Minggu, 24 Maret 2013

SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA


Pengertian Psikologi Agama.
Psikologi agama menggunakan dua kata yaitu psikologi dan agama. Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab. (jalaluddin, et al,1979:77). Sedangkan Menurut Robert H. Thouless, psikologi sekarang digunakan secara umum untuk ilmu tentang tingkah laku dan pengalaman manusia (Robert H.Thouless,1992:13).[1] Tetapi dari definisi-definisi yang dikemukakan tersebut secara umum psikologi mencoba meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiawaan Karena jiwa itu sendiri  bersifat abstrak, maka untuk mempelajari kehidupan kejiwaan manusia hanya mungkin dilihat dari gejala yang tampak, yaitu pada sikap dan tingkah laku yang ditampilkannya.
Selanjutnya, agama sebagai bentuk keyakinan, memang sulit diukur secara tepat dan rinci karena agama menyangkut masalah yang berhubungan dengan kehidupan bathin manusia. Tampaknya usaha untuk membuat definisi tentang agama tak ada gunanya, karena hanya merupakan kepandaian bersilat lidah (Zakiah Drajat, 1970:23).[2] Pendapat tersebut bukan berarti agama sama sekali tidak dapat dipahami melalui pendekatan definitif. Karena itu, pengertian secara etimologis, harun nasution tentang agama dapat memberikan gambaran tentang pengertian agama dan merumuskan unsur-unsur penting yang terdapat di dalam agama tersebut.Secara definitif, menurut Harun Nasution, agama adalah:
1.      Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang  harus dipatuhi.
2.      Pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia.
3.      Mengikat diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.
4.      Kepercayaan pada suatu kekuatan ghaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
5.      Suatu sistem tingkah laku (code of conduct) yang berasal dari sesuatu kekuatan ghaib.
6.      Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan ghaib.
7.      Pemujaan terhadap kekuatan ghaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.
8.      Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang rosul (Harun Nasution, 1974:10)[3]
Selanjutnya Harun Nasution (1974:11) merumuskan ada empat unsur yang terdapat dalam agama, yaitu:
a.       Kekuatan ghaib, yang diyakini berada di atas kekuatan manusia. Didorong oleh kelemahan dan keterbatasannya, manusia merasa berhajat akan pertolongan dengan cara menjaga dan membina hubungan baik dengan kekuatan ghaib tersebut. Realisasinya adalah sikap patuh terhadap perintah dan larangan ghaib itu.
b.      Keyakinan terhadap kekuatan ghaib sebagai penentu nasib baik dan buruk manusia. Dengan demikian, manusia berusaha untuk menjaga hubungan baik ini agar kesejahteraan dan kebahagiaannya terpelihara.
c.       Respons yang bersifat emosional dari manusia. Respons ini dalam realisasinya terlihat dalam bentuk penyembahan, karena didorong oleh perasaan takut (agama primitip) atau pemujaan yang didorong oleh perasaan cinta (monoteisme), serta bentuk cara hidup tertentu bagi penganutnya.
d.      Paham akan adanya yang kudus (sacred) dan suci. Sesuatu yang kudus dan suci ini adakalanya berupa kekuatan ghaib, kitab yang berisi ajaran agama maupun tempat-tempat tertentu.[4]
Robert H. Thouless berpendapat bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologi yang dipungut dari kajian terhadap perilaku bukan keagamaan (1992:25).[5] Menurut Zakiah Drajat, psikologi agama meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Disamping itu, psikologi agama juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang, serta factor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut (1970:11).[6]
Psikologi agama dengan demikian merupakan cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi. Jadi penelaahan tersebut merupakan kajian empiris.
Obyek / Ruang Lingkup Psikology Agama.
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki ruang lingkup pembahasannya tersendiri yang dibedakan dari disiplin ilmu yang mempelajari masalah agama yang lainnya. Sebagai contoh, dalam tujuannnya psikologi agama dan ilmu perbandingan agama memiliki tujuan yang tak jauh berbeda, yakni mengembangkan pemahaman terhadap agama dengan mengaplikasikan metode-metode penelitian yang bertipe bukan agama dan bukan teologis. Bedanya adalah, bila ilmu perbandingan agama cenderung memusatkan perhatiaannya pada agama-agama primitif dan eksotis tujuannya adalah untuk mengembangkan pemahaman dengan memperbandingkan satu agama dengan agama lainnya. Sebaliknya psikologi agama, seperti pernyataan Robert H Thouless, memusatkan kajiannya pada agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat itu sendiri. Kajiannya terpusat pada pemahaman terhadap perilaku keagamaan tersebut dengan menggunakan pendekatan psikologi (Robert H Thouless, 1992:25).[7]
Berkenaan dengan hal ini, lebih lanjut, Zakiah Daradjat (1970:12-15) menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan agama yang dianut.[8] Oleh karena itu, menurut Zakiah Daradjat, ruang lingkup kajian psikologi agama meliputi:
1.  Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa (umum), seperti rasa lega dan tentram sehabis shalat; rasa lepas dari ketegangan bathin sesudah berdoa atau membaca ayat-ayat suci; perasaan tenang, pasrah dan menyerah setelah berdzkir dan ingat kepada allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan.
2. Bagaimana pengalaman dan perasaan seseorang secara individual terhadap tuhannya, misalnya rasa tentram dan kelegaan bathin.
3.  Mempelajari, meneliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (akhirat) pada tiap-tiap orang.
4. Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan syurga dan neraka, serta dosa dan pahala yang turut member pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
5.  Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat-ayat suci untuk kelegaan bathinnya.
Semuanya itu menurut Zakiah Daradjat tercakup dalam kesadaran agama (religious counsciousness) dan pengalaman agama (religious experience). Yang dimaksud dengan kesadaran agama adalah bagian /segi agama yang hadir (terasa) dalam pikiran yang merupakan aspek menthal dari aktivitas agama. Sedangkan pengalaman agama adalah unsur perasaan dalam kesadaran beragama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliah). Karenanya, psikologi agama tidak mencampuri segala bentuk permasalahan yang menyangkut pokok keyakinan suatu agama, termasuk tentang benar salahnya atau masuk akal dan tidaknya keyakinan agama (1970:12-15).[9]
Dengan demikian psikologi agama menurut Zakiah Daradjat adalah mempelajari kesadaran agama pada seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam kelakuan dan tindak agama orang itu dalam hidupnya (1970:15).[10] Persoalan pokok dalam psikologi agama adalah kajian terhadap kesadaran agama dan tingkah laku agama, (kata Robert H. Thouless: 11).[11]
Hasil kajian psikologi agama tersebut ternyata dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehidupan seperti untuk kepentingan politik, misalnya; dalam upaya mempertahankan polotik penjajahan Belanda di tanah air. Di bidang industri, ajaran agama mengandung nilai-nilai moral yang dapat menyadarkan para buruh / buruh dari perbuatan yang tak terpuji dan merugikan perusahaan. Dalam membangun negaranya, unuk membangkitkan perasaan dan kesadaran beragama. Dalam bidang psikoterapi, pengobatan pasien di rumah-rumah sakit dan penyuluhan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan. Demikian pula dalam lapangan pendidikan psikologi agama dapat difungsikan pada pembinaan moral dan mental keagamaan peserta didik.
Sejarah Perkembangan Psikologi Agama
Untuk menetapkan secara pasti kapan psikologi agama mulai dipelajari memang terasa agak sulit. Baik dalam kitab suci maupun sejarah tentang agama-agama tidak terungkap secara jelas mengenai hal itu. namun demikian, walaupun tidak secara lengkap, ternyata permasalahan yang menjadi ruang lingkup kajian psikologi agama banyak dijumpai baik melalui informasi kitab suci maupun sejarah agama.
Zakiah Daradjat (1970:12-13) menyatakan bahwa yang mula-mula berani mengemukakan hasil penelitiannya secara ilmiah tentang agama ialah Flazer dan Taylor. Mereka mengungkap berbagai macam agama primitif dan menemukan persamaan yang sangat jelas antara berbagai bentuk peribadatan dan peribadatan pada orang-orang Primitif, seperti pengorbanan karena dosa warisan, keingkaran, hari berbangkit dan sebagainya. Hasil penelitian Frezer dan taylor tersebut telah membangkitkan perhatian ahli-ahli untuk memandang agama sebagai suatu aspek yang dapat diteliti dan dipelajari sebagaimana aspek-aspek lain dalam kehidupan manusia.
Sementara itu, Jalaluddin (2004:29) yang mengutip pernyataan Robert H Thouless (1992:29) mengemukakan bahwa, menurut sumber barat, para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian psikologi agama mulai popular sekitar akhir abad ke-19. Sekitar masa itu, psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagi alat untuk kajian agama.[12]
Menurut Robert H. Thouless, yang dikutip Jalaluddin  (2004:29-31),sejak terbitnya buku the varieties of religious experience tahun 1903, sebagai kumpulan dari materi kuliah William James di tempat universitas di Skotlandia, langkah awal dari kajian psikologi agama mulai diakui para ahli psikologi dan dalam jangka waktu tiga puluh tahun berikutnya,banyak buku lain diterbitkan sejalan dengan konsep-konsep yang serupa.[13] Diantara buku-buku tersebut adalah The Psychology of religion karangan E.D Starbuck, yang mendahului karangan williams james.buku E.D Starbuck yang terbit tahun 1899 ini kemudian disusul sejumlah buku yang lainnya seperti the spiritual Life oleh george Albert Coe, tahun 1900, kemudian the Belief in God and immortality 1921, oleh J.H Leuba dan oleh Robert H Thouless, dengan judul An Introduction, tahun 1923 serta R.A. Nicholson yang khusus mempelajari aliran sufisme dalam islam dengan bukunya Studies in Islamic Mysticism, tahun 1921.
Sejalan dengan perkembangan itu, para penulis non-barat pun mulai menerbitkan buku-buku mereka. Tahun 1947 terbit buku the song of God Baghavad Gita, terjemahan isherwood dan Prabhavananda, kemudian tahun 1952 Swami  Madhavananda menulis buku viveka chumadami of sancaracharya yang disusul oleh penulis India lainnya, Thera Nyanoponika dengan judul The Life of Sariptta 1966. Demikian pula, Swami Ghananada menulis tentang Sri Rama dengan judul Sri Ramakrisna, His Unique Massage 1946.
Di tanah air sendiri tulisan mengenai psikologi agama ini baru dikenal sekitar tahun 1970-an, yaitu oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat. Ada sejumlah buku yang beliau tulis untuk kepentingan buku pegangan bagi mahasiswa di lingkungan IAIN. Diluar itu, kuliah mengenai psikologi agama juga sudah diberikan, khususnya di Fakultas Tarbiyah oleh Prof. Dr. A. Mukti Ali dan Prof. Dr. Zakiah Daradjat sendiri. Kedua orang ini dikenal sebagai pelopor  pengembangan psikologi agama di IAIN di Indonesia.
Di luar itu, ada sejumlah tulisan yang berkaitan dengan psikologi agama ini. Tulisan tersebut dikembangan di lingkungan bidang kedokteran seperti yang dilakukan oleh Prof. Dr. Aulia maupun K.H. SS. Djam’an yang melakukan pendekatan dengan menggunakan ajaran agama Islam. Sedangkan, di bidang akademik tulisan-tulisan mengenai psikologi agama banyak dihasilkan oleh karangan gereja katolik.
Seperti dimaklumi, bawha psikologi agama tergolong cabang psikologi yang berusia muda, ilmu yang berdiri sendiri memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang. Selain itu, pada tahap-tahap awalnya psikologi agama di dukung oleh para ahli dari berbagai displin ilmu.
Sebagai displin ilmu boleh dikatakan, psikologi agama dapat dirujuk dari karya penulis Barat, antara lain karya Jonathan Edward, Emile Durcheim, Edward B. Taylor maupaun stanley Hall yang memuat kajian mengenai agama dan suku-suku primitif dan mengenai konversi agama. Sebaliknya, di dunia timur, khususnya di wilayah-wilayah kekuasaan islam, tulisan-tulisan yang memuat kajian tentang hal serupa belum sempat dimasukkan. Padahal, tulisan Muhammad Ishaq ibn Yasar di abad ke 7 Masehi berjudul Al-Syi’ar wa al-maghazi memuat berbagai fragmen dari biografi Nabi Muhammad saw. (ensiklopedi Islam, 1992:361) ataupun Risalah Hayy Ibn yaqzan fi Ashrar al-Hikmat al-masyriqiyyat yang di tulis oleh Abu Bakar Muhammad ibn Abd Al-Malin Ibn Tufail (1106-1185 M).
Demikian pula karya besar Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (1059-1111 M) berjudul Ihya’ ‘ulum al-Din, dan juga bukunya Al-Munqidz min al-Dhalal (penyelamat dari kesesatan) sebenarnya, kaya akan akan muatan permasalahan yang berkaitan dengan materi kajian psikologi agama. Diperkirakan masih banyak tulisan-tulisn ilmuan muslim yang berisi kajian mengenai permasalahan serupa, namun sayangnya karya-karya tersebut tidak sempat dikembangkan menjadi disiplin ilmu tersendiri, yaitu psikologi agama seperti halnya yang dilakukan oleh kalangan ilmuan barat.
Ada beberapa alasan yang dapat dijadikan penyebab. Pertama, sejak kemunduran Negara-negara Islam, perhatian ilmuan terhadap kepentingan perkembangan ilmu pengetahuan mulai menurun, karena bagaimanapun pengembangan ini memerlukan biaya yang cukup banyak. Kedua, sejak penyerangan bangsa mongol ke pusat peradaban Islam (Baghdad) dan kekalahan Islam di Andalusia, terjadi pemusnahan karya para ilmuan muslim.
Ketiga, sikap kurang terpuji dari para ilmuan barat sendiri (terutama setelah zaman kemunduran islam) yang umumnya kurang menghargai karya-karya ilmuan muslim. Seperti tulisan Nurcholish Madjid, ummat Islam yang telah dikalahkan oleh bangsa-bangsa Eropa (barat) adalah ummat yang dikagumi dan ditakuti namun, juga dibenci (Nurcholish Madjid, 1984:55). Keempat, karya-karya ilmuan muslim dizaman klasik umumnya, ditulis oleh para ilmuan yang dizamannya dikenal dengan sebutan yang berkonotasi keagamaan seperti mufassirin (ahli tafsir), muhaddisin (ahli hadits), fuqhaha (ahli fiqih), ataupun ahl al-hikmat (filosof). Dengan demikian, karya-karya mereka diidentikan dengan ilmu-imu yang murni agama (islam) atau filsafat.[14]
Lebih jauh, Marshall G.S Hodgson melihat hal itu disebabkan oleh faktor intern umat Islam sendiri. Menurutnya, masyarakat islam gagal memelopori kemodernan karena tiga hal, yaitu: 1) konsentrasi yang kelewat besar pada penanaman modal harta dan manusia pada bidang-bidang tertentu; 2) kerusakan hebat baik material maupun mental psikologis, akibat serbuan biadab bangsa Mongol; dan 3) kecmerlangan peradaban islam sebagai suatu bentuk pemuncakan abad agrarian membuat kaum muslim tidak pernah secara mendesak merasa perlu kepada peningkatan yang lebih tinggi.[15]
Setelah zaman kemunduran umat Islam secara politis, kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dipelopori oleh barat. Dengan demikian, tidak mengherankan jika- ilmu-ilmu modern, termasuk psikologi agama tumbuh dan berkembang sebagai sebuah disiplin ilmuyang independen, yang diakui terinformasikan sebagai produk ilmuan barat. Dan baru Negara-negara Islam terbebas dari kungkungan penjajah barat, secara bertahap muncul karya-karya ilmuan muslim.
Karya penulis Muslim di zaman modern, seperti buku Al-Maghary yang berjudul Tatawwur al-Syu’ur al-Diny ‘Inda Tifl wa al-Murahiq (perkembangan Rasa Keagamaan pada Anak dan Remaja), bagaimana pun dapat disejajarkan  dengan karya-karya yang dihasilkan oleh ahli-ahli psikologi agama lainnya. Selain itu juga,bukunya yang mulai mengkhusus  kepada disiplin ilmu tertentu, seperti Al-Nummuwu al-Nafsy (perkembangan kejiwaan). Kedua karya itu masing- masing diterbitkan tahun 1955-1957.
Karya lain yang lebih khusus mengenai psikologi agama adalah Ruh al-Din al-Islamy (jiwa agama islami) karangan Alif Abd Al-Fatah, tahun 1956. Demikian pula pada tahun 1963 terbit buku Al-Shihab al-Nafsiyah karangan Moustafa Fahmi. (Jalaluddin dan Ramayulis, 1994:10). Dan banyak lagi karya-karya ilmuan muslim tentang psikologi agama. Tetapi berdasarkan konteks kejiwaan, barangkali buku Tatawwur al-Syu’ur al-Diny ‘Inda Tifl wa al-Murahiq karya Abd Mun’im Abd Al-‘Aziz Al-Maghary, dapat dianggap sebagai awal dari munculnya kajian psikologi agama dikalangan ilmuan muslim modern.
Sejak menjadi disiplin ilmu sendiri, perkembangan pikologi agama dinilai cukup pesat, dibandingkan usianya yang masih tergolong muda. Hal ini anara lain disebabkan bidang kajian psikologi agama mencakup pemasalahan yang menyangkut perkembangan usia manusia, dan ternyata psikologi agamatermasuk ilmu terapan yang banyak manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Tampaknya, para ilmuan dan agamawan yang semula berselisih pendapat mengenai psikologi agama, kini seakan menyatu dalam kesepakatan yang tak tertulis, bahwa dalam kehidupan modern ini, peran agama sangat penting. Dan pendekatan psikologi agama dapat digunakan dalam memecahkan berbagai problema kehidupan yang dihadapi manusia sebagai makhluk yang memiliki nilai-nilai peradaban dan nilai moral.
 
Psikology agama menggunakan dua kata yaitu psikology dan agama. Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab. (jalaluddin, et al,1979:77). secara umum psikologi mencoba meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiawaan Karena jiwa itu sendiri  bersifat abstrak, maka untuk mempelajari kehidupan kejiwaan manusia hanya mungkin dilihat dari gejala yang tampak, yaitu pada sikap dan tingkah laku yang ditampilkannya.
Robert H. Thouless berpendapat bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologi yang dipungut dari kajian terhadap perilaku bukan keagamaan (1992:25). Menurut Zakiah Daradjat, psikologi agama meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besarpengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Disamping itu, psikologi agama juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang, serta factor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut (1970:11).
Berkenaan dengan hal ini, lebih lanjut, Zakiah Daradjat (1970:12-15) menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan agama yang dianut. Oleh karena itu, menurut Zakiah Drajat, ruang lingkup kajian psikologi agama meliputi:
1.      Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa (umum), seperti rasa lega dan tentram sehabis shalat; rasa lepas dari ketegangan bathin sesudah berdoa atau membaca ayat-ayat suci; perasaan tenang, pasrah dan menyerah setelah berdzkir dan ingat kepada allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan.
2.      Bagaimana pengalaman dan perasaan seseorang secara individual terhadap tuhannya, misalnya rasa tentram dan kelegaan bathin.
3.      Mempelajari, meneliti dan menganalisispengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (akhirat) pada tiap-tiap orang.
4.      Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan syurga dan neraka, serta dosa dan pahala yang turut member pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
5.      Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat-ayat suci untuk kelegaan bathinnya.
Zakiah Daradjat (1970:12-13) menyatakan bahwa yang mula-mula berani mengemukakan hasil penelitiannya secara ilmiah tentang agama ialah Flazer dan Taylor. Mereka mengungkap berbagai macam agama primitif dan menemukan persamaan yang sangat jelas antara berbagai bentuk peribadatan dan peribadatan pada orang-orang Primitif, seperti pengorbanan karena dosa warisan, keingkaran, hari berbangkit dan sebagainya. Hasil penelitian Frezer dan taylor tersebut telah membangkitkan perhatian ahli-ahli untuk memandang agama sebagai suatu aspek yang dapat diteliti dan dipelajari sebagaimana aspek-aspek lain dalam kehidupan manusia.
Sementara itu, Jalaluddin (2004:29) yang mengutip pernyataan Robert H Thouless (1992:29) mengemukakan bahwa, menurut sumber barat, para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian psikologi agama mulai popular sekitar akhir abad ke-19. Sekitar masa itu, psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagi alat untuk kajian agama.
Daftar Bacaan
·        Jalaluddin, H. Prof. Dr. (Ed. Rev,-9). Psikologi Agama, Jakarta, PT.Raja Grafindo Persada, 2005.
·        Arifin Syamsul Bambang, M.Si. Drs. (Ed. 1). Psikologi Agama, Bandung, CV. Pustaka Setia, 2008.