Minggu, 24 Maret 2013

Psikologi Agama Islam Modern


BAB I
PENDAHULUAN

Secara naluriah, manusia selalu berusaha menyandarkan hasrat kehidupannya kepada sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan absolut. Hal ini bisa terlihat dalam rentangan sejarah kehidupan mamnusia, baik pada zaman klasik sampai kepada kondisi kekinian. Pada zaman klasik, manusia banyak menyandarkan keyakinannya kepada benda-benda yang dinggap sakti, keramat dan lain sebagainya.[1] Pada zaman modern, dikarenakan rasionalitas manusia sudah mengalami kemajuan, kepercayaan seperti ini sudah tidak begitu kental berada ditengah-tengah masyarakat. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa tanpa adanya ajaran agama langit yang berkembang dalam suatu komunitas masyarakat, mereka akan berusaha membentuk sebuah keyakinan berdasarkan kemampuan, pengalaman dan ilmu yang mereka miliki.
Dalam Islam, potensi kebertuhanan manusia ini difasilitasi dan dibimbing agar menjadi suatu keyakinan yang benar dan lurus. Bimbingan terhadap manusia ini langsung berasal dari Allah sebagai zat yang Maha Tinggi, maha Kuasa, Maha Mengetahui. Namun  bimbingan itu bukan dalam bentuk Allah yang membimbing manusia, tetapi melalui risalah yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul Allah Swt.
Para Nabi dan rasul dalam mengemban amanah dakwah mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia adalah mengabdi dan menyembah Allah , sebagaimana firman Allah dalam surat adz-Dzariyaat : 56  :

Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS 51 : 56)
Tujuan ini hidup manusia sebagaimana yang dijelaskan dalam surat diatas, mendorong manusia untuk mengkaji berbagai tingkah laku dan respon manusia itu sendiri dalam menjalankan agama yang telah diajarkan, kemudian memanage dirinya agar mampu menjadi hamba Allah yang istiqamah dalam ajaran Islam. Respon tersebut akan melahirkan suasana kejiwaan tertentu pula bagi seorang ummat Islam. Latar belakang inilah yang akan melahirkan bahasan tentang psikologi Islam.
Dalam rangka meningkatkan kualitas kedekatan seorang hamba kepada sang khâliq, sehingga ia menyadari dan merasakan kehadiran-Nya dalam kehidupan, seorang hamba akan merasakan sebuah nuansa baru dalam memandang kehidupan. Dalam rentangan sejarah Islam, begitu banyak orang-orang yang menaruh pehatian tinggi terhadap kajian-kajian mengenai teori dan peraktik dalam mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah. Orang-orang tersebut di dalam Islam dikenal sebagai para sufi, dan pada gilirannya melahirkan disiplin ilmu baru dalam Islam yaitu Ilmu Tasauf. Kondisi jiwa manusia yang memandang bahwa kehidupan dunia hanyalah media dalam meraih kehidupan yang hakiki, kemudian memanfaatkan fasilitas keduniaan itu dengan efektif dan efesien dalam meraih kebahagiaan hidup baik dunia maupun kahirat, hal ini juga melahirkan cabang ilmu Psikologi Islam yang lain, yaitu Psikologi Tasauf.
Berangkat dari bahasan diatas, pada makalah ini akan coba di bahas sebuah tema :Psikologi Tasawuf dan Pengembangan Kekuatan Spiritual Keagamaan dan ke-Tuhanan Manusia dalam Perspektif Psikologi Agama Islam.
Mengingat begitu luasnya tema ini, maka penulis akan membatasi masalah yang akan dibicarakan pada makalah ini. Adapun batasan tersebut adalah :
  1. Psikologi Tasawuf; Pengertian dan objek kajiannya
  2. Eksistensi Psikologi Tasawuf dalam Psikologi Agama Islam
  3. Pengembangan kekuatan spiritual keagamaan dalam perspektif Psikologi Agama Islam
  4. Ke-Tuhanan Manusia dalam perspektif Psikologi Agama Islam



[1]Dalam kajian antropologi Manusia, ada beberapa kepercayaan sebagai bentuk pelampiasan hasrat bertuhannya manusia.  Kepercayaan tersebut dikelompokkan pada beberapa kelompok yaitu : (1) Dinamisme, yaitu agama pada masyarakat primitif yang percaya keapada kekuatan (magic) yang terdapat pada benda-benda yang di anggap keramat, (2) Animisme, yaitu kepercayaan kepada roh-roh, (3) politeisme, yaitu kepercayaan kepada dewa-dewa. Ketiga kelompok agama ini digolongkan kepada agama yang dianut oleh masyarakat primitif. Lihat Junizar Suratman, Spiritualitas dan Radikalisme dala Perspektif Filasafat Agama, ( Padang : Puslit Press, 2011), h. 12-13
BAB II
PEMBAHASAN
  1. Psikologi Tasawuf
  2. Pengertian Psikologi Tasawuf
Membahas Psikologi Tasawuf, pada hakikatnya menggabungkan dua tema kajian keilmuan yang mandiri menjadi sebuah kajian keilmuan yang integral. Dalam mendudukkan apa itu psikologi tasawuf, maka  perlu dibahas apa yang dimaksud dengan psikologi dan apa yang dimaksud dengan tasawuf. Berdasarkan landasan ini, penulis merasa perlu menyinggung sedikit tentang Psikologi dan Tasawuf.
Secara etimologi, psikologi berasal dari kata Psiko dan logos. Psiko berarti Jiwa, sedangkan logos berarti ilmu. Jadi Psikologi dapat diartikan sebagai “ilmu tentang jiwa”. Secara terminologi, psikologi memiliki pengertian suatu disiplin ilmu yang mengkaji tentang jiwa; tentang kesadaran dan proses mental yang berkaitan dengan jiwa.[1] Atau hal ihwal kehidupan jiwa dan kejiwaan, sikap dan tingkah laku manusia,  serta  pengembangan hubungan  komunikasi dan interaksinya dengan Tuhan dan lingkungan.[2]
Tasawuf, secara etimologi memiliki arti sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana.[3] Sikap jiwa yang demikian ini pada hakikatnya dapat diartikan sebagai akhlak yang mulia.[4]
Adapun pengertian tasawuf secara terminologi : upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan dirinya dari berbagai pengaruh kehidupan dunia sehingga mencerminkan akhlak yang mulia dan dekat dengan Allah SWT. Dalam bahasa yang lebih sederhana, tasawuf dapat diartikan sebagai bidang kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental ruhaniah agar selalu dekat dengan Tuhan.
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Psikologi tasawuf merupakan kajian hal ihwal kehidupan jiwa dan kejiwaan, sikap dan tingkah laku para sufi,  serta  pengembangan hubungan  komunikasi dan interaksinya dengan Tuhan dan lingkungan

  1. Objek Kajian Psikologi Tasawuf
Dalam hal kejiwaan, tasawuf cenderung di tafsirkan sebagai “revolusi bathin” seseorang terhadap kezaliman yang menimpa manusia yang tidak hanya terbatas pada kezaliman dari orang lain, tetapi justru terfokus kepada kezaliman yang dilakukan oleh dirinya sendiri.[5] Revolusi bathin yang dilakukan para sufi ini menghantarkan kepada jiwa yang tawadhu’ dan wara’. Tawadhu’ merupakan kesadaran yang lahir dari jiwa seorang hamba yang menginsyafi betapa kecil dan hinanya ia dihadapan kebesaran dan kemuliaan sang Khâliq. Wara’  seorang sufi, terwujud dalam bentuk tidak adanya respek pada alam, kebesaran dan keindahannya. Bagi mereka dunia dianggap sebagai penjara dan kuburan. Oleh karena itu, jiwa yang terpenjara tersebut berusaha membebasakan diri dan ingin menemukan kemerdekaan supaya dapat masuk ke Ufuk Langit Ketuhan yang Luhur sebagai tempat kehadirannya.[6]
Kajian di atas memberikan pemahaman bahwa yang menjadi objek kajian Psikologi Tasawuf adalah pengalaman sufistik yang  dirasakan oleh para sufi. Yaitu pengalaman bathin yang dilalui dan dirasakan seorang sufi dalam mencari ketenangan dan kecerdasan bathin serta penyingkapan tabir kedekatan (qarîb)antara hamba dengan Allah Swt. Pengalaman itu memberikan kondisi jiwa tertentu yaitu jiwa yang penuh dengan ketenangan dan kebahagiaan serta kesejahteraan.
Berbicara tentang pengalaman sufistik dalam konteks tasawuf, sudah menjadi kesepakatan para sufi yang ikhlas, bahwa puncak pengalaman sufistik yang mereka rasakan tidak dapat ungkapkan dengan bahasa verbal. Ketika sebagian para sufi berusaha menggambarkannya dengan bahasa yang sangat ringkas, mereka memperlihatkan bahwa kalimat-kalimat yang mereka kemukakan sama sekali tidak mampu mengungkapkan pengalaman-pengalaman sufistik tersebut.[7] Walaupun demikian, dampak kejiwaan bagi seorang sufi setelah melalui berbagai macam pengalaman sufistik dapat di teliti. Dalam pandangan Zoehner, pengalaman sufistik manusia dapat dibagi pada tiga jenis yaitu : (a) pengalaman sufistik alami, (b) Pengalaman Sufistik ruh atau jiwa dan (c) pengalaman sufistik ke-Tuhanan.[8]
a)      Pengalaman sufistik alami
Yaitu pengalaman sufistik yang tidak berkaitan langung dengan tasawuf. Pemikiran ke-Tuhanan  dalam sufistik alami ini terabaikan dan berada dibawah pengaruh anestetik. Dalam pengalaman alami ini seseorang – dengan  cara anestetik dan melalui seni pengolahan pernafasan seperti Yoga – merasakan keterhanyutan dalam suasana alam jagad raya yang dahsyat. Persaksian yang dialami oleh seseorang dalam pengaruh keadaan anastetik (terbius) tidak bisa diterima oleh nalar. Sebab apa yang terihat oleh seorang pengaruh keadaan seperti itu hanyalah sekedar ilusi dan fantasi.[9]
b)      Pengalaman sufistik ruh atau jiwa
Pengalaman ini merupakan cerminan esensi tasawuf. Di dalam kajian ilmu tasawuf, pengalaman sufistik atau ruh diisitilahkan dengan hâl. Menurut Harun Nasution dalam Abuddin Nata, hâl merupakan sikap mental seperti perasaan senang, perasaan sedih, perasaan takut dan lain sebagainya.[10] Hâl  diperdapat oleh seorang sufi sebagai anugerah dan rahmat Allah, ia hadir dalam jiwa seorang sufi sifatnya sementara, datang dan pergi bagi seoran sufi dalam perjalanannya mendekati Allah.[11]
Yang dimaksud dengan hâl pada masalah ini adalah takut (al-Khauf), rendah hati (al-Tawadhu’), patuh (at-Taqwa), ikhlas (ikhlas), rasa berteman (al-Uns), gembira hati (al-Wajd), berterima kasih (al-Syukr).
c)      Pengalaman Sufistik ke-Tuhanan
Pengalaman sufistik seperti ini bertujuan untuk mengembalikan ruh kepada Tuhannya. Pemikiran ke-Tuhanan ini muncul dalam bentuk yang beragam bagi para sufi.
Dalam ajaran tasawuf pengalaman sufistik ke-Tuhanan merupakan puncak tertinggi kejiwaan manusia dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dalam mengungkapkannya, para tokoh sufi memiliki cara pengungkapan yang berbeda, diantara pengalaman sufistik yang dirasakan oleh para sufi adalah
1)      Ma’rifah, tokohnya adalah al-Ghazali dan Zunnun al-Misri. Ma’rifah disini memiliki pengertian mengatahui rahasia-rahasia Tuhan melalui hati sanubari, sehingga dengan hati sanubari seorang sufi dapat melihat Tuhan.[12]
2)      Fana, Baqa dan ittihaad. Tokohnya Abu Yazid al-Bustami, yaitu bersatunya ruhaniyah dan bathiniyah manusia dengan zat Allah dengan tidak ada pemisahan.
3)      Hulul, tokohnya al-Halaj. Hulul diartikan oleh para sufi sebagai suatu tahap dimana manusia Tuhan bersatu secara ruhaniah.[13]
4)      Wahdah al-Wujud. Tokohnya Ibn A’rabi. Wahdatul Wujud diartikan sebagai pengalaman sufistik yang dirasakan oleh seorang sufi, pengalaman ini terjadi dalam bentuk bersatunya manusia dengan zat Allah secara zahir dan bathin.[14]
  1. Eksistensi Psikologi Tasawuf dalam Psikologi Agama Islam Modern.
Dalam sejarah perkembangan ilmu Psikologi, Psikologi agama Islam baru muncul pada era tahun 60-an. Disiplin  ini mulai dikenal ketika, Aulia (1961) menulis buku tentang agama dan kesehatan jiwa. Kemudian  Zakiyyah Daradjat memunculkan sebuah buku yang membahas tentang Ilmu Jiwa Agama (1970-an).[15]
Psikologi tasawuf sebagai salah satu cabang dalam Psikologi Islam, sangat berkatian erat dengan psikologi agama Islam. Jika dilihat dari segi objek kajiannya, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwa psikologi tasawuf mengkaji tentang pengalaman bathin seorang sufi yang mampu memberikan kondisi jiwa yang selamat (qalbun salîm), jiwa yang tenang (qalbun muthmainnah) bagi sisufi itu sendiri. Sementara psikologi agama merupakan ilmu yang mengkaji tentang bathin terhadap keyakinannya kepada Allah, hari kemudian da masalah ghaib lainnya.[16] Jika dilihat dari objek kajian kedua disiplin ilmu ini, maka psikologi tasawuf merupakan salah satu bentuk terapi bagi ummat Islam dalam rangka meningkatkan kualitas ibadah dalam arti luas.     
  1. Pengembangan Kekuatan Spiritual Keagamaan dalam Perspektif Psikologi Agama Islam
Psikologi agama Islam mengkaji tentang semangat beragama dan kesadaran beragama. Semangat beragama terlihat dalam bentuk sejauh mana seseorang dapat mengamalkan dan menjalankan perintah agama dengan istiqomah. Sedangkan kesadaran beragama terlihat pada kemampuan seseorang dalam menangkap nilai-nilai kebaikan dalam ajaran agama Islam secara inklusif.
Spiritualias merupakan salah satu dimensi kehidupan  yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Dimensi ini terwujud dalam bentuk kemampuan dalam mengelola dan mendayagunakan makna-makna, nilai-nilai, dan kualitas-kualitas kehidupan. Kehidupan spiritual disini meliputi hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) yang memotivasi manusia untuk senantiasa mencari makna hidup (the meaning of life), dan mendambakan hidup bermakna (the meaningfull life).[17]
Hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) dapat diartikan sebagai keinginan diri untuk dapat berguna dan berharga bagi keluarganya, lingkungan serta masyarakatnya, serta bagi dirinya sendiri.[18] Keinginan tersebut akan memotivasi seseoerang untuk melakukan aktifitas kebaikan dan amal shaleh agar makna hidup dapat diraih. Keberhasilan dalam meraih hidup bermakna, disinilah seseorang akan menemukan kebahagiaan dan ketenangan. [19]
Pada abad 21, ketika manusia sudah berada pada titik jenuh dalam menjalani hidup yang berlandaskan pragmatisme materialistik, sebagai ideologi yang kering dari nilai dan kekuatan spiritual. Bermunculanlah berbagai macam usaha-usaha baru bagi para ilmuan barat untuk dapat membebaskan manusia dari kejenuhan dan kegundahgulanaan dalam kehidupannya. Pada awal tahun 2000, muncul sebuah buku yang menggemparkan, ditulis oleh 2 orang penulis muda yaitu Donah Zohar dan Ian marshall yaitu SQ : Spiritual Intelligence the Ultimate Intelligence.  Dalam buku ini di katakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi setelah kecerdasan intelektual, kecerdasan Emosional dan kecerdasan moral.[20]
Didalam Islam, spiritual merupakan sebuah kekuatan yang dahsyat. Ari Ginanjar memberikan gambaran bahwa dengan kekuatan spiritual  seseorang  yang berada dalam kondisi sangat dramatis, panik dan takut yang luar biasa,  ketika kekuatan spiritual hadir -kepasrahan penuh kepada Allah- dalam jiwa, kondisi tersebut dapat ternyata diorganisir dengan baik.[21]
Kekuatan spiritual dalam pengembangannya, terletak pada kemampuan untuk meraih makna hidup. Dalam proses ini, agar usaha yang dilakukan mampu mengarahkan seseorang pada pencapaian hidup yang bermakna, salah satunya adalah dengan memberikan konseling. Jika dilihat dari perspektif psikologi agama Islam, tentu konseling yang di tuntut adalah konseling Islami.
Yahya Jaya memformuliasikan sebuah konsep dalam hal metode konseling Islami, yaitu dengan proses penyucian jiwa (tazkiyat al-Nafs). Dalam hal penyucian jiwa ada beberapa aspek yang harus diperhatikan, yaitu mengoptimalkan hubungan vertikal manusia dengan sang khalik  (hablum minallah). Kemudian tidak menafikkan qodrat manusia itu sendiri sebagi makhluk sosial dengan selalu memperhatikan dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas), hubungan dengan sesama makhluk (hablum minalalam), dan hubungan dengan dirinya sendiri (hablum minanannafs).[22]
 Secara praktis,  usaha dalam menyucikan jiwa sebagai proses dalam pencarian makna hidup, Ari ginanjar memberikan beberapa langkah dalam mengembangkannya  :
  1.  Menggantungkan segala asa kepada Allah SWT. Yaitu menyadari bahwa tidak ada kekuatan yang dapat memberikan keselamatan kecuali kekuatan-Nya (Zero Mind Process).

Artinya :   Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

  1. Membangun keyakinan bahwa setiap aktifitas merupakan jalan ibadah kepada Allah Swt. Seseorang yang meyakini hal seperti ini maka akan memiliki semangat berkarya yang luar biasa,  sebab dalam beraktifitas ia tidak mengutamakan materi namun keikhlasan untuk selalu berbuat yang terbaik. Dalam arti lain mendengarkan suara hati nurani (Melepas belenggu dari kepentingan-kepentingan prgamatis semata )
  2. Merasa bahwa Allah hadir dalam setiap aktifitas kehidupan. Sehingga timbul kontrol yang kuat terhadap perilaku-perilaku negatif dalam kehidupan seorang hamba.

  1. Ke-Tuhanan Manusia dalam Perspektif Psikologi Agama Islam
Dalam membahas masalah ini, setidaknya ada beberapa aspek yang akan dijelaskan. Psikologi Agama Islam sebagai salah satu disiplin ilmu, maka ada beberapa masalah yang akan menjadi topik kajian diantaranya seperti yang di jelaskan oleh ramayulis :
  1. Bagaimana pengalaman manusia itu dalam hubungannya dengan keyakinannya kepada Tuhannya.
  2. Bagaimana sifat jiwanya terhadap Tuhannya
  3. Bagaimana pengalaman tentang dirinya dalam menyerahkan diri kepada Tuhannya.[23]
Melihat dari masalah diatas, maka ke-Tuhanan manusia dalam perspektif Psikologi Agama Islam merupakan konsep keyakinan, sikap jiwa dan penyerahan diri kepada Allah Swt. Pada bahasan selanjutnya, penulis akan coba menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan tersebut.
  1. Iman
Iman memiliki pengertian keyakinan yang kuat zat yang maha berkuasa. Keimanan akan menghantarkan sesorang kepada ketaatan dalam menjalankan perintah agama, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan perintah-perintah sunnah lainnya.[24] Jika demikian, maka iman akan melahirkan tingkah laku ketaatan pada diri seseorang yang dilakukan hanya dengan keikhlasan semata. Orang yang melaksanakan shalat hanya mengharapkan imbalan (fahala) yang datang dari Allah, dan imbalan itu mereka yakini pasti ada.
  1. Akhlak Mulia 
Ibnu Katsir dalam Fariq Gasim Anuz, menjelaskan bahwa akhlak memiliki arti dien, tabiat dan sifat. Hakikatnya adalah potret batin manusia yaitu jiwa dan kepribadiannya.[25] Bagi seorang hamba yang memiliki iman yang baik, maka akan memancarkan tingkah laku atau tabia’at yang baik pula. Yaitu perangai atau tingkah laku yang memberikan manfaat bagi diri dan lingkungannya. akhlak mulia itu bisa lahir dalam bentuk, diantaranya :
  1. Tawadhu’
Tawadhu’ memeliki pengertian sifat rendah hati. Yaitu sifat yang tidak mau membanggakan diri atas kelebihan dan keistimewaan yang diberikan Allah kepadanya. Seorang yang tawadhu’ menyadari bahwa apapun yan ia miliki; ilmu, kekayaan, jabatan, pangkat dan lain-lain, merupakan  anugerah dan amanah dari Allah. Itu semua justru dijadikan sebagai media dalam rangka menyadari betapa maha besarnya dan maha kuasanya Allah.
  1. Wara’
Yaitu sikap yang selalu waspada terhadap hal-hal yang dapat merendahkan martabat sebagai hamba Allah. Seorang yang memiliki sifat wara’ selalu berusaha menghindarkan diri dari hal yang bersifat subhat, sebab itu akan menjadikan hijab bagi dirinya terhadap kebesaran Allah yang Maha Mulia.
  1. Ikhlas
Ikhlas merupaka perbuatan atau tingkah laku yang dilakukan oleh seorang hamba hanya diperuntukkan bagai Allah semata.[26] Apapun katifitas kehidupannya dalam rangka mengarungi lautan kehidupan, dimaknai sebagai ibadah kepada Allah Swt.
  1. Sabar
Merupakan sikap yang tangguh dalam menghadapi problematika kehidupan. Orang yang sabar tidak mudah putus asa serta yakin akan rahmat Allah dalam setiap peritiwa kehidupan yang dialami, apapun itu bentuknya.[27] Firman Allah QS 94 : 5-6

Artinya :     Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.( QS : al-Insyirah : 5-6)

  1. Syukur
Yaitu penggunaan seluruh nikmat Allah oleh seorang hamba –baik dalam bentuk pendengaran, penglihatan, hati, maupun yang lainnya- sesuai dengan tujuan penciptaanya.[28] Semua anugerah yang diberikan Allah kepada manusia, terutama nikmat panca indera diberikan oleh Allah memiliki tujuan. Pendengaran Allah berikan bertuajuan agar manusia dapat mendengarkan pengajaran, perkatan yang baik. Begitu juga dengan nuikmat yang lain.
  1. Tawakkal.
Tawakkal adalah bersandar kepada Allah dalam segala hal. Allahlah sebagai penyebab segala sesuatu. Artinya, manusia sebagai seoarang hamba menayadari betapa didalamnya dirinya tidak ada kekuatan. Sungguh pemilik kekuatan dan daya hanya Allah. Takwa merupakan sikap hidup yang mampu menghantarkan seseorang kepada ketenangan hidup.
Penyerahan diri kepada Allah disini merupakan penyerahan  yang tidak menafikkan sunnatullah yang telah menjadi ketetapan Allah. Artinya dalam bertqwaqal juga harus diringi dengan berikhtiar, karena segala sesuatu sudah Allah ciptakan dengan struktur sebab akibat, walaupun hal itu semua tidak akan mutlak, jika Allah berkehendak.





[1]Pengertian psikologi sebenarnya mememiliki ragam dimensi pemikiran. Seperti pengertian psikologi yang dipelopori oleh Wilhem Wund : Psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang kehidupan mental, seperti pikiran,, perhatian, persepsi, inteligensi, kemauan, dan ingatan. Definisi ini berusaha memisahkan antara filsafat dan psikologi, sehingga fokus kajiannya adalah mental. Namun pemisahan ini belum sempurna sehingga masih berbaur antara kajian filasafat dengan psikologi. Kemudian John Watson juga mempelopori pengertian psikologi yang lain yaitu : Psikologi merupakan ilmu pengetahuan tentang perikaku organisme, seperti perilaku kucing terhadap tikus, perilaku manusia terhadap sesamanya, dan sebagainya. Pengertian ini memiliki fokus kajian pada gejala-gejala jiwa yang dilakukan melalui penelaahan perilaku organisme. Dalam wacana psikologi kontemporer, pengertian inilah yang lazim di pakai, karena teori ini memandang bahwa semua organisme memiliki gejala kejiwaan. Manusia merupakan makhluk hidup yang memiliki jiwa, namun secara empirik hakikat jiwa itu tidak dapat diketahui, yang dapat diketahui hanya proses, fungsi dan kondisi kejiwaan. Bagi kaum Behavioristik jiwa digeneralisasikan atas semua organisme (makhluk), tanpa memperdulikan perbedaam jiwa manusia dengan jiwa binatang. Bagi mereka (kaum Behavioristik) yang terpenting adalah  bagaimana memberi ransangan atau stimulus pada jiwa sehingga mampu meresponnya dalam bentuk perilaku.   Dalam kajian Psikologi Islam, sebagai induk dari cabang-cabang Ilmu psikologi dalam Islam, psikologi diartikan sebagai “Studi tentang jiwa”. Pengertian dianggap paling cocok dengan Psikologi Islam sebagai cabang ilmu mandiri yang masih berada pada proses awal dan memandang jiwa manusia sebagai jiwa yang khusus dan tidak sama dengan jiwa binatang. Lihat : Abdul Mujib CS, Nuansa-nuansa Psikologi Islam; (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2002)  Edisi 1 Cet.2 h. 1-3 
[2] Yahya Jaya, dikutip melalui Kuliah Seminar tentang Psikologi Agama Islam Modern, pada tanggal 25 maret 2012 di lokal PI3 
[3] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (PT. Raja Grafindo Persada, 1997)  Edisi. 1 Cet. 2 h. 179-180.
[4] Dalam segi bahasa, sebenarnya arti kata Tasawuf memiliki bermacam perkiraan asal kata. Diantaranya, ada yang mengatakan tasawuf berasal dari bahasa Yunani yaitu sophos  yang memiliki pengertian Hikmat. Ada juga yang mengatakan bahwa tasawuf itu berasal dari bahasa Arab dengan berbagai macam pandangan pula. Diantaranya al-Suffah (ahl al-Suffah) orang yang ikut bersama Nabi pindah dari kota Mekka ke Madinah, saf (barisan), sufi (suci), dan suf (kain wol). Kata-kata tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Harun Nasution dalam Abudin Nata, bisa-bisa saja dihubungkan dengan tasawuf. Kata ahl as-Suffah misalnya, menggambarkan keadaan yang rela mencurahkan jiwa dan raga, tenaga, harta dan sebagainya hanya untuk Allah.
[5] Amir An-Najar (penj : Ija Sutana) at-Tashawwuf An-Nafsi (Psikoterapi Sufistik dalam Kehidupan Modern),  Kairo : al-Hai’ah al-Mishriyah Al-‘Ammah li Kitab; Jakarta : Penerbit Hikmah PT. Mizan Publika, cet 1 2004, h. 153
[6] Ibid
[7] Ibid, h. 164
[8] Ibid, h. 165
[9] Ibid
[10] Abuddin Nata, op.cit, h. 205
[11] Amir an-Najar, loc. cit
[12] Lihat H. A Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung : Pustaka Setia, 2005) cet. 3, h. 252-259, Bandingkan dengan Abuddin Nata, h. 219-230
[13] Abuddin Nata, op.cit, h. 239-246
[14] Ibid, h. 247-255
[16] Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta : Kalam Mulia, 2004) cet. Ke-7, h. 7
[17] Abdul Mujib Cs, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002), cet. 2, h. 325
[18] Hanna Djumhana Bastaman, Meraih Hidup Bermakna;Kisah Pribadi dengan Pengalaman Tragis (Jakarta : Penerbit Paramadina, 1996) cet 1, h. 25
[19] Ibid, h. 26-31
[20] Danah Zohar and Ian Marshall, SQ : Spiritual Quotion the Ultimate Intelligence, (Soho Square, London : Vloomsbury Publishing, 2000), h. 3
[21] Contoh peranan kekuatan spiritual ini di ungkapkan oleh Ari Ginanjar dengan mengemukakan kisah seorang pilot pesawat boing 737 mampu menyelamatkan penumpangnya. Dikisahkan bahwa pesawat tersebut jatuh dari ketinggian kurang lebih 5 km diatas udara, namun ketika sang kapten peasawat berada dalam kepasrahan yang tinggi, justeru ia bisa mencarikan solusi baik untuk mendaratkan pesawatnya kedalam sungai. Lihat Ari Ginanjar Rahasia Sukses membangkitkan ESQ Power; Sebuah inner Journey melalui al-Ihsan, (Jakarta : Penerbit Arga, 2003) cet ke-5 th 2004, h. 121-132 
[22] Yahya Jaya, Bimbingan Konseling dalam Agama Islam, ( Angkasa Raya, 2004) cet. 10, h. 165-178
[23] Ramayulis, opcit, h. 3
[24] Fariq bin Gasim Anuz, Bengkel Akhlak, (Jakarat : Penerbit Darus Sunnah Press, 2009) cet. 1, h. 48-53
[25] Ibid, h. 12
[26] Amir an-Najar, opcit, h. 17-24
[27] Ibid, h. 73-76
[28] Ibid, h. 90

BAB III

KESIMPULAN


Dari pembahasan yang telah dijelaskanpada pembahasan sebelumnya, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
  1. Psikologi tasawuf sebagai salah satu disiplin ilmu memiliki objek kajian tentang pengalaman batin seorang sufi dalam menjalani kehidan tasawufnya.
  2. Psikologi tasawuf merupakan dan psikologi agama Islam merupakan cabang dari psikologi Islam. Antara psikologi Tasawuf dengan psikologi agama Islam memiliki hibungan yang erat. Hubungan keduanya ibarat dua mata uang yang tidak dipisahkan, sebab antara psikologi Tasawuf dengan Psikologi Agama Islam berfungsi saling menguatkan dan melengkapi.
  3. Pengembangan kekuatan spiritual dalam psikologi agama Islam yaitu dengan membina kualitas hubungan dalam kehidupan manusia. Ada 4 jenis hubungan yang selalu ada dalam kehidupan manusia yaitu (1) Hubungan dengan Allah (hablum minallah), (2) hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas), (3) Hubungan dengan sesama makhluk (hablum minal ‘alam), (4) Hubungan dengan dirinya sendiri (hablum minan nafs). Pengembangn kualitas hubangan diatas akan dapat menghantarakan seseorang dalam meraih makna hidup.
  4. Ke-Tuhanan Manusia dalam perspektif Psikologi Agama Islam Modern, merupakan proses peningkatan kualitas hidup. Tuhan merupakan zat yang maha kuasa, keyakinan kepadanya akan menghantarkan seseorang untuk melakukan kebajikan dan meninggalkan kemaksiatan.