada kafir Quraisy. Orang yang berani menghalangi keberangkatannya dan kaum muslimin, pasti akan berhadapan dengan pedang Umar bin Khattab.
Ada cerita menarik dari peristiwa hijrah pada saat Nabi Muhammad keluar dari rumahnya.
Sebelum Nabi Muhammad saw keluar rumah, kemenakan Nabi, Ali bin Abi talib, disuyruh tidur ditempat pembarinagan beliau dengan memakai selimut. Kemudian Nabi pergi kerumah Abu Bakar untuk mengajaknya hijrah ke Madinah. Saat terbangun para pemuda masih yakin bahwa beliau masih tidur. Sebelum menuju Madinah beliau dan Abu Bakar berhenti di Gua Sur.
Semenatara Abu Bakar menyuruh anaknya, Abdullah, agar menemuinya dimalam hari untuk memberitahukan reaksi masyarakat disiang hari perihal mereka berdua. Begitu juga ia menyuruh ‘ Amir bin Fuhairah agar menggembalakan kambing dising harinya untuk menghilangkan jejak kaki mereka berdua sedang pada petang harinya supaya menemui mereka berdua di gua tersebut. Sementara Asma’ binyi Abu  Bakar disuruh agar mengantarkan makanan kepada mereka berdua pada petang hari.
Nabi Muhammad s.a.w dan Abu Bakar merasa khawatir kalau-kalau kafir Quraisy berhasil menyakiti mereka berdua, hanya saja perasaan tersebut dapat ditepis dengan kesabaran.
Pada waktu Nabi keluar dari Mekkah untuk hijrah Madinah (Yatsrib), orang-orang kafir Quraisy mebuat seyembara dengan imbalan seratus unta bagi orang yang dapat menunjukkan di mana Muhammad berada atau dapat membawa pulang Muhammad ke Makkah.
Para ahli geografi Arab telah menggabarkan kondisi tanah anatara Makkah dan Madinah. Kondisi tanahnya sukar dilalui berbahaya, karena tidak ditemukan mata air dan tumbuh-tumbuhan yang dapat menolong para musafir saat melakukan perjalanan. Jalan menuju Madinah dan Makkah atau sebaliknya hanya dapat ditempuh melalui dua jalur : pertama, melalui arah timur yang bersebelahan dengan negeri Nejed. Kedua, melalui arah barat yang bersebelahan dengan pantai laut merah. Kemudian penunjuk jalan telah memilih jalur kedua. Hanya saja dia tidak menyelusuri seperti pengguna jalan ini sepenuhnya, melainkan berbelok-belok ke sana kemari karena menghindarkan diri (agar jejaknya tidak dapat ditelusuri) dari kejaran orang-orang Quraisy dan orang yang berharap dapat memperoleh hadiah yang telah dijanjikan kepada siapa yang berhasil membawa pulang Rasulullah ke Makkah.[11]
Para pemuda pilihan yang diberi tugas membunuh Nabi itu, sampai juga ditempat persembunyian beliau. Akan tetapi mereka tidak menyangka kalau di dalam gua itu ada orangnya. Setelah 3 hari 3 malam di Gua Sur dan telah merasa aman, keluarlah beliau untuk melanjutkan perjalanannya menuju Madinah. Inilah peristiwa hijrah Nabi yang paling besejarah. Atas usul Umar bin Khattab peristiwa tersebut dijadikan awal tahun hijrah dalam Islam. Peristiwa ini bertepatan dengan tanggal 12 Rabiulawal tahun ke-1 Hijriah atau tanggal 28 Juni 622 Masehi.
Hijrah Nabi Muhammad s.a.w ke Madinah ini terjadi setelah 13 tahun beliau menyiarkan Islam di Makkah. Disamaping itu, berhijrah dilakukan atas permintaan dan harapan kaum muslimin Madinah yang ingin menolong dan melindungi Nabi serta para pengikutnya dari musuh-musuhnya. Hal ini lebih dipertegas dengan perintah Allah agar segera berhijrah malam itu juga ketika rumah Nabi dikepung oleh pemuda-pemuda kaum Quraisy.
Kedatangan Nabi dan para pengikutnya sangat diharapkan oleh kaum Muslim di Madinah. Sejak mendengar Nabi akan pindah ke Madinah, mereka khawatir bila beliau dan pengikutnya mendapat gangguan dalam perjalanannya.
Sebelum memasuki kota madinah, Nabi Muhammad s.a.w beristirahat disebuah desa bernama Quba. Maka didesa itulah beliau mendirikan masjid yang pertama kali dan diberi nama “Masjid Quba”.
Setelah Nabi Muhammad s.a.w memasuki kota Madinah, kaum muslim Madinah menyambutnya dengan gembira dan senang hati. Kaum muslim Madinah mengharapkan agar beliau dapat singgah dan tinggal dirumah mereka. Akan tetapi Nabi tetap berada diatas punggung unta, sebelum para pengikutnya mendapat tempat tinggal. Beliau akan turun dan tinggal ditempat untanya berhenti.
Akhirnya unta itu berhenti di depan rumah seorang yang miskin bernama Abu Ayub Al Ansari. Disitulah Nabi Muhammad saw tinggal untuk sementara. Kemudian setelah beberapa lama tinggal di Madinah beliau mendirikan Masjid Nabawi. Disekitar masjid itulah beliau bertempat tinggal sampai akhir hayatnya.
Dikota Madinah inilah Nabi Muhammad s.a.w dapat menyiarkan Islam dengan leluasa. Hal ini karena tidak ada lagi yang menghalangi dan memusuhi beliau seperti dikota Makkah. Sebab-sebab lain Islam dapat berkembang dengan baik di Madinah adalah mendapat dukungan dan pertolongan dari muslim Madinah.
Orang-orang yang mnegikuti Nabi Muhammad s.a.w hijrah dari Mekkah ke Madinah disebut “Muhajirin”. Muhajirin artinya orang-orang yang berhijrah, sedangkan orang-orang yang menyambutnya dan menolong kaum muslimin dari Mekkah ke Madinah disebut “Ansar” 
Sebab-sebab yang mendorong Nabi Muhammad s.a.w melakukan hijrah anatara lain sebagai berikut.
1.    Nabi Muhammad s.a.w ingin mengembangkan ajara Islam.
2.    Karena menghadapi tekanan dan kekejaman kafir Quraisy terhadap Nabi dan para pengikutnya.
3.    Nabi Muhammad s.a.w ingin mengetahui bahwa ditempat yang dituju, Islam akan lebih mudah berkembang dan diterima oleh umatnya.
4.    Adanya perjanjian Aqabah kesatu dan kedua yang berisi antara lain, suku Khazraj dan Aus akan menjaga keselamatan Nabi dan para pengikutnya. 

 
BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Telah dijelaskan di muka, bahwa waktu Muhammad lahir keadaan Makkah sudah tercemar oleh kebejatan moral penduduknya, dan Muhammad merasa bertanggung jawab dengan keadaan umat yang yang terbelenggu nuraninya itu. Menjelang, kerasulannya Muhammad sering melakukan uzlah, dengan tujuan memeperoleh petunjuk dari Allah untuk kebaik Muhammad melakukan uzlah karena keadaan masyarakat yang demikian rusak.
Beliau melakukan uzlah dengan tujuan seperti berikut ini:
1. Menenangkan fikiran dari keramaian.
2. Memohon petunjuk dari Allah.
3. Mencari kebenaran yang hakiki.
Menjelang datangnya wahyu, Muhamad semakin sering pergi ke Gua Hira’ yang tempatnya di Jabal Nur. Seolah ada kekuatan lain yang mendorong semangat Muhammad untuk pergi ke tempat itu.
Pada hari Senin tanggal 17 Ramadhan tahun ke-4 dari kelahiran Muhammad, bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 Masehi datanglah orang yang berpakian serba putih. Orang itu ternyata Malaikat Jibril yang membawa wahyu pertama, tentang kebenaran yang selama ini dicari-cari oleh Muhammad.
Menjelang datangnya wahyu, Muhamad semakin sering pergi ke Gua Hira’ yang tempatnya di Jabal Nur. Seolah ada kekuatan lain yang mendorong semangat Muhammad untuk pergi ke tempat itu.
Pada hari Senin tanggal 17 Ramadhan tahun ke-4 dari kelahiran Muhammad, bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 Masehi datanglah orang yang berpakian serba putih. Orang itu ternyata Malaikat Jibril yang membawa wahyu pertama, tentang kebenaran yang selama ini dicari-cari oleh Muhammad.
Hijrah pertama dilakukan ke negeri Habsy (Ethiopia) pada 615 M, atau tahun ke-5 dari kenabian. Rasul menyuruh umatnya hijrah ke Habsy karena negeri itu ada seorang raja yang beragama Nasrani.
Rencana Quraisy akan membunuh Muhammad pada malam hari karena dikhawatirkan akan hijrah ke Madinah dan memperkuat diri disana serta segala bencana yang mungkin menimpa perdagangan mereka dengan Syam sebagai akibatnya, beritanya sudah sampai kepada Muhammad.
Nabi Muhammad saw adalah rasulullah, semua perilakunya berdasarkan pada wahyu. Apapun yang terjadi, diterima sebagai resiko penegak kebenaran, sekalipun siksaan terhadap para sahabat, boikot yang bertahun-tahun dan sulitnya perkembangan Islam.
B.       Saran
Semoga makalah ini berguna bagi pembaca terkhusus untuk penulis sendiri. Untuk itu kritik dan saran dari pembaca sanagat penulis harapan guna paerbaikan makalah dimana yang akan datang.

 
DAFTAR PUSTAKA

Bahreisy, Salim. 1982  Sejarah Nabi-Nabi,  (Qisasul Anbiya’). Surabaya: PT Binu Ilmu.
Departemen Agama RI. 2005. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung: CP Penerbit di Ponegoro
Funun” , (Lebisk dan London) tahun 1835-1858
Haekal, Husain Muhammad. 2005 Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: P.T. Tintamas Indonesia
Haekal, Husain Muhammad. 2011 Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: P.T. Tintamas Indonesia.
Hasan, Ibrahim. 2002 Sejarah dan Kebudayaan Isalm. Jakarta: Kalam Mulia.
Hasim,  1975 Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Kasyf  Azh Zhunun, An ‘Asami Al Kutub Wa Wa.
Sjalabi, A. 1960 Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jogjakarta
Wahid, Achmadi. Dk 2008 Sejarah Kebudayaan Islam. Yogyakarta: P.T.Pustaka Insani Madani.