Minggu, 24 Maret 2013

Psikologi Agama.


                       Pengertian psikologi agama.
Psikologi menurut George A.Miller adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan,dan mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku.[1]
Agama menurut J.H.Leuba adalah agama sebagai cara bertingkah laku, sebagai sistem kepercayaan atau sebagai emosi yang  bercorak khusus.[2]
Psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Dengan ungkapan lain psikologi agama adalah ilmu yang meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku seseorang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berfikir,bersikap,berkreasi dan bertingkah laku yang tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya,karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadiannya.[3]
         Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada Anak dan Remaja
            Pada umumnya,pembahasan tentang perkembangan jiwa terbagi menjadi tiga bagian: masa anak,masa remaja dan masa dewasa.
1.      Agama Pada Masa Anak- Anak
Menurut penelitian Ernest Harms perkembangan agama anak-anak itu melalui beberapa fase (tingkatan), yaitu:
  a.      The fairy tale stage (tingkat dongeng)
Tingkatan ini dimulai pada anak yang berusia 3-6 tahun. Pada tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi.
Pada tingkat perkembangan ini anak menghayati konsep ke-Tuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya.
b.      The realistic stage (tingkat kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk sekolah dasar hingga ke usia adolense. Pada masa ini, ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realitas). konsep ini timbul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. 
c.       The individual stage (tingkat individu)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sebenarnya potensi agama sudah ada pada setiap manusia sejak ia dilahirkan. Potensi ini berupa dorongan untuk mengabdi kepada Sang Pencipta. Dalam terminologi islam, dorongan ini dikenal dengan hidayat al-diniyyat, berupa benih-benih keberagamaan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Dengan adanya potensi bawaan ini manusia pada hakikatnya adalah makhluk beragama. Namun keberagamaan tersebut memerlukan bimbingan agar dapat tumbuh dan berkembang secara benar.[4]
Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. Hurlock, dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan:
1. 0 – 2 tahun (masa vital)
2. 2 – 6 tahun (masa kanak- kanak)
3. 6 – 12 tahun (masa sekolah)
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata- kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh.
Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh, takut dan cinta padanya sekaligus.
Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman[5].
          Perkembangan Jiwa Beragama Pada Remaja
           Dalam peta psikologi remaja terdapat tiga bagian:
a. Fase Pueral
Pada masa ini remaja tidak mau dikatakan anak- anak, tetapi juga tidak bersedia dikatakan dewasa. Pada fase pertama ini merasa tidak tenang.
b. Fase Negativ
            Fase kedua ini hanya berlangsung beberapa bulan saja, yang ditandai oleh sikap ragu- ragu, murung, suka melamun dan sebagainya.
c. Fase Pubertas
Masa ini yang dinamakan dengan Masa Adolesen[6].
Sebenarnya masa remaja adalah masa peralihan, yang ditempuh oleh seseorang dari kanak-kanak menuju dewasa.[7] Secara umum masa remaja merupakan masa pancaroba, penuh dengan kegelisahan dan kebingungan. Keadaan tersebut lebih disebabkan oleh perkembangan dan pertumbuhan yang sangat pesat berlangsungnya, terutama dalam hal fisik, perubahan dalam pergaulan sosial, perkembangan intelektual adanya perhatian dan dorongan pada lawan jenis. Pada masa ini, remaja juga mengalami permasalahn-permasalahan yang khas, seperti dorongan seksual,pekerjaan, hubungan dengan orang tua,pergaulan sosial,emosi,pertumbuhan pribadi dan sosial,problem sosial,pengggunaan waktu luang,keuangan,kesehatan,dan agama[8].
Dan sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada para remaja turut dipengaruhi perkembangan itu. Maksudnya penghayatan para remaja terhadap ajaran agama dan tindak keagamaan yang tampak pada pada para remaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan tersebut[9].
            Sifat-sifat Agama Pada Anak dan Remaja
1.      Sifat-Sifat Agama pada Anak
Sifat agama pada anak-anak tumbuh megikuti pola ideas konsep on outbrority. Ide keagamaan pada anak hampir sepenuhnya autoritarius maksudnya, konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka. Mereka telah melihat dan mengikuti apa yang diajarkan oleh orang dewasa dan orang tua mereka tentang sesuatu yang berhubungan dengan agama. Ketaatan pada ajaran agama merupakan kebiasaan yang menjadi milik mereka yang mereka pelajari dari para orang tua maupun guru mereka[10]. Berdasarkan hal itu maka bentuk dan sifat agama pada diri anak dapat dibagi atas:
1.      Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik)
Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam, cukup sekadarnya saja, dan mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang-kadang kurang masuk akal. Menurut peneilitian, pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun, sejalan dengan perkembangan moral. Diusia ini pun anak yang kurang cerdas pun menunjukkan pemikiran yang kreatif. Namun demikian, sebelum usia 12 tahun pada anak yang mempunyai ketajaman berpikir akan menimbang pemikiran yang mereka terima dari orang lain. 
2.      Egosentris
Sifat egosentris ini berdasarkan hasil penelitian piaget tentang bahasa pada anak berusia 3-7 tahun. Dalam hal ini, berbicara bagi anak-anak tidak mempunyai arti seperti orang dewasa. Bagi anak, bahasa tidaklah menyangkut orang lain, tetapi lebih merupakan “monolog” dan “monolog kolektif”, yaitu merupakan bahasa egosentris, bukan sebagai sarana untuk mengomunikasikan gagasan dan informasi, lebih-lebih merupakan pernyataan atau penegasan diri dihadapan orang lain.
3.      Anthromorphis
Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya. Dikala ia berhubungan dengan orang lain, pertanyaan anak mengenai “bagaimana” dan “mengapa” biasanya mencermikan usaha mereka untuk menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan konkret.
4.      Verbalis dan ritualis
Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh mula-mula secara verbal (ucapan). Mereka menghafal secara verbal kalimat keagamaan, selain itu pula dari amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman menurut tuntunan yang diajarkan kepada mereka.
5.      Imitatif
Bahwa tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak-anak pada dasarnya diperoleh dari meniru. Berdoa dan salat misalnya, mereka laksanakan berdasarkan hasil melihat perbuatan dilingkungan, dalam segala hal anak merupakan peniru yang ulung. Sifat peniru ini merupakan modal yang positif. Menurut penelitian Gillesfi dan young bahwa anak yang tidak dapat pendidikan agama dalam keluarga tidak akan dapat diharapkan menjadi pemilik keagamaan yang kekal.
6.      Rasa heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan yang terakhir pada anak. Maka rasa kagum pada anak ini belum bersifat kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriyah saja. Rasa kagum mereka dapat disalurkan melalui cerita-cerita yang menimbulkan rasa takjub[11].
2.      Sikap Remaja Dalam Beragama
 Terdapat empat sikap remaja dalam beragama, yaitu:
                 1. Percaya ikut- ikutan
      Percaya ikut- ikutan ini biasanya dihasilkan oleh didikan agama secara sederhana yang didapat dari keluarga dan lingkungannya. Namun demikian ini biasanya hanya terjadi pada masa remaja awal (usia 13-16 tahun). Setelah itu biasanya berkembang kepada cara yang lebih kritis dan sadar sesuai dengan perkembangan psikisnya.
                 2. Percaya dengan kesadaran
        Semangat keagamaan dimulai dengan melihat kembali tentang masalah- masalah keagamaan yang mereka miliki sejak kecil. Mereka ingin menjalankan agama sebagai suatu lapangan yang baru untuk membuktikan pribadinya, karena ia tidak mau lagi beragama secara ikut- ikutan saja. Biasanya semangat agama tersebut terjadi pada usia 17 tahun atau 18 tahun. Semangat agama tersebut mempunyai dua bentuk:
         a. Dalam bentuk positif
     semangat agama yang positif, yaitu berusaha melihat agama dengan pandangan kritis, tidak mau lagi menerima hal- hal yang tidak masuk akal. Mereka ingin memurnikan dan membebaskan agama dari bid’ah dan khurafat, dari kekakuan dan kekolotan.
       b. Dalam bentuk negatif
    Semangat keagamaan dalam bentuk kedua ini akan menjadi bentuk kegiatan yang berbentuk khurafi, yaitu kecenderungan remaja untuk mengambil pengaruh dari luar kedalam masalah- masalah keagamaan, seperti bid’ah, khurafat dan kepercayaan- kepercayaan lainnya.
     3. Percaya, tetapi agak ragu- ragu
     Keraguan kepercayaan remaja terhadap agamanya dapat dibagi menjadi dua:
     a. Keraguan disebabkan kegoncangan jiwa dan terjadinya proses perubahan dalam pribadinya. Hal ini merupakan kewajaran.
        b. Keraguan disebabkan adanya kontradiksi atas kenyataan yang dilihatnya dengan apa yang diyakininya, atau dengan pengetahuan yang dimiliki.
                4. Tidak percaya atau cenderung ateis
     Perkembangan kearah tidak percaya pada tuhan sebenarnya mempunyai akar atau sumber dari masa kecil. Apabila seorang anak merasa tertekan oleh kekuasaan atau kezaliman orang tua, maka ia telah memendam sesuatu tantangan terhadap kekuasaan orang tua, selanjutnya terhadap kekuasaan apa pun, termasuk kekuasaan Tuhan[12].
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberagamaan Anak dan Remaja
Robert H. Thouless mengemukakan empat faktor keberagamaan yang dimasukkan dalam kelompok utama, yaitu:
·         Pengaruh- pengaruh sosial
·         Berbagai pengalaman
·         Kebutuhan
·         Proses pemikiran
Faktor sosial mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan sikap keberagamaan, yaitu: pendidikan orang tua, tradisi- tradisi sosial dan tekanan- tekanan lingkungan sosial untuk menyesuaikan diri dengan berbagai pendapat dan sikap yang disepakati oleh lingkungan.
Faktor lain yang dianggap sebagai sumber keyakinan agama adalah kebutuhan- kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi secara sempurna, sehingga mengakibatkan terasa adanya kebutuhan akan kepuasan agama. Kebutuhan- kebutuhan tersebut dapat dikelompokkan dalam empat bagian, antara lain kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan akan cinta, kebutuhan untuk memperoleh harga diri dan kebutuhan yang timbul karena adanya kematian.
Faktor terakhir adalah pemikiran yang agaknya relevan untuk masa remaja, karena disadari bahwa masa remaja mulai kritis dalam menyikapi soal- soal keagamaan, terutama bagi mereka yang mempunyai keyakinan secara sadar dan bersikap terbuka. Mereka akan mengkritik guru agama mereka yang tidak rasional dalam menjelaskan ajaran- ajaran agama islam, khususnya bagi remaja yang selalu ingin tahu dengan pertanyaan- pertanyaan kritisnya. Meski demikian, sikap kritis remaja juga tidak menafikkan faktor- faktor lainnya, seperti faktor berbagai pengalaman[13].

[1] Drs.Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung:Pustaka Setia,cet. II, 2009), hlm.32.
[2] Sururin, ilmu Jiwa Agama, (Jakarta:PT.Grafindo Jaya,cet  ,2004),hlm.4
[3] Zakiah Daradjat,Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang , cet I4, 1993),hlm.2.
[4] Prof. Dr. H. Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT Grafindo Persada, cet. 2009), Hlm.66-69.
[5] Sururin ,op.cit.,hlm.47-50
[6] Ibid,hlm.64
[7] Zakiyah Daradjat,op.cit.,hlm.69
[8] Sururin,opcit.,hlm.65
[9] Djalaluddin,op.cit,hlm.74
[10] Sururin
[11] Sururin,op.cit.,hlm.58-61
[12] Ibid,hlm.72-78
[13] Ibid,hlm.79-82