Minggu, 24 Maret 2013

Psikologi Agama : Kepribadian dan Sikap Keagamaan


Kepribadian dan Sikap Keagamaan
A.     Ciri-ciri Sikap Beragama Pada Masa Remaja
Berbagai macam dilakukan oleh remaja untuk mengekspresikan jiwa keberagamaannya. Hal ini tidak terlepas dari pengalaman beragama yang dilaluinya.
Terdapat 4 sikap remaja dalam beragama, yaitu:
·      percaya ikut-ikutan
·      percaya dengan kesadaran
·      percaya, tetapi agak ragu-ragu
·      tidak percaya atau cendrung pada atheis[1]
B.      Ciri-ciri Sikap Beragama Pada Masa Dewasa
Sejalan dengan tingkat perkembangan usianya, sikap keberagamaan pada masa dewasa mempunyai ci-ciri sebagai berikut:
1.        Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan.
2.        Cendrung bersifat realis.
3.        Bersikap positif terhaap ajaran dan norma-norma agama .
4.        Bersifat lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.
5.        Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri sehingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
6.        Bersifat lebih kritis terha maeri ajaran agama sehingga kemantpan beragama didasarkan pad pertimbangan pikiran dan pertimbangan hati nurani.
7.        Cendrung mengarah pada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakan agama yang diyakininya.
8.        Terlihat adanya hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial.[2]
A.     Tipe-tipe Kepribadian
Secara garis besarnya pembagian tipe kepribadian manusia ditinjau dari beberapa aspek antara lain:
1.      Aspek Biologis
Aspek biologis, yangmempengaruhi tipe kepribadin seseorang ini didasarkan atas konstitusi tubuh dan bentuk tubuh yang dimiliki seseorang, tokoh-tokoh yang mengemukakan teorinya berdasarkan aspek biologis ini antaranya:
a.   Hippocrates dan Galenus
Mereka berpendapat bahwa yang mempengaruhi tipe kepribadianseseorang adalah jenis cairan tubuh yang paling dominan, yaitu: tipe choleris, melancholic, plegmatis, dan sanguinis.
b.  Kretchmer
Dalam pembagian tipe wataknya Kretchmer mendasarkan pada bentuk tubuih seseorang, yaitu: tipe astenis, piknis, atletis, dispastis.
c.   Sheldon
Membagi tipe kepribadian berdasarkan dominasi lapisan yang berbeda dalam bentuk tubuh sesorang. Berdasarkan aspek ini ia membagi tipe kepribadian menjadi: tipe ektomorph, mesomorph, endomorph.
2.      Aspek Sosiologis
Pembagian ini didasarkan kepada pandangan hidup dan kualitas social seseorang. Yang mengemukakan teorinya bedasarkan aspek sosiologi ini antara lain:
a.   Edward Spranger
Ia berpendapat bahwa kepribadian seseorang ditentukan oleh pandangan hidup mana yang dipilihnya. Berdasarkan hal itu ia membagi tipe kepribadian menjadi: tipe teoretis, ekonomis, estetis, social, politis, religious.
b.  Muray
Ia membagi tipe kepribadian menjadi:
·        Tipe teoritis, yaitu orang yang menyayangi ilmu pengetahuan, berpikir logis, dan rasional.
·        Tipe humanis, yaitu tipe orang yang memiliki sifat kemanusiaan yang mendalam.
·        Tipe sensasionis, yaitu tipe orang yang suka sensasi dan berkenalan.
·        Tipe praktis, yaitu tipe orang yanggiat bekerja dan mengadakan praktik.
c.   Fritz Kunkel
Membagi tipe kepribadian menjadi:
·        Tipe sachbelichkeit, yaitu orang yang banyak menaruh perhatian terhadap masyarakat.
·        Tipe Ichbaftigkeit, yaitu tipe orangyang lebih banyak menaruh perhatian kepada kepentingan diri sendiri.
3.      Aspek psikologis
Dalam pembagin tipe ini Prof. Heyman mengemukakan bahwa dalam diri manusia terdapat tiga unsur, yaitu:
a.   Emosionalitas, merupakan unsure yang mempunyai sifat yang yang didominasi oleh emosi yang positif.
b.  Aktivitas, yaitu aktifitas yang dikuasai oleh aktivitas gerakan.
c.   Fungsi skunder, yaitu sifat yang didominasi oleh kerentanan perasaan.
B.     Hubungan Kepribadian dan Sikap Keagamaan
1.        Struktur Kepribadian
·        Sigmund Freud
Merumuskan system kepribadian menjadi tiga system. Ketiga system ini dinamainya id, ego, dan super ego. Dalam diri orang yang memiliki jiwa sehat ketiga system itu bekerja dalam suatu susunan yang harmonis. Segala bentuk tujuan dan segala gerak geriknya selalu memenuhi keperluan dan keinginan manusia yang pokok. Sebaliknya, kalau ketiga system itu bekerja secara bertentangansatu sama lainnya, maka orang tersebut dinamai sebagai orang yang tidak dapat menyesuaikan diri. Ia menjadi tidak puas dengan diri dan lingkungannya.
·        H.J. Eysenck
Menurutnya kepribadian tersusun atas tindakan-tindakan dan disposisi yang terorganisasi dalam susunan hierarkis berdasarkan atas keumuman dan kepentingannya, diurut dari yang paling bawah ke yang paling tinggi adalah:
a.       Specific Response, yaitu tindakan atau respon yang terjadi pada suatu keadaan tertentu.
b.      Habitual response, yaitu respon yang berulang-ulang terjadi saat individu menghadapi kondisi atau situasi yang sama.
c.       Trait, yaitu terjadi saat habitual respon yang saling berhubungan satu sama lain, dan cendrung ada pada individu tertentu.
d.      Type, yaitu organisasi di dalam individu yang lebih umum dan mencakup lagi.
·        Sukamto M.M
Menurut pendapat Sukamto M.M. kepribadian terdiri dari empat system atau aspek, yaitu:
a.       Qalb (angan-angan kehatian)
b.      Fuad (perasaan atau hati nurani)
c.       Ego (aku sebagai pelaksana kepribadian)
d.      Tingkah laku (wujud gerakan)
C.     Dinamika Kepribadian
Selain tipe dan struktur, kepribadian juga memiliki semacam dinamika yang unsurnya secara aktif ikut mempengaruhi aktifitas seseorang. Unsur-unsur tersebut adalah:
1.      Energy ruhaniah yang berfungsi sebagai pengatur aktifitas ruhaniah seperti berpikir, mengingat, mengamati, dan sebagainya.
2.      Naluri, yang berfungsi sebagai pengatur kebutuhan primer seperti makan, minum, dan seks. Sumber naluri adalah kebutuhan jasmaniah dan gerak hati. Berbeda dengan energy ruhaniah, maka naluri mempunyai sumber (pendorong), maksud, dan tujuan.
3.      Ego (aku sadar), yang berfungsi untuk meredakan ketegangan dalam diri dengan cara melakukan aktifitas penyesuaian dorongan dorongan yang ada dengan kenyataan objektif. Ego memiliki kesadaran untuk menyelaraskan dorongan yang baik dan buruk sehingga tidak terjadi kegelisahan atau ketegangan batin.
4.      Seper ego, yang berfungsi sebagai penberi ganjaran batin baik berupa penghargaan maupun berupa hukuman. Penghargaan batin diperankan oleh ego ideal, sedangkan hukuman batin dilakukan oleh hati nurani.

[1] Sururin M.g, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004, hal. 72-76
[2] Jalaludin, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada,1996, hal. 95