Minggu, 24 Maret 2013

Ruang Lingkup Psikologi Agama

    A.     Pengertian Psikologi Agama
Psikologi agama menggunakan dua kata yaitu psikologi dan  agama. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari gejala manusia yang normal, dewasa dan beradab. Objek psikologi adalah tingkah laku  manusia atau gejala kejiwaan.
      Menurut Robert  H. Thouless, Psikologi sekarang dipergunakan secara umum untuk ilmu tentang tingkah laku dan pengalaman manusia ( 1992 : 13).
Sedangkan pengertian Agama adalah pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan manusia, dengan kekuatan ghoib yang mana harus kita akui dan patuhi, atau pengakuan terhadap ajaran-ajaran yang diwahyukan tuhan kepada manusia melalui seorang rosul. ( Harun Nasution :  10).
 ü  Menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat, psikologi agama yaitu ilmu yang meneliti kehidupan beragama pada seseorang untuk mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap tingkah laku kehidupan pada umumnya.
 ü  Menurut robert thouless, psikologi agama yaitu ilmu yang bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap perilaku  keagamaan dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologi yang dipungut dari kajian terhadap perilaku bukan keagamaan saja.[1]
Dengan penjelasan ini maka kita dapat menyimpulkan bahwa psikologi agama yaitu ilmu yang mempelajari gejala manusia yang normal, dewasa yang berhubungan dengan pengakuan hubungan batin dan kejiwaan terhadap ajaran-ajaran yang dibawa oleh rosul sehingga menjadikan orang tersebut beradab.
    B.     Cabang Psikologi Agama
  
  Beberapa cabang psikologi agama meliputi:
   a)      Cabang psikologi agama pada tingkat usia tertentu, yaitu psikologi anak, psikologi remaja dan psikologi orang tua, yang mana cabang psikologi ini mempelajari perkembangan kejiwaan pada manusia dari usia dini sampai usia tua akan tetapi cabang psikologi ini bersifat linier atau perkembangan kejiwaan yang selalu berubah menurut keadaan dan usia seseorang.
   b)      Cabang psikologi pada perbedaan antara manusia yang sudah berbudaya, yaitu cabang psikologi yang kaitannya dengan kondisi mental (keyakinan agama dan budaya) manusia yang berbeda–beda, sehingga untuk mempelajarinya dibutuhkan psikologi agama yang khusus. Maka munculah psikologi abnormal dari para psikolog, yaitu orang yang memiliki kemampuan inderawi yang istimewa. Seperti psikolog abnormal William James yang mana beliau menyimpulkan bahwa adanya cabang psikologi agama ini bisa menjadikan agama sebagai jalan menuju keunggulan manusia. Sebab agama mempunyai peranan sentral dalam menentukan perilaku manusia ( James, 1958: 59).
  
    C.     Ruang Lingkup dan Kegunaannya
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama ini memiliki ruang lingkup pembahasan yang tersendiri dan berbeda. Pernyataan Robert H. Thouless memusatkan kajiannya pada agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat itu sendiri. Kajian berpusat pada pemahaman terhadap perilaku keagamaan tersebut dengan dengan menggunakan pendekatan psikologi. ( Robert H. Thouless ).
Lebih lanjut, Prof. Dr. Hj. Zakiyah Daradjat menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencangkup proses beragama dengan pengaruh akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan ( terhadap sesama manusia). 
Seperti juga  ruang lingkup psikologi agama menurut Zakiah Daradjat, itu mempunyai ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi agama,  meliputi kajian mengenai :
    1.      Mengenai macam-macam emosi yang menjalar diluar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa atau umum.seperti perasaan lega dan tentram sehabis sembahyang , dan perasaan ketegangan batin sesudah berdoa atau membaca ayat-ayat suci.
   2.      Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang menjadi individual terhadap tuhannya, misalkan rasa tenteram dan kelegaan batin.
    3.      Mempelajari, meneliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati( akhirat ) pada tiap-tiap orang.
    4.      Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
    5.      Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat-ayat suci kelegaan batinnya.[2] 
    
    D.     Metode Penelitian Psikologi Agama
Psikologi agama memiliki metode penelitian ilmiah, kajian yang dilakukan dengan mempelajari fakta-fakta berdasarkan data yang terkumpul dan dianalisis secara objektif. Karena agama menyangkut masalah yang berkaitan dengan kehidupan batin yang sangat mendalam, maka masalah agama sulit untuk diteliti secara seksama, terlepas dai pengaruh-pengaruh sujektifitas. Namun demikian agar penelitian mengenai agama dapat dilakukan lebih netral, dalam arti tidak memihak kepada suatu keyakinan atau menentangnya. Maka diperlukannya adanya sikap objektif.
Dalam penelitian psikologi agama perlu diperhatikan antara lain:
1.      Memiliki kemampuan dalam meneliti kehidupan dan kesadaran batin manusia.
2.      Memiliki keyakinan bahwa segala bentuk pengalaman dapat dibuktikan secara empiris.
3.      Dalam meneliti harus bersifat filosofis spiritual
4.      Tidak mencampuradukkan antara fakta dengan angan-angan atau perkiraan khayali
5.      Mengenal baik masalah-masalah psikologi dan metodenya
6.      Memiliki konsep mengenai agama serta mengetahui metodeloginya
7.      Menyadari tentang adanya perbedaan antar ilmu dengan agama
8.      Mampu menggunakan alat-alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ilmiah.
Dalam meneliti ilmu jiwa agama menggunakan sejumlah metode menurut jalaluddin, yaitu:
1.      Dokumen pribadi ( personal document)
Metode ini digunakan untuk mempelajari tentang bagaiman pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam hubungannnya dengan agama.
2.      Kuisoner dan wawancara
Digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi yang lebih banyak dan mendalam secara langsung kepada responden.
Tujuan metode kuisoner dan wawancara yaitu:
a.       Untuk mengetahui latae belakang keyakinan agama
b.      Untuk mengetahui bentuk hubungan manusia dengan tuhannya
c.       Serta untuk mengetahui dampak dari perubahan-peruban yang terjadi.[3]
BAB III
KESIMPULAN
Dari paparan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa:
psikologi agama adalah ilmu yang mempelajari gejala manusia yang normal, dewasa yang berhubungan dengan pengakuan hubungan batin dan kejiwaan terhadap ajaran-ajaran yang dibawa oleh rosul sehingga menjadikan orang tersebut beradab.
Psikologi agama memiliki beberapa cabang, dan beberapa ruang lingkupnya serta beberapa metode yang dapat digunakan dalam mengakaji dan mempelajari psikologi agama.


[1]Prof.Dr.H. Jalaluddin, psikologi agama, ( jakarta, PT Raja Grafindo Persada , 2001), hal 11-14
[2] Zakiah daradjat. 1970. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang.
[3] Makalah. Psikologi agama kelas PBA A smestr 03 thun 2010
DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin.  2001. Psikologi Agama. Jakarta : PT Raja Gravindo Persada.
 
 Daradjat, Zakiah. 1970. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang.
Makalah  Psikologi Agama kelas PBA A smster 03 tahun 2010