Minggu, 31 Maret 2013

Teologi Islam dan Problem Ketuhanan di Zaman Modern

by mutawalli

Masalah yang sedang dihadapi umat Islam pada zaman sekarang merupakan masalah yang sangat serius. Disamping masalah pemikiran, problem tentang ketuhanan pun menjadi tantangan yang harus di hadapi oleh umat Islam. masalah dan problem tersebut tidak lepas dari peranan bangsa Barat yang sangat gencar mempengaruhi pemikiran umat Islam. berbagai bidang ilmu pengetahhuan barat banyak dimasukan bahkan diaplikasikan dalam keilmuan Islam, diantaranya tentang teologi.
Islam merupakan agama yang mempunyai peradaban ilmu paling maju dan banyak memberikan kontribusi kepada perkembangan ilmu pengetahuan yang ada di Barat. Dalam khazanah ilmu pengetahuan Islam sendiri, terdapat banyak macam bidang ilmu yang merupakan produk asli agama Islam. diantara bidang – bidang ilmu tersebut adalah Ilmu Kalam atau istilah lain adalah teologi dan para teolog Islam biasa disebut dengan mutakallimin atau ahli kalam. Disebut Ilmu Kalam karena ilmu ini membahas tentang kalam atau wahyu Tuhan.
 Adapun kata teologi, merupakan istilah yang diambil dari Yunani dan terdiri dari dua kata yaitu theos yang berarti Tuhan dan logos yang berarti ilmu. Jadi, teologi merupakan ilmu tentang Tuhan atau ilmu ketuhanan. Adapun pokok pembahasan yang ada dalam teologi adalah Tuhan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya.[1]

Aliran Teologi dalam Islam
            Beberapa aliran yang membahas tentang teologi atau ilmu kalam dalam Islam sangat banyak, diantara aliran – aliran tersebut adalah Khawarij, Jabbariyah, Qadariyah, Syi’ah, Murji’ah, dan Mu’tazilah. Aliran Khawarij berpendapat bahwa mereka mensucikan Dzat Ilahiayah dan menolak sifat – sifat Allah, maka dari itu mereka menyatakan bahwa sifat merupakan Dzat itu sendiri.[2] Adapun aliran Jabbariyah berpandangan bahwa mereka menolak sifat Kalam bagi Allah SWT, karena Kalam merupakan sifat dari makhluk.[3]
Selain dua aliran tersebut ada beberapa aliran yang lain dalam memandang masalah ketuhanan dalam Islam atau ilmu kalam. Aliaran tersebut dalah aliran Mu’tazilah yang didirikan oleh Wasil bin Atho’. Dalam masalah ketuhanan mereka mempunyai konsep sendiri, konsep tersebut biasa disebut dengan Al-Usul Al-Khamsah yaitu Tauhid, Al-‘Adlu, Al-Wa’du wa Al-Wa’id, Al-Manzil baina Manzilatain dan Al-Amru bil Ma’ruf wa An-Nahyu ‘An Al-Munkar. Dalam salah satu konsepnya yaitu Tauhid, mereka berbicara banyak tentang ketuhanan. Diantara pendapatnya yaitu الصفات عين الذات: artinya bahwa sifat Allah tidak terpisah dari dzat-Nya. Untuk mempertegas konsepnya ini, Mu’tazilah menjelaskan bahwa الله عالم بالعلم هو هو  artinya Allah Maha Mengetahui dengan ilmu-Nya, sifat ilmu adalah dzat-Nya.[4]
Banyak para ulama yang tidak setuju dengan pendapat yang dimilki oleh Mu’tazilah. Al-Asy’ari membuat rumusan yang lain yaitu الصفات قائمة بالذات أزلية atau diringkaskan لا هي هو ولا هي غيره  artinya bahwa sifat – sifat ilahiyah itu bukan dzat-Nya, dan bukan selain dzat-Nya.[5] Dari pernyataan tersebut timbul pertanyaan, apakah sifat – sifat ilahiyah itu ain dzat, atau di luar dari dzat? Al-Syahrastani menjawab dengan menampilkan perkataan Al-Asy’ari dengan konsepnya yaitu هي هو, ولا غيره, ولا ولاهو, ولا لا غيره  artinya sifat adalah dzat dan bukan yang lainnya, bukan bukan, Ia bukan yang lain.[6]

Aliran – Aliran Dalam Konsep Ketuhanana
Sebelum memasuki kedalam permasalahan tentang ketuhanan, ada baiknya kita sedikit banyak membahasah tentang beberapa aliran dalam konsep ketuhanan yang telah berkembang dari satu fase ke fase yang lain. Diantara aliran tersebut adalah Teisme, Tuhan menurut aliran ini berada di alam atau immanent dan Dia juga jauh dari alam atau transendent. Adapun ciri lain dari teisme adalah mereka menegaskan bahwasannya Tuhan setelah proses penciptaan alam selesai, Dia tetap aktif dan selalu memelihara alam. Agama – agama besar pada dasarnya penganut paham teusme, seperti Yahudi, Kristen, dan Islam.[7] Tokoh Kristen yang mengemukakan gagasan ini ialah St. Augustinus. Menurutnya, Tuhan ada dengan sendirinya (self – existing), tidak diciptakan, tidak berubah, abadi, bersifat personal yang terdiri dari tiga person, yaitu Bapak, Anak dan Roh kudus.[8] Konsep teisme dalam Islam dijelaskan oleh Al-Ghazali. Menurutnya, Allah adalah Zat yang Esa dan pencipta alam serta berperan aktif dalam mengendalikan alam. Yang dimaksud Esa menurutnya adalah kembali kepada penetapan dzat-Nya.[9] Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menjelaskan tentang Tuhan yang Esa, diantaranya QS 112: 1 yang artinya “Katakanlah wahai Muhammad, Dia (Allah) adalah satu”. Adapun ayat yang menunjukkan bahwa Allah bersifat transendent dan immanent adalah QS 10: 3 yang artinya “Sesungguhya Tuhan kamu adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur semua urusan”
Aliran dalam konsep ketuhanan yang berikutnya adalah Deisme. Menurut paham ini,Tuhan berada jauh di luar alam dan setelah menciptakan alam, Dia tidak memperhatikan alam dan memeliharanya lagi. Alam berjalan sesuai dengan peraturan – peraturan yang telah sempurna yang telah ditetapkan ketika proses penciptaan dan peraturan – peraturan tersebut tidak berubah – ubah. Tokoh yang mempelopori munculnya aliran ini ialah Newton (1642-1727). Menurutnya, Tuhan hanya pencipta alam dan apabila ada kerusakan, alam tidak membutuhkan Tuhan untuk memperbaikinya karena alam sudah memiliki mekanisme sendiri untuk menjaga keseimbangan.[10]  
Aliran yang selanjutnya adalah Panteisme. Aliran ini berpendapat bahwa seluruh alam ini adalah Tuhan dan Tuhan adalah seluruh alam, termasuk benda –benda yang bisa ditangkap oleh panca indra seperti manusia, binatang, tumbuh –tumbuhan, dan benda mati adalah bagian dari Tuhan. Dalam agama Islam, paham ini biasa disebut dengan Wihdatut al-wujud (kesatuan wujud) yang dikenalkan oleh Ibnu al-‘Arabi. Disamping  memiliki persamaan, keduanya juga memiliki perbedaan, yaitu dalam panteisme alam adalah Tuhan dan Tuhan adalah alam akan tetapi dalam wihdat al-wujud alam bukan Tuhan tetapi bagian dari Tuhan. Bisa disimpulkan bahwa dalam wihdat al-wujud alam dan Tuhan tidak identik, sedangkan dalam panteisme alam dan Tuhan identik.[11]

Keraguan Terhadap Eksistensi Tuhan
            Pada Zaman Pertengahan yaitu antara abad lima belas dan enam belas Masehi, agama Kristen sangat mendominasi bangsa Barat. Dengan sangat otoriternya, mereka menindak para ilmuwan yang berbeda pendapat dengan doktrin Gereja. Diantara para ilmuwan tersebut ialah Nicolaus Copernicus (1473 – 1543) dengan teorinya tentang heliocentris. Dia mengatakan bumi berputar pada porosnya, bahwa bulan berputar mengelilingi matahari dan bumi, serta planet-planet lain semuanya berputar mengelilingi matahari.[12] Akan tetapi teori Copernicus tersebut sangat bertentangan dengan doktrin yang ada dalam ajaran Gereja pada saat itu. Gereja berpendapat bahwa pusat dari tata surya ini adalah bumi atau biasa disebut dengan geocentris. Tepat pada tanggal 24 Mei 1543, Copernicus dijatuhi hukuman mati oleh Gereja karena teorinya bertentangan dengan ajaran Gereja.[13]
            Setelah Zaman Pertengahan atau yang biasa disebut dengan Zaman Kegelapan (Dark Ages), muncul periode Pencerahan (Renaissance). Pada periode ini, berbagai ilmu di Barat banyak berkembang dan juga periode ini menandakan awal dari Zaman Modern. Adalah David Hume (1711–1776) tokoh filsafat barat yang yang mengembangkan filsafat Empirisme. Dia berpendapat bahwa manusia tidak perlu mengunyah tafsiran ilmiah tentang realitas serta alasan filosofis untuk mempercayai sesuatu di luar jankauan indra dan Hume membuang argumen yang berusaha membuktikan eksistensi Tuhan dari ketertataan alam, dengan menyatakan bahwa hal itu didasarkan pada argumen analogis yang tidak konklusif.[14] Dengan kata lain, Hume menolak hukum Kausalitas seperti adanya alam ini disebabkan oleh adanya Tuhan.
            Selain Empirisme, filsafat Positivisme yang dikembangkan oleh August Comte (1798–1857) pun mempunyai pengaruh besar di Zaman Modern. Menurut Comte, sejarah perkembangan alam pikir manusia terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap teologik, tahap metaphisik, dan tahap positif.[15] Dalam pandangannya tentang Tuhan, Comte mempunyai pendapat bahwa agama atau Tuhan tidak bisa dilihat, diukur dan dibuktikan, maka Tuhan tidak mempunyai arti dan faedah karena suatu pernyataan akan dianggap benar oleh positivisme apabila pernyataan itu sesuai dengan fakta.[16] Ludwig Andreas Feuerbach (1804-1872) yang sepaham dengan Comte memiliki pandangan yang lebih positif tentang manusia, ia ingin mencampakan Tuhan yang telah menyebabkan menyebarnya rasa putus asa di masa silam.[17]
            Karl Heinrich Mark (1818–1883) tokoh Materialisme dan pencetus Komunisme, memandang agama sebagai desahan makhluk yang tertekan dan candu masyarakat. Selain itu, Mark menegaskan bahwa kepercayaan kepada Tuhan atau dewa – dewa adalah lambang kekecewaan atas kekalahan dalam perjuangan kelas. Kepercayaan tersebut adalah sikap yang memalukan yang harus dienyahkan, bahkan dengan cara paksaan.[18] Dia sendiri mengaku sebagai seorang ateis yang radikal dengan mengatakan “saya membenci segala Tuhan”.[19] Tokoh yang lebih ekstim dalam memandang Tuhan selain Mark adalah Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844–1900). Keyakinan yang mendasari Nietzsche adalah bahwa Tuhan telah mati dan segala dewata sudah mati, hanya manusia ataslah yang masih hidup.[20] Dia mengumumkan ini dalam tamsil tentang orang gila yang berlari ke pasar pada suatu pagi, meneriakan, “aku mencari Tuhan!” ketika seorang penonton dengan pongah bertanya ke mana menurutnya Tuhan pergi, apakah Dia melarikan diri atau mungkin pindah?, orang gila itu menatap tajam kearah mereka. “‘Kemana Tuhan pergi?’ dia bertanya.’aku ingin mengatakan kepada kalian, kita telah membunuhnya – aku dan kalian! Kita semua adalah pembunuhnya!”.[21]



Suatu Kesimpulan
            Setelah mengenal sedikit banyak tentang aliran - aliran teologi dalam Islam dan beberapa aliran konsep ketuhanan serta pendapat para tokoh Barat dalam memandang Tuhan, maka kita akan mengetahuhi bagaimana konsep ketuhanan yang begitu komplek yang ada dalam Islam dengan berbagai pendapat yang ada di dalamnya, serta pengertian – pengertian dalam konsep ketuhanan yang telah berkembang dari satu fase ke fase yang lainnya dan keraguan serta penolakan terhadap Tuhan. Semuanya menjadi sebuah keberagaman dalam memandang wujud Tuhan. Islam dengan aliran – aliran Kalam dan perbedaan pendapat di dalamnya, mampu mempersatukan umat dibawah naungan ke-Esaan Allah SWT. Teisme, Deisme dan Panteisme mampu memberikan contoh dari pengertian dalam konsep ketuhanan kepada umat Islam agar bisa membedaka satu dengan yang lainnya.
Berbagai disiplin ilmu serta paham ideologi yang berkembang  di Barat banyak ditawarkan kepada umat Islam, menjadi sebuah tantangan dalam memahami arti dari eksistensi Tuhan. Sebagian dari mereka berpandangan bahwa wujud Tuhan tidak benar dan tidak dapat dibuktikan keberadaanya, karena suatu kebenaran diukur dari fakta yang ada. Pencampakan Tuhan serta berkeyakinan kepada-Nya adalah sikap yang memalukan, merupakan suatu problem yang sedang dan akan dihadapi oleh umat islam di Zaman Modern ini. Untuk membentengi dari itu semua, umat Islam sadar bahwa paham ideologi tersebut berasal dari Barat dan bertolak belakang dengan ajaran Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalilahia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS 4:59). Wallahul muta’an...







Daftar Pustaka
Amstrong, Karen, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Orang – Orang Yahudi, Kristen dan Islam, terj: Zaimul Am, (Bandung: Mizan Pustaka, 2007)
Bakhtiar, Amsal, Filsafat Agama: Wiasta Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, (Jakarta: Rajawali Press, 2009)
Geisler, Norman L. dan Williams D. Watkins, perspectives Understandingand Evaluating Today’s World Views, (California: Here’s Life Peblisers, Inc, 1984)
Hart, Michael H., Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, terj: H. Mahbub Djunaidi (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1982)
Mudhofir, Ali, Kamus Filsafat Barat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar)
Muslih, Muhammad, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, 2004)
Pals, Daniel L., Dekonstruksi kebenaran: Kritik Tujuh Teori Agama, terj: Inyiak Ridwan Munir (Yogyakarta: IRCiSoD, 2005)
Ya’qub, Hamzah, Filsafat Agama Titik Temu Akal dan Wahyu, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991)
Zarkasyi, Amal Fathullah, ‘Aqidah Al-Tauhd ‘Inda Al-Falasifah wa Al-Mutakallimin wa As-Sufiyah, (Ponorogo: Darussalam University Press, 2008)
----------, Kuliah Tentang Konsep Tauhid Dalam Perspektif Filsafat, Ilmu Kalam dan Tasawwuf, (Ponorogo: Fakultas Ushuluddin ISID, 2006)
----------, Ilmu Al- Kalam: Tarikhul Madzahib Al-Islamiyyah wa Qodloyaha Al-Kalamiyyah, (Ponorogo: Darussalam University Press, 2006)


[1] Hamzah Ya’qub, Filsafat Agama Titik Temu Akal dan Wahyu, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991) hal. 10
[2] Amal Fathullah Zarkasyi,  Ilmu Al- Kalam: Tarikhul Madzahib Al-Islamiyyah wa Qodloyaha Al-Kalamiyyah, (Ponorogo: Darussalam University Press, 2006) hal. 47
[3] Ibid., hal. 50
[4] Amal Fathullah Zarkasyi, Kuliah Tentang Konsep Tauhid Dalam Perspektif Filsafat, Ilmu Kalam dan Tasawwuf, (Ponorogo: Fakultas Ushuluddin ISID, 2006) hal. 7
[5] Ibid., hal. 12
[6] Ibid., hal. 13
[7] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama: Wiasta Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, (Jakarta: Rajawali Press, 2009) hal. 81
[8] Norman L. Geisler dan Williams D. Watkins, perspectives Understandingand Evaluating Today’s World Views, (California: Here’s Life Peblisers, Inc, 1984) hal. 23. Lihat juga Ibid., hal. 84
[9] Amal Fathullah Zarkasyi, ‘Aqidah Al-Tauhd ‘Inda Al-Falasifah wa Al-Mutakallimin wa As-Sufiyah, (Ponorogo: Darussalam University Press, 2008) hal. 96
[10] Bakhtiar, Op.cit., hal. 89
[11] Bakhtiar, Op.cit., hal. 94
[12] Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, terj: H. Mahbub Djunaidi (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1982)
[13] Hart, Ibid hal.
[14] Karen Amstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Orang – Orang Yahudi, Kristen dan Islam, terj: Zaimul Am, (Bandung: Mizan Pustaka, 2007) hal. 441
[15] Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, 2004) hal. 109
[16] Bakhtiar, Op.cit., hal. 116
[17] Amstrong, Op.cit., hal 451
[18] Daniel L. Pals, Dekonstruksi kebenaran: Kritik Tujuh Teori Agama, terj: Inyiak Ridwan Munir (Yogyakarta: IRCiSoD, 2005) hal. 201
[19] Bakhtiar, Op.cit., hal. 124 - 125
[20] Ali Mudhofir, Kamus Filsafat Barat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hal. 375
[21] Amstrong, Op.cit., hal. 458