Minggu, 24 Maret 2013

Sejarah Perkembangan Ilmu Psikologi Agama


Sejarah Perkembangan Ilmu Psikologi Agama

Menurut Zakiah (1970:11), sesungguhnya di dalam kitab suci setiap agama atau para tokoh keagamaan pun banyak sekali ayat dan isyarat yang berkenaan dengan proses jiwa atau keadaan jiwa seseorang yang terpengaruh agama. Umpamanya, di dalam agama Islam banyak sekali ayat Al-Quran yang menerangkan keadaan jiwa orang beriman dan orang kafir, sikap, tingkah laku, doa-doa, sampai masalah gangguan dan kesehatan mental. Kelainan-kelainan sikap yang terjadi karena kegoncangan kepercayaan pun banyak dibicarakan. Di antara ayat-ayat tersebut adalah Q.S. 51:56, Q.S. 2:30, Q.S. 31:12, Q.S. 30:30, Q.S. 6:76-78 dan lain-lain. Agama Budha yang berkenaan dengan pengalaman hidup Sidharta Gautama, seorang putra raja Kapilawastu, yang bersedia mengorbankan kemegahan dan kemewahan hidup untuk menjadi seorang pertapa. Hal ini menunjukkan bagaimana kehidupan batin yang dialaminya dalam kaitan dengan keyakinan agama yang dianutnya. Proses perubahan arah keyakinan agama ini mengungkapkan pengalaman keagamaan yang memengaruhi diri tokoh agama Budha (Jalaluddin, 2004:27).
Lebih lanjut, Zakiah (1970: 12-13) menyatakan bahwa yang mula-mula berani mengemukakan hasil penelitiannya secara ilmiah tentang agama ialah Frazer dan Taylor. Mereka mengungkap berbagai macam agama primitif dan menemukan persamaan yang sangat jelas antara berbagai bentuk peribadatan pada agama Kristen dan peribadatan pada orang-orang primitif. Hasil penelitian Frazer dan Taylor tersebut telah membangkitkan perhatian ahli-ahli untuk memandang agama sebagai suatu aspek kehidupan manusia yang dapat diteliti dan dipelajari sebagaimana aspek-aspek lain dalam kehidupan manusia.
Dari sini, ilmu jiwa mulai mengumpulkan bahan-bahan yang telah dikemukakan oleh para ahli itu, ditambah dengan penelitian riwayat hidup dan hasil karya ahli-ahli tasawuf dan ulama-ulama terkenal, termasuk juga hasil-hasil penelitian ahli-ahli sosiologi yang dapat menerangkan segi-segi sosial dalam agama.
Sementara itu, Jalaluddin (2004:29) yang mengutip pernyataan Thouless (1992:1) mengemukakan bahwa, menurut sumber Barat, para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian psikologi agama mulai populer sekitar akhir abad ke – 19. Sekitar masa itu, psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagai alat untuk kajian agama. Kajian semacam itu dapat membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berpikir, dan mengemukakan perasaan keagamaan.
Menurut Thouless, yang dikutip Jalaluddin (2004:29-31), sejak terbitnya buku The Varieties of Religious Experience tahun 1903, sebagai kumpulan dari materi kuliah William James di empat Universitas di Skotlandia, langkah awal dari kajian psikologi agama mulai diakui para ahli psikologi dan dalam jangka waktu tiga puluh tahun berikutnya.
Sejak itu, kajian-kajian tentang psikologi agama tampaknya tak hanya terbatas pada masalah-masalah yang menyangkut kehidupan keagamaan secara umum, melainkan juga masalah-masalah khusus. J.B. Pratt misalnya, dia mengkaji tentang kesadaran beragama melalui bukunya The Religious Consciousness (1920) dan Dame Julian yang mengkaji tentang wahyu dengan bukunya Revelations of Devine Love tahun 1901.
Di tanah air pun tulisan mengenai psikologi agama ini baru dikenal sekitar tahun 1970 – an, yaitu oleh Zakiah Daradja. Ada sejumlah buku yang ditulis olehnya sebagai buku pegangan, dia dan Mukti Ali juga menyampaikan perkuliahan mengenai psikologi agama, khususnya di fakultas Tarbiyah. Kedua orang ini dikenal sebagai pelopor pengembangan psikologi agama di IAIN di Indonesia.
Di luar itu, tulisan tersebut dikembangkan di lingkungan bidang kedokteran seperti yang dilakukan oleh Prof. Dr. Aulia maupun K.H. SS. Djam’an yang melakukan pendekatan dengan menggunakan ajaran agama Islam. Adapun, di bidang akademik, tulisan-tulisan mengenai psikologi agama banyak dihasilkan oleh kalangan gereja Khatolik.
Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa psikologi agama dapat dirujuk dari karya penulis Barat, antara lain karya Edward B. Taylor yang memuat kajian mengenai agama suku-suku primitif. Kajian sosiologi dan antropologi budaya ini menampilkan sisi-sisi kehodupan masyarakat suku primitif dan sikap hidup mereka terhadap sesuatu yang dianggap sebagai yang adikodrati (supernatural), meskipun pembahasannya masih bersifat umum, tak khusus menyangkut kehidupan psikologi agama secara individu.
Lebih jauh, Marshall G.S Hodgson, yang dikutip oleh Nurcholish (1984:54), melihat ketakberkembangan ilmu psikologi agama di dunia Timur (Islam) lebih disebabkan oleh faktor intern umat Islam sendiri. Menurutnya, masyarakat Islam gagal memelopori kemodernan karena tiga hal yaitu:
1. Konsentrasi yang berlebihan pada penanaman modal pada bidang-bidang tertentu, sehingga sulit melihat bidang lain;
2. Kerusakan hebat, baik material maupun mental psikologis, akibat serbuan biadab bangsa Mongol; dan
3. Kecermelangan peradaban Islam sebagai suatu bentuk pemuncakan Abad Agraria membuat kaum Muslimin tak segera merasa perlu melakukan peningkatan.
Terlepas apa penyebabnya yang paling tepat, kenyataan umat Islam mengalami kemunduran secara politis, kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dipelopori oleg Barat. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila ilmu-ilmu modern, termasuk psikologis agama tumbuh dan berkembang sebagai sebuah disiplin ilmu yang independen sebagai produk ilmuwan Barat. Dan baru setelah negara-negara Islam bebas dari kungkungan penjajah Barat, secara bertahap muncul karya-karya ilmuwan Muslim, seperti buku Al-Malighy yang berjudul Tatawwur al-Syu’ur al-Diny Inda Tifl wa al-Murahiq (Perkembangan Rasa Keagamaan pada Anak dan Remaja (1955)) dan Al-Nummuwu al-Nafsy (Perkembangan Kejiwaan (1957)). Buku ini dapat disejajarkan dengan karya-karya ahli psikologi.
Adapun di Indonesia, perkembangan psikologi agama dipelopori oleh tokoh-tokoh yang memiliki latar belakang profesi keilmuan, keagamaan dan kedokteran. Di antara karya-karya awal bersangkutan adalah buku Agama dan Kesehatan Badan/Jiwa (1965), karya Prof. Dr. H. Aulia, Islam dan Psikosomatik (1975), karya K.H. S.S. Djam’an dan Pengalaman dan motivasi Beragama: pengantar Psikologi Agama (1982), karya Dr. Nico Syukur Dister.
Adapun pengenalan psikologi agama di lingkungan perguruan tinggi (IAIN) dilakukan oleh Prof. Dr. H. A Mukti Ali dan Prof. Dr. Zakiah Daradjat. Akan tetapi, buku-buku yang khusus mengenai psikologi agama banyak dihasilkan oleh Prof. Dr. Zakiah daradjat, antara lain: Ilmu Jiwa Agama (1970), Peranan Agama dalam Kesehatan Mental (1970) dan Kesehatan Mental. Selain itu, tokoh ini pun banyak menghasilkan buku-buku yang mengacu kepada kajian psikologi agama.
Perkembangan psikologi agama dinilai cukup pesat, dibandingkan usianya yang masih tergolong muda. Hal ini antara lain disebabkan, selain bidang kajian psikologi agama menyangkut kehidupan manusia secara pribadi maupun kelompok, bidang kajiannya juga mencakup permasalahan perkembangan usia manusia. Selain itu, sesuai dengan bidang cakupannya.
Tampaknya, para ilmuwan dan agamawan yang semual berselisih pendapat mengenai psikologi agama, kini seakan menyatu dalam kesepakatan yang tak tertulis, bahwa dalam kehidupan modern ini, peran agama menjadi kian penting. Dan pendekatan psikologi agama dapat digunakan dalam memecahkan berbagai problema kehidupan yang dihadapi manusia sebagai makhluk yang memiliki nilai-nilai peradaban dan nilai moral (Jalaluddin (2004:34-36)).
Sejak abad sebelum Masehi, para ahli fikir Yunani dan Romawi seperti Socrates, Aristoteles, Plato, Galenus dan sebagainya, telah mempelajari hidup kejiwaan manusia. Mereka berfikir secara murni dan radikal atau sedalam-dalamnya; hanya sifat berfikir mereka masih spekulatif (bersifat dugaan). Corak berfikir mana apabila dibandingkan dengan perkembangan persyaratan ilmu pengetahuan modern sekarang, memang sangat lemah mutu ilmiahnya. Namun, walaupun demikian para pemikir tersebut telah meletakkan dasar keingintahuan bagi pemikir selanjutnya menyelidiki psikologi dengan metode-metode baru (waktu itu) seperti pengamatan, angket dan interview.
Beberapa pemikir pada abad ke 18 menghendaki agar metode penyelidikan psikologi memanfaatkan sebagian metode dalam ilmu pengetahuan alam. Metode-metode yang cermat seperti ekperimental dan laboratorial dapat dimanfaatkan guna menyelediki peristiwa-peristiwa jiwa, menggantikan atau melengkapi metode terdahulu. Relatif seirama dengan perubahan metode, terjadi pula perubahan dalam materi (pandangan) psikologi dari zaman ke zaman.
Bila dilihat dari perkembangan metode dan materi psikologi, maka psikologi dapat dibedakan dalam: psikologi yang dipengaruhi oleh filsafat, psikologi yang dipengaruhi oleh pengetahuan alam, psikologi yang berdiri sendiri dan psikologi pada abad 20.

DAFTAR PUSTAKA

Drs. Bambang Syamsul Arifin, “Psikologi Agama”. CV. Pustaka Setia, Bandung. 2008
Faisal Sanapiah “Dimensi-Dimensi Psikologi, Usaha Nasional, Surabaya.