Minggu, 24 Maret 2013

Pengaruh Media Televisi Terhadap Perkembangan Akhlak Anak

BAB I
PENDAHULUAN

Kehadiran televisi benar-benar layak diperhitungkan. Kini dia menjadi bagian terhormat bagi semua keluarga, tidak peduli miskin ataupun kaya. Si kotak ajaib ini selalu ditaruh pada tempat utama atau terbaik untuk sebuah keluarga, hampir tidak ada yang menaruh barang ini di kamar mandi, gudang, atau tempat yang tidak penting lainnya kecuali kalau sudah rusak dan tidak dipakai lagi.
Semua anggota keluarga akan duduk mengelilinginya tanpa sadar, memperhatikan apa yang dikatakan dan apa yang dimunculkan dari si kotak ajaib ini. Artinya pesawat TV mampu menjadi pusat perhatian tanpa kenal lelah dia kaan terus menjelaskan program-programnya kepada semua orang tanpa pilih kasih. Ia tidak pernah berontak, bisa dihidupkan kapan saja, dan dimatikan kapan saja. Seolah dia adalah barang penurut seratus persen.
Namun perangainya yang penurut itu, tanpa kita sadari bisa menjadi makhluk buas yang sangat sulit untuk dijinakkan. Bahayanya lagi korbannya tidak menyadari kalau dirinya sudah berada di bawah pengaruhnya sehingga akhirnya dia yang mengontrol pemilik dan penontonnya.





BAB II
PEMBAHASAN

A.    MEDIA TELEVISI
Pesawat televisi adalah sebuah benda mati yang hampir tidak punya pengaruh dan arti apa-apa tanpa sentuhan tangan manusia. Namun benda ini kini menjadi perdebatan yang panjang dalam berbagai diskusi, seminar, analisis, yang tidak pernah ada habisnya.
Benda ini menjadi begitu populer karena kesanggupannya menerima siaran dari pemancar yang membawa informasi audio dan visual. Kedatangannya disambut sebagai salah satu sarana hiburan, informasi, pendidikan, pembelajaran, kebebasan dan lain-lain
Namun tidak sedikit yang mengecam sebagai musuh berbahaya yang memberikan pengaruh sangat buruk akibat dampak tayangan yang ditampilkannya. Kehadiran televisi benar-bena layak diperhitungkan. Barang ini telah menjadi perdebatan nasional dan internasional sejak beberapa tahun lalu, ada yang pro maupun yang kontra.
Televisi kini menancapkan pengarunya secara langsung ataupun tidak langsung, pengaruh langsung yang kelihatan misalnya, banyak orang yang terlambat masuk kantor, terlambat bangun pagi, kelelahan, hilangnya jam-jam produktif, dan lain-lain.
Pengaruh tidak langsung yang pelan tapi pasti adalah perubahan perspepsi, nilai-nilai hidup, bahkan karakter pun lambat laun bisa berubah.[1]

Dampak-dampak Acara Televisi
Ada tiga dampak yang ditimbulkan acara televisi terhadap pemirsa/ penontonnya, yaitu:
1.      Dampak kognitif, yaitu kemampuan seseorang untuk menyerap dan memahami acara yang ditayangkan televisi yang melahirkan pengetahuan bagi pemirsa, misalnya acara kuis di televisi.
2.      Dampak peniruan, yaitu pemirsa dihadapkan pada trend aktual yang ditayangkan televisi, seperti model pakaian, model rambut dan bintang televisi yang kemudian digandrungi atau ditiru secara fisik.
3.      Dampak perilaku yaitu proses tertanamnya nilai-nilai sosial budaya yang telah ditayangkan acara televisi yang diterapkan dalam kehidupan pemirsa sehari-hari.[2]

B.     PENGERTIAN PERKEMBANGAN
Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati.
Pengertian lain dari perkembangan adalah “perbahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah/jiwa).
Para ahli mendefinisikan perkembangan sebagai berikut:
-     Harlock E.B menyatakan bahwa perkembangan dapat didefinisikan sebagai deretan progresif dari perubahan yang teratur dan koheren “progresif” menandai bahwa perubahannya terarah, membimbing mereka maju dan bukan mundur.[3]
“koheren” menunjukkan hubungan yang nyata antara perubahan yang terjadi dan yang telah mendahului atau mengikutinya.
-     Prof. Dr. F.J. Monks, Prof. Dr. A.M.P dan Dr. Siti Rahayu Hadinoto menjelaskan bahwa perkembangan menunjukkan suatu proses yang menuju ke depan dan tidak begitu saja dapat diulang.[4]
Dapat disimpulkan suatu definisi yang relevan bahwa perkembangan merupakan suatu proses yang dinamik, perubahan-perubahan yang bersifat kualitatif yang berkaitan dengan fungsi-fungsi psikis (kejiwaan) dan fisik (organ tubuh) dalam proses tersebut, sifat individu dan sifat lingkungan pada akhirnya berpengaruh terhadap tingkah laku apa yang akan diaktualisasikan oleh seseorang.

C.    PENGERTIAN AKHLAK
Menurut bahasa (etimologi) perkataan akhlak ialah bentuk jamak dari khuluq (khuluqun) yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Akhlak disamakan dengan kesusilaan, sopan santun. Khuluq merupakan gambaran sifat batin manusia, gambaran bentuk lahiriah manusia, seperti raut wajah, gerak anggota badan dan seluruh tubuh dalam bahasa Yunani khuluq ini disamakan dengan kata ethicos atau ethos, artinya adab kebiasaan, perasaan batin, kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan ethicos kemudian berubah menjadi etika.
Dalam kamus Al-Munjid, khuluq berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku ata tabiat. Akhlak diartikan sebagai ilmu tata krama, ilmu yang berusaha mengenal tingkah laku manusia, kemudian memberi nilai kepada perbuatan baik dan buruk sesuai dengan norma-norma dan tata susila.
Dilihat dari sudut istilah (terminologi) para ahli berbeda penapat. Namun, intinya sama yaitu tentang perilaku manusia, pendapat-pendapat ahli tersebut dihimpun sebagai berikut.
1.      Abdul Hamid mengatakan akhla ialah ilmu tentang keutamaan yang harus dilakukan dengan cara mengikutinya sehingga jiwanya terisi dengan kebaikan dan tentang keburukan yang harus dihindarinya sehingga jiwa kosong (bersih) dari segala bentuk keburukan.
2.      Ibrahim Anis mengatakan akhlak ialah ilmu yang objeknya membahas nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia dan disifatkan dengan baik dan buruknya
3.      Soegarda Poerbakawatja mengatakan akhlak ialah budi pekerti, watak, kesusilaan, dan kelakuan yang baik merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap khaliknya dan terhadap sesama manusia.
4.      Ahmad Amin mengatakan bahwa akhlak ialah kebiasaan baik dan buruk. Contoh: apabila kebiasaan memberikan sesuatu yang baik, maka disebut akhlakul karimah dan apabila perbuatan itu tidak baik maka disebut akhlakul madzmumah.
5.      Hamzah Ya’qub mengemukakan pengertan akhlak sebagai berikut:
a.       Akhlak ialah ilmu yang menentukan batas baik dan buruk, antara terpuji dan tercela, tentang pekataan atau perbuatan manusia lahir dan batin.
b.      Akhlak ialah ilmu yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajari pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka
6.      Imam Al-Ghazali mengatakan akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
7.      Farid Ma’ruf mendefinisikan akhlak sebagai kehendak jiwa manusia yang menimbulka perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.
8.      M. Abdullah Daraz, mendefinisikan akhlak sebagai suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan berkombinasi membawa kecenderungan pada pemikiran pihak yang benar (akhlak baik) atau yang jahat (akhlak buruk).
9.      Ibnu Miskawaih (w.1030 m) mendefinisikan akhlak sebagai suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang berbuat dengan mudah, tanpa melalui proses pemikiran atau pertimbangan (kebiasaan sehari-hari)
Jadi ada hakekatnya khuluq (budi pekerti) atau akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan membentuk kepribadian, dari sinilah timbul berbagai macam perbuatan dengan cara spontan tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pikiran.
Dapat dirumuskan bahwa akhlak ialah ilmu yang mengajarkan manusia berbuat baik dan mencegah berbuat jahat dalam pergaulannya  dengan Tuhan, manusia dan makhluk sekelilingnya.[5]

D.    PENGARUH MEDIA TELEVISI TEHADAP PERKEMBANGAN AKHLAK ANAK
Anak akan tumbuh maksimal jika banyak mendapatkan dekaan dan kasih sayang dari orang tuanya. Orang tua yang peduli akan dengan sabar memperhatikan pertumbuhan anak-anaknya sejak bayi. Mereka memberikan rangsangan gerak syaraf motorik maupun sensorik dengan berbagai terapi alami turun temurun.
Sikap oang tua kepada anak akan menentukan nilai kehidupan anak tersebut, anak ibarat anak panah di tangan pahlawan atau orang tuanya. Ia akan meluncur ke sasaran yang dikehendakinya, sekali salah meluncur anak panah tidak akan bisa ditarik kembali.
Ibarat kertas putih bersih, anak tergantung orang tuanya mau menulis hal apa pada kertas putih tersebut. Tulisan yang jelek, kacau, acak-acakan, membuat kertas itu tidak lagi enak dipandang, kurang berarti dan lebih banyak disisihkan. Sebaliknya jika tulisan dan gambar yang baik akan membuat kertas tersebut menarik perhatian dan dipasang di tempat-tempat penting.
Seringkali anak di bawah umur lima tahun, saat rewel atau menangis kadang susah untuk menghentikannya. Namun seringkali tangisan tersebut bisa berhenti jika didudukkan di depan pesawat televisi yang menyala. Mungkin para pengasuh bayi/anak akan berpikir bahwa masalah kerewelan telah selesai, tetapi sebenarnya masalah baru yang lebih besar muncul atau sedang terjadi. Karena televisi pada dasarnya bukanlah baby sitter yang baik atau ibu pengasuh yang baik, justru sebaliknya.
Membiarkan anak tumbuh kembang dengan membebaskannya menonton televisi sebebas-bebasnya sangat bahaya bagi perkembangan anak. Dampaknya memang tidak kelihatan secara langsung, namun jika kita jeli dan teliti dampaknya bisa kita rasakan.
Jka televisi menjadi baby sitter anak-anak, akan terjadi hal-hal, antara lain:
1.      Akan mempengaruhi pembentukan perilaku atau akhlak anak-anak
Pementukan perilaku anak didasarkan pada stimulus yang diterima melalui panca indra yang kemudian diberi arti dan makna berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan keyakina yang dimiliki.
Jika anak belum memiliki sebuah pemahaman tentang benar atau salah kemudian mereka melihat acara televisi yang penuh dengan adegan umpatan, eksploitasi seksualitas, kekerasan. Hal itu akan mereka anggap sebagai sebuah kebenaran baru. Bahayanya adalah jika kebenara baru tersebut bukanlah sebuah kebenaran yang sesungguhnya, maka tidak heran jika muncul berita anak yang awalnya tiak gagap mejadi gagap karena menonton acara televisi dan mengeluarkan pekataan-perkataan yang menyengat dan membuat jantung serasa mau copot. Misalnya, “orang tua menyebalkan, kurang ajar, bangsat atau segudang makian lainnya, bahkan kadang bukan hanya perkataan saja, tetapi juga disertai aksi yang tidak kalah mengagetkan, misalnya dengan membanting piring, gelas atau barang yang terdekat yang bisa diraihnya, berbicara dengan berteriak-teriak, mengancam, menendang ala kungfu master dan lain sebagainya.
2.      Peniruan karakter atau sikap oleh anak
Meniru adalah hal yang wajar bagi seseorang, sejak masa kanak-kanaknya, manusia adalah makhluk yang paling pandai menirukan di dunia dan pertama kali ia belajar adalah dengan menirukan (Aristoteles).
Anak meskipun tampaknya tidak memperhatikan, tetapi kamera yang dimilikinya selalu on atau merekam apa saja yang dilihat dan didengar. Banyak acara televisi yang ditayangkan untuk anak-anak, salah satunya adalah film kartun TV buatan Jeang, yaitu film kartun Crayon Sinchan yang disajikan juga dalam bentuk komik. Sinchan lebih banyak menampilkan sikap seorang anak kecil yang memerontak dan tidak menghormati orang tua. Perkataan-perkataan ingin tahunya kadang-kadang dengan fulgar bahkan terdengar kasar dan sangat tidak sopan.
3.      Hilangnya masa kanak-kanak yang ceria
Televisi adalah mesin perampas waktu, pencuri inisiatif dan pemusnah hubungan. Televisi membuat anak kurang berinteraksi dengan teman sebayanya dan lingkungannya. Masa kanak-kanak adalah masa ceria yang tidak akan terulang lagi seumur hidupnya. Masa bermain dan berinteraksi dengan teman-temannya, masa yang indah dan sulit untuk dilupakan. Pada masa inilah anak mengalami banyak perubahan dalam segi sosialisme, emosi, dan perkawanan. Jika porsi ini menjadi sangat sedikit karena waktu bermain mereka telah dirampas oleh televisi, maka akan sangat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan anak-anak.
4.      Mengurangi minat baca buku
Pengaruh lain di luar kejiwaan adalah pola perilaku yang sudah membudaya dalam diri di anak tanpa disadari oleh orang tua maupun anak anak itu sendiri. Salah satunya adalah “malas” untuk membaca buku-buku pelajaran, mereka lebih cenderung menonton televisi dengan film-film fantasi ketimbang membaca buku untuk kepentingannya sendiri, mata lelah akibat menonton televisi membuat anak-anak enggan dan tidak tertarik untuk membaca buku pelajaran atau buku-buku yang lain.
5.      Membuat terganggunya pola pikir anak
Pola piker adalah suatu proses yang panjang, pola pikir biasanya menjadi gaya hidup. Pola pikir seorang anak bisa berarti sikap seorang anak dalam memandang kehidupan atau cara mengatasi persoalan kehidupan anak-anak melihat di televisi seperti di dekat rumahnya sendiri dan nyata, padahal jaug dan kadang hanya ilustrasi atau animasi.
Televisi telah mengajari anak-anak pola pikir yang salah. Katakanlah jalan pintas dalam menghadapi masalah, uang untuk menyelesaikan masalah, kasih uang habis perkara, atau harga diri manusia tergantung jabatan dan kekayaannya, dan lai-lain. Jika pemikiran yang ditawarkan televisi ini tidak dicounter dengan pola pikir kehidupan yang benar, dampaknya sangat berbahaya.
Pola-pola seperti ini jelas pada akhirnya nanti akan mengganggu daya pikir anak serta kemampuan anak untuk berprestasi di sekolah, bahkan anak-anak akan lebih hafal judul-judul film di televisi ketimbang nama-nama yang ada dalam pelajaran sekolah.[6]
6.      Hilangnya waktu berharga dengan orang tua
Anak-anak akan bertumbuh cepat, siapa paling banyak memberi pengaruh ada anak akan sangat menentukan keberhasilan tumbuh kembangnya, hingga mencapai kedewasaan.
Keadaan yag terjadi saat ini adalah waktu yang sangat sulit. Banyak orang tua, khususnya ayah yang bekerja di luar kota besar, hanya mempunyai waktu yang sangat sedikit dengan anak-anaknya. Mereka harus bangun pagi, sebaliknya mereka pulang sudah cukup malam sehingga anak kecil mereka sudah tertidur, akibatnya waktu kebersamaan mereka untuk berinteraksi dengan anak sangat sedikit. Kondisi ini sangat menghawatirkan bagi tumbuh kembangnya anak, anak yang berkembang tanpa bimbingan bapak menjadi anak yang imperior, kurang percaya diri dan kurang berprestasi, bahkan kecenderungan mereka sangat besar jatuh dalam pergaulan bebas, seks bebas, minum-minuman keras sampai menggunakan narkoba.
Bagi sang anak televisi adalah sahabat baiknya selama ini, televisi baginya lebih banyak menghibur dan tidak pernah memarahinya, sang pembantu, ibu, ayah hanyalah diperlukan untuk meminta makanan kue atau baju dan kebutuhan maupun keinginan sang anak.
Pengaruh media terhadap anak makin besar, teknologi semakin canggih dan intensitasnya semakin tinggi, padahal orang tua tidak punya waktu yang cukup untuk memperhatikan, mendampingi, dan mengawasi anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya menonton televisi ketimbang melakukan hal lainnya.
Dalam seminggu anak menonton televisi sekitar 170 jam. Apa yang mereka pelajari selama itu? Mereka akan belajar bahwa kekerasan dapat menyelesaikan masalah, mereka juga belajar untuk duduk di rumah dan menonton, bukannya bermain di luar dan olahraga. Hal ini menjauhkan mereka dari pelajaran-pelajaran hidup yang penting, seperti bagaimana cara berinteraksi dengan teman sebayanya, belajar cara berkompromi dan berbagi di dunia yang penuh dengan orang lain.
Faktanya anak merupakan pemirsa yang paling rawan terhadap dampak negatif siaran televisi. Tidak semua acara televisi aman untuk anak, acara televisi anak dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori.
a.       Acara yang “aman”
Yaitu acara yang tidak mengandung adegan-adegan kekerasan, seks dan mistis. Acara ini dianggap aman karena kekuatan ceritanya yang sederhana dan mudah dipahami anak.
b.      Acara yang “Hati-hati”
Yaitu acara yang mengandung kekerasan, seks dan mistis, namun tidak berlebihan, tema cerita dan jalan cerita mungkin tidak/agak kurang cocok untuk anak usia SD sehingga harus didampingi ketika menonton.
c.       Acara yang “Tidak Aman”
Yaitu isi cerita banyak mengandung kekerasan, seks dan mistis, yang berlebihan, daya tarik yang utama ada pada adegan-adegan tersebut.
            Beberapa pengaruh pada anak akibat menonton televisi:
a.       Berpengaruh terhadap perkembangan anak
Terhadap perkembangan otak anak usia 0 – 3 tahun, dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, kemampuan membaca – verbal maupun pemahaman 5 – 10 tahun, meningkatkan agresifitas dan kekerasan serta tidak mampu membedakan antara realitas dan kenyataan.
b.      Mendorong anak menjadi konsumtif
Anak-anak merupakan target utama pengiklanan sehingga mereka menjadi konsumtif.

c.       Berpengaruh terhadap sikap
Anak yang banyak menonton televisi namun belum memiliki daya kritis yang tinggi. Besar kemungkinan akan terpengaruh oleh apa yang ditampilkan di televisi. Hal in akan mempengaruhi sikap mereka dan dapat terbawa hingga ia dewasa.
d.      Membentuk pola pikir yang sederhana
Terlalu sering menonton televisi dan jarang membaca, menyebabkan anak akan mempunyai pola pikr yang sederhana, kurang kritis, yang pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi, intelektualisasi, kreatifitas dan perkembangan kognitifnya.
e.       Mengurangi semangat belajar
Bahasa televisi simpel, memikat dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar.
f.       Mempengaruhi konsentrasi
Rentang waktu konsentrasi anak hanya sekitar 7 menit, persis seperti acara dari iklan ke iklan, hal ini akan dapat membatasi daya konsentrasi anak.
g.      Mempengaruhi kreatifitas
Dengan adanya televisi, anak-anak akan jarang bermain. Mereka menjadi manusia-manusia yang individualis dan sendiri-sendiri, setiap kali ia merasa bosan, mereka tinggal memencet tombol kontrol dan langsung menemukan hiburan, dengan menonton televisi mereka seakan-akan tidak mempunyai pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktifitas, dan ini membuat anak tidak kreatif.
h.      Merenggangkan hubungan antara keluarga
Kebanyakan anak-anak menonton televisi lebih dari 4 jam perhari, sehingga waktu untuk bercengkrama dengan keluarga terpotong.[7]
Beberapa upaya-upaya yang harus dilakukan untuk membantu agar anak memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri diantaranya:

-       Penataan lingkungan fisik
-       Penataan lingkungan sosial
-       Penataan lingkungan pendidikan
-       Dialog antara orang tua dengan anak
-       Penataan suasana psikolog
-       Penataan sosial budaya
-       Perilaku orang tua saat bersama dengan anak
-       Kontrol orang tua terhadap perilaku anak
-       Nilai moral dijadikan dasar berperilaku orang tua kepada anak
Interpretai terhadap penataan lingkungan fisik bertujuan untuk menyingkap nilai-nilai moral yang diapresiasikan anak terhadap bantuan yang diberikan orang tua kepada anaknya agar memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri. Perilaku anak yang memiliki prioritas kantor orang tua adalah perilaku-perilaku dalam merealisaikan nilai-nilai moral dasar di samping nilai-nilai moral lainnya.
Dalam mengontrol, kontrol yang dilakukan bukanlah memaksa atau mengindoktrinisasi tetapi bersifat mengingatkan dan menyadarkan sehingga anak senantiasa berperilaku taat nilai moral walaupun orang tua mereka sedang tidak berada di dalam rumah.
Kontrol yang diberikan dengan penuh kasih sayang, asuh dan kebijakan menyebabkan rasa keterpaksaan yang dialami anak pada awalnya lambat laun berkembang menjadi kesadaran diri. Mereka akan menyadari bahwa apa yang dikontrol orangtuanya semata-mata dilakukan demi kebaikan dan kemaslahatan dirinya.[8]

KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
-          Televisi merupakan sebuah media yang mempunyai peranan dalam kehidupan sehari-hari
-          Berbagai dampak yang ditimbulkan oleh acara televisi baik yang bersifat positif ataupun yang bersifat negatif
-          Perlunya upaya-upaya orangtua dalam membentuk dan mengembangkan dasar-dasar kedisiplinan pada anak
-          Terlepas dari pengaruh positif dan negatifnya televisi, pada intinya media televisi telah menjadi cermin budaya tontonan bagi pemirsa dalam era informasi komunikasi dan hiburan yang semakin berkembang pesat.



DAFTAR PUSTAKA

Mohayoni. Anak vs Media. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Sardjo, Drs. 1999. Psikologi Umum. Jawa Timur: PT. Gaoeda uana Indah.
Sochib, Moh., Drs. 1998. Pola Asuh Orang Tua. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Solehuddin, M.Sugeng 2007. Psikologi Perkembangan. Pekalongan: STAIN Press.
Wawan, Kuswandi, Drs. 1996. Komunikasi Massa. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Yatimin, M. Abdullah, Drs. 2007. Studi Akhlak. Jakarta: Amzah.